Connect with us

Membela Hamzah Fansuri dari Tuduhan Sesat

Ensiklopedi

Membela Hamzah Fansuri dari Tuduhan Sesat

Hamzah Fansuri adalah sebuah nama, yang begitu besar jasanya, namun begitu kecil pengakuan atasnya. Ia sengaja dilupakan. Oleh mereka yang mengaggapnya sesat. Karya-karyanya dibakar. Hanya sedikit yang selamat, melalui tangan murid-muridnya, yang kenal persis ia sehingga tahu persis bahwa ia tak sesat sehingga penting menjaga apa yang tersisa darinya. Mereka menyalin karya-karyanya yang berhasil diselamatkan dari tragedi pembakaran.

Kata Abdul Hadi WM dalam karyanya “Tasawuf yang Tertindas”, jika sejarawan tak sanggup membuktikan kebearan Hamzah Fansuri, biarkan karya-karyanya sendiri yang akan menjadi saksi atasnya. Tulisan ini akan sedikit mengungkap salah satu sisi dari karya puisinya, yang insyaAllah bisa meyakinkan bahwa ia tak seperti yang dituduhkan. Hanya, mungkin ia lahir terlalu cepat sehingga orang-orang di zamannya gagal memahaminya.

Kutipan Al-Qur’an banyak terselip dalam larik-larik sajak Hamzah Fansuri. Rata-rata tentu ayat-ayat mutasyabihat, yang memang lebih memungkinkan untuk aktivitas itu, karena bisa dan luasnya medan takwil yang dimungkinkan atasnya.

Kutipan ayat terbanyak adalah pada XX MS Jak. Mal. No. 83 (J XX). Tak kurang dari 12 surat Al-Qur’an yang potongannya bisa dijumpai di sana. Selain juga hadis qudsi. Kadang, dalam satu bait puisi terdapat dua sampai tiga potongan ayat Al-Qur’an, yang dijalin dengan meletakkan kata-kata Melayu sebagai penghubung makna. Yang terakhr disebut adalah salah satu kekuatan puisi Hamzah Fansuri yang membuat sastra Melayu menempati posisi begitu tinggi dalam belantika sajak.

Lalu, bagaimana Hamzah Fansuri memposisikan ayat-ayat Al-Qur’an dalam sajak-sajaknya?

Pertama, sering kali ayat Al-Qur’an dalam sajak Hamzah Fansuri menduduki posisi utama, di mana sajak-sajaknya merupakan tafsir puitik terhadap makna esoterik ayat-ayat yang dikutip. Ini bisa jadi “keberatan” para mufassir yang cenderung formalistik dalam memahami tafsir sebagai ilmu. Namun, bukankah memang bahasa Al-Qur’an itu sendiri begitu puitis? Sehingga, usaha yang ditempuh oleh penyair semacam Hamzah Fansuri semacam usaha mengekalkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam gaya aslinya. Lagi pula, bukankah sajak kerap bisa lebih mendekati sebuah makna ketimbang pendekatan bahasa lain? Justru pendekatan tafsir yang formalistik kerap membuat Al-Qur’an menjadi sempit dan kaku pemaknaannya. Tentu bukan berarti salah. Tapi riskan terjadi reduksi atau setidaknya membuat semangat universal dan lintas zaman ayat itu menjadi “layu”.

Kedua, ayat-ayat dalam sajak-sajak menjadi tamsil atau citra simbolik yang memberi ilham pada penyair untuk menciptakan ungkapan-ungkapan puitik yang indah sebagai penjelasan tentang makna batin ayat-ayat tersebut. Jika yang pertama lebih berada pada koridor tafsir, maka yang kedua ini lebih berada di koridor takwil.

Ketiga, ayat-ayat Al-Qur’an berposisi sebagai metafor pinjaman yang dapat memperkuat pernyataan penyair. Dalam konteks ini, penyair secara tak langsung justru sedang meneguhkan kekuatan bahasa Al-Qur’an, sehingga ia bukan hanya tak perlu, tapi memang sulit atau bahkan mustahil diutak-atik (diterjemahkan, misalnya). Ia juga meneguhkan bahwa kadang sajak tak bisa menafsirkan Al-Qur’an dan justru Al-Qur’an yang menguatkan kandungan makna syair. Bahkan, penyair semacam Hamzah Fansuri kerap mengekalkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam bahasa aslinya untuk menyatakan bahwa pengalaman keruhanian dan gagasan yang dikemukakan bersumber dari Al-Qur’an, rujukan paling otentik dalam rangka penghayatan keagamaan dan sufistik seorang penyair Muslim.

Secara umum, ayat-ayat Al-Qur’an berperan sebagai cahaya yang menerangi penglihatan penyair dalam menyingkap makna hakiki dari ajaran-ajaran Islam. Mereka semacam berupaya untuk menjadikan ayat-ayat-Nya terbentang juga di puisi, selain di semesta dan diri kita sebagaimana dikatakan Al-Qur’an. Sehingga puisi menjadi medan turunnya ilham bagi penyair itu sendiri dan sebisa mungkin pada pembacanya jika mereka memahaminya secara tepat dan utuh.

Itulah Hamzah Fansuri dan syair-syairnya, di mana Al-Qur’an begitu sentral berperan sejak sebagai ilham (inspirasi), kebahasaan, hingga pembentukan jiwa kerohanian sang penyair itu sendiri. Masihkah ada yang menganggapnya sesat? Wallahu a’lam.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top