Connect with us

Perspektif Sufi: Guru itu Teladan

Uncategorized

Perspektif Sufi: Guru itu Teladan

Murid: Kyai, saya mau nyantri di sini, mau belajar tentang ikhlas.

Kyai: Yasudah, setiap hari kamu sapu halaman pesantren.

3 bulan kemudian

Murid: Kyai, kapan saya bisa mulai belajar?

Habib: Nanti.

6 bulan kemudian.

Murid: Kyai, kapan saya bisa mulai belajar?

Kyai: Nanti.

1 tahun kemudian.

Kyai: Kok sudah tak pernah nanya kapan mulai belajar?

Murid: Saya jalani saja ini sepenuh hati sampai Kyai mempersilahkan saya belajar.

Kyai: Yasudah, sana pulang, kamu sudah lulus, sudah punya ilmu ikhlas.

***

Fenomena seperti kisah di atas nyata di pesantren-pesantren tradisional. Metode pendidikan semacam itu tampaknya terinspirasi dari tradisi sufi.

Pertama, ilmu bukan hanya teori, tapi juga praktek. Tak ada santri yang bisa lulus hanya dengan teori, tapi harus praktek. Tapi memungkinkan sebaliknya, di mana seorang santri lulus dengan praktek saja. Sebab, dalam tradisi sufi, pengetahuan sejati hanya akan didapat dengan menjalani, bukan sekadar mempelajari. Seseorang takkan pernah benar-benar tahu apa itu kopi sebelum meminum kopi. Ia takkan benar-benar mengetahuinya dengan mendapatkan penjelasan tentang kopi: hitam, cair, dan lain-lain. Oleh karena itu, seorang sufi bukan menguraikan tentang Tuhan: nama, sifat, argumen bahwa ia wajib ada, dan lain-lain. Melainkan mengajak muridnya untuk “bertemu” Tuhan melalui ibadah dan muamalah. Begitulah seharusnya seorang guru dalam mendidik muridnya. Menurut Paulo Freire, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, sedangkan John Dewey menyebut pendidikan sebagai proses yang dilakukan agar ada perubahan pada murid. Persis seperti kisah di atas, ikhlas bukan sekadar penjelasan mengenai apa itu ikhlas, melainkan tuntunan untuk berbuat ikhlas.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad sebagai guru sejati umat Islam bukan hanya mengajar, tapi menjadi teladan. Ia mencontohkan keagungan akhlak pada dirinya agar diikuti oleh umatnya. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

(QS. Al-Ahzaab: 21)

Di samping itu, Allah memang murka pada orang-orang yang hanya berkata-kata tentang kebaikan, namun tak mempraktekkan apa yang dikatakannya.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (QS. Ash-Shaff: 2)

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

 

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Uncategorized

To Top