Connect with us

Berislam dengan Logis: Islam itu Lawannya Kejahiliyahan (Kebodohan)

Ensiklopedi

Berislam dengan Logis: Islam itu Lawannya Kejahiliyahan (Kebodohan)

Ketika membahas masalah maulid di tengah segelintir orang yang fanatik menuduhnya bid’ah lantaran gagal paham, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki seperti dikutip dalam Mafahim Yajibu an Tushahhah mengutip salah satu perkataan Imam Syafi’i: Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tanpa daya.”

Kebodohan adalah sesuatu yang bukan hanya buruk karena bisa menutup subjeknya dari kebenaran, tapi membahayakan karena bisa membuat orang pintar tak berdaya. Ia adalah pangkal kerusakan. Kata Sayyidina Ali, lebih baik memiliki musuh pintar yang banyak daripada memiliki kawan satu yang bodoh. Sebab, betapapun pintarnya musuh, ia bisa dikalahkan dengan usaha pintar kita yang lebih.

Lagipula, dua orang atau dua kelompok yang benar-benar sama-sama pintar, mereka takkan bermusuhan dan berperang yang destruktif (membinasakan). Paling jauh keduanya hanya berlawanan yang justru konstruktif (membangun) karena saling berdialektika, adu argumen. Sesuatu yang positif bagi sebuah peradaban dan didukung serta dipuji oleh Al-Qur’an.

Oleh karena itu, salah satu misi utama Nabi Muhammad sebenarnya adalah melawan era kebodohan (jahiliyah) di masyarakat Arab kala itu. Karena kebodohan itulah yang bisa menjadi penghalang bagi dakwah Nabi.

Maka, Al-Qur’an sebagai mukjizat utama Nabi bagi umat juga tak jarang menuntun umat Islam agar berpikir, serta mengkritik mereka yang tak berpikir. Akal ‘pun dalam Islam disebut sebagai nikmat teragung yang diberikan Allah pada manusia.

Sebagaimana kata Imam Syafi’i, bisa jadi kepintaran akan kalah tak berdaya pada kebodohan. Sebab, kebodohan itu tak memiliki “aturan main”-nya. Berbeda dengan kepintaran yang berjalan di atas aturan berpikir yang disebut “logika”. Ia bisa dibaca, disanggah. Adapun kebodohan, ia tak bisa dibaca, ak bisa disanggah. Ia bergerak ngawur sesuai kemauan atau kepentingan subjeknya.

Lagi pula, masih mengacu pada perkataan Imam Syafi’i, kalau orang pintar ingin menang berdebat dengan orang bodoh, maka dia harus “menyamar” menjadi bodoh agar bisa melawan ke-ngawur-an dia yang bodoh itu dengan kebodohan serupa. Tapi, ketika orang pintar mencoba “menyamar” menjadi orang bodoh, bukankah yang palsu takkan pernah menang pada yang asli (yakni benar-benar bodoh)?

Namun, realitasnya, umat Islam kerap berpihak pada kebodohan dengan menafsir Islam sebagai dogma yang kaku, jumud, dan tertutup. Mereka menuduh kemajuan sebagai bid’ah. Bahkan, logika dianggap sesuatu yang haram atau minimal tak penting untuk dipelajari. Sehingga, paling jauh, Islam hanya dianggap sebagai ajaran ritualistik semata. Dan, menjadi Muslim berarti, kadang mengutip hadis tentang akan terasingnya Islam di akhir zaman, terasingnya hidup dari segala hiruk-pikuk dunia dengan segala kemajuannya. Sehingga segalanya menjadi salah kaprah: zuhud diartikan anti-dunia, jihad dipahami melawan masyarakat Barat, dan lain-lain.

Padahal, idealnya, sebagaimana diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah, berislam adalah menghadirkan kesempurnaan Islam bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin), dalam berbagai bidang: ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lain sebagainya. Sehingga kehadiran Islam dirasakan oleh dunia dan seluruh manusia sebagai suatu kekuatan positif yang mengubah dunia dari ragam kebodohan menuju kemajuan.Persis sebagaimana yang diteladankan Nabi melalui “Negara Madinah”-nya yang keagungan, kedamaian, dan ragam efek positifnya dirasakan kawan maupun lawan. Bukan justru memilih terasing dari yang lain atau mengasingkan yang lain. Kata kuncinya adalah bahwa Islam menciptakan kemaslahatan bagi semua.

Maka, jihad utama dalam Islam adalah melawan kebodohan. Begitulah yang Nabi lakukan pertama dan utama saat diutus Allah. Jika menjadi Muslim membuatmu bodoh, niscaya ada yang salah tentang Islam yang kau pahami. Karena jahiliyah bukanlah terminologi tentang sebuah zaman, ia adalah sifat yang bisa muncul dan menyelimuti zaman manapun, termasuk zaman ini.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top