Connect with us

Kejawen itu Islam Tasawuf Jawa

Artikel

Kejawen itu Islam Tasawuf Jawa

Kejawen mengalami minimal dua kali ekslusi dari rahim Islam. Pertama, eksklusi dari pihak muslim puritan. Kedua, ekslusi dari kaum yang mengidentifikasi dan diidentifikasi sebagai santri. Apakah Kejawen bukan bagian dari Islam dan/atau kurang bernuansa santri? Tulisan ini memberi jawaban negatif untuk pertanyaan itu, dan menghadirkan tesis: “Kejawen adalah Islam Tasawuf Jawa”.

Dasar argumen tulisan ini adalah buku Damar Shashangka berjudul Induk Ilmu Kejawen: Wirid Hidayat Jati (Jakarta: Dolphin, 2014). Di buku tersebut, Shashangka mendefisikan Kejawen dengan terlebih dahulu membedakannya dari Jawa Dipa dan Jawa Buda.

Yang dimaksud dengan Jawa Dipa adalah ajaran asli Jawa yang jejaknya dapat dilihat dalam berbagai upacara Jawa (seperti tumpengan dll.) dan kepercayaan Jawa (seperti kepercayaan tentang roh leluhur, tempat-tempat keramat dan perhitungan primbon). (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 21-22)

Sebagian orang, seperti Agus Sunyoto dan B. Wiwoho, menyebut ajaran asli Jawa itu sebagai ‘Kapitayan’. Sebutan Kapitayan terkait dengan kepercayaan pada kekuatan gaib yang disebut dengan Taya. Manifestasi Taya disebut TU. Ketika TU hadir dalam kebaikan yang terang, Ia disebut TU-han. Ketika TU muncul dalam keburukan yang gelap, Ia disebut sebagai han-TU. Daya gaib TU dipercaya tersimpan di wa-Tu (batu), TU-k (mata air), TU-ban (air terjun) dan lain-lain. Maka, untuk-Nya, persembahan diberikan antara lain dalam bentuk TU-mpeng. TU positif yang diserap manusia disebut dengan TU-ah, sedangkan TU buruk yang diserap manusia disebut TU-lah. Manusia yang menerima TU secara paripurna pun disebut ra-Tu. (Wiwoho, Islam Mencintai Nusantara, h. 62-63).  

Menurut Shashangka, ‘Kapitayan’, yang berisi keyakinan tersebut, merupakan terjemahan dari kata ‘Kepercayaan’, yang populer di dekade 1980-an, seiring dengan keberadaan Penghayat Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Indonesia. Tapi apakah kepercayaan Jawa asli itu bernama Kapitayan atau Jawa Dipa (artinya pelita Jawa), tidak bisa dipastikan. Yang jelas, Kejawen bukan seratus persen Kapitayan atau Jawa Dipa. (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 22)

Kejawen juga bukan Jawa Buda. Sebab, Jawa Buda adalah campuran dari Jawa Dipa dengan agama Siwa dan agama Buddha Mahayana/Tantrayana/Wajrayana, yang berkembang pesat di masa Kerajaan Majapahit, lalu berpindah ke Bali. Di tangan Danghyang Dwijendra (rohaniawan Bali), Siwa-Jawa dan Buddha-Jawa dipisahkan dari rahim agama Jawa Buda, di mana unsur Siwa-Jawa yang lebih ditonjolkan, dan menjadi agama Tirtha, yang kemudian lebih dikenal sebagai agama Hindu Bali. (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h. 22-23).

Mengapa Kejawen bukan Jawa Dipa murni dan bukan Jawa Buda? Sebab, inti dari Kejawen adalah Wirid Hidayat Jati. Rujukan utama Kejawen itu berisi wejangan Sunan Kalijaga (separuhnya), delapan wali yang lain dan Ranggawarsita. Ajaran itu tidak ada di zaman Majapahit, apalagi sebelumnya. Kemunculannya setelah Majapahit tumbang. Penyusunnya yang pertama Sunan Kalijaga, yang kedua Sultan Agung, yang ketiga Raggawarsita, yang berikutnya Raden Tanaya. Isinya Islam Tasawuf berbalut budaya Jawa. Oleh karena itu, Kejawen bukan Jawa Dipa murni, bukan pula Jawa Buda, melainkan Islam Tasawuf Jawa yang menggabungkan mistisisme Islam dengan Jawa Dipa dan Jawa Buda. (Shashangka, Induk Ilmu Kejawen, h.23-28)

Hipotesis tersebut berjangkar pada isi Wirid Hidayat Jati. Permulaan buku tersebut adalah pemaparan tentang guru dan murid. (Bab 1-2) yang notabene ajaran tasawuf Islam (mūrid) yang selaras dengan ajaran Jawa Buda (santri). Selanjutnya, Wirid Hidayat Jati berisi hal ihwal tentang wirid, yang tidak melulu terkait dengan doa, melainkan wejangan yang bisa memancangkan pikiran bahkan diri kepada Tuhan.

Wirid Hidayat Jati memaparkan bahasan tentang Tuhan, manusia, alam semesta, relasi manusia dengan Tuhan dan semesta, serta beberapa doa dan ritual. Di situ, ajaran Islam tasawuf tingkat tinggi diintegrasikan dengan budaya Jawa, yang bernuansa Jawa Dipa dan Jawa Buda.

Misalnya, Jawa Dipa dan Jawa Buda menekankan semedi: menyatukan diri dengan kekuatan semesta. Di pihak lain, tingkat tertinggi relasi manusia dengan Tuhan versi Islam adalah iḥsân, yaitu merasa ‘dilihat’ dan ‘melihat’ Tuhan. Di Kejawen, yang tercatat di Wirid Hidayat Jati, tirakat tertinggi dalam berinteraksi dengan Tuhan disebut sebagai Salat Daim.

Secara istilah, Salat Daim (salat abadi) selaras dengan ayat Al-Quran (QS. Al-Ma`arij: 23). Tapi pengertian Salat Daim versi Kejawen tidak sekadar menjalankan shalat lima waktu dan shalat-shalat sunnah, melainkan senantiasa mengingat Tuhan tanpa putus dari bangun tidur hingga tidur lagi, yang dimulai dengan niat berbahasa Jawa di saat bangun tidur.

Bukankah Salat Daim ala Kejawen itu ibadah kepada Tuhan tingkat tinggi? Jika orang Kejawen melakukan ibadah tingkat tinggi yang selaras dengan Islam dan mengacu pada wejangan yang penuh ajaran tasawuf Islam, layakkah orang Kejawen dieklusikan dari Islam?[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Kosmologi dan Sirah Nabi versi Ibnu Arabi: Ulasan atas Syajarah Al-Kawn" (2019), "Fathurrabbani Syekh Abdul Qadir Al-Jailani" (2018), "Ar-Risalah Imam Syafi'i" (2018), "Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017, 2019), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Rahasia Asmaul Husna Ibnu Arabi" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015, 2017, 2019), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Surga Yang Allah Janjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top