Connect with us

Sesat Pikir dalam Kampanye Berbasis SARA

Artikel

Sesat Pikir dalam Kampanye Berbasis SARA

Ada politisi yang mendulang suara dengan cara memainkan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Biasanya dia menyebarkan isu itu secara sembunyi-sembunyi. Di permukaan, dia tampak menerima berbagai pihak. Tapi di balik layar, dia menggerakkan mesin politiknya mempertegas perbedaan SARA untuk menjegal lawan.

Dalam segregasi itu, persona politisi yang berkontestasi dipandang dari sudut kesamaan dan perbedaan SARA. Publik didorong untuk melihat keburukan SARA liyan. Pandangan-pandangan stereotipe tentang SARA tertentu pun menjadi buah bibir hingga meng-viral.

SARA tertentu diasosiasikan dengan negativitas tertentu. Konsekuensi lanjutannya adalah orang yang ber-SARA tertentu pun dianggap beratribusi negativitas yang diasosiasikan itu. Apakah orang itu memiliki negativitas tersebut atau tidak, bukan merupakan faktor yang dipertimbangkan. Logika yang berlaku di situ hanyalah ‘pemastian sesuatu yang tidak pasti’ dengan argumen: sejauh X ber-SARA Y, maka X pasti Z, karena beberapa Y adalah Z.

Lebih dari sekadar memastikan sesuatu yang tidak pasti, argumen yang dibangun adalah argumen negatif berdasarkan kebencian. Dalam metode berpikir yang berorientasi pada kebenaran dan ketepatan (cq., logika), argumen semacam itu merupakan argumentum ad hominem: sesat pikir berupa penolakan yang ditopang kebencian. Seseorang ditolak bukan karena seseorang itu salah, tapi karena pribadi atau atribut orang tersebut dibenci.

Ketika yang dibenci adalah sesuatu yang esensial pada seseorang itu, maka sesat pikir yang dipertontonkan adalah abusive ad hominem.  Jika kebencian mengarah pada sisi aksidental seseorang itu, maka sesat pikir yang mencuat disebut circumstantial ad hominem. (Lih., Zainul Maarif, Logika Komunikasi, Jakarta: Rajawali Press, Cet. II, 2016, h. 187)

SARA adalah sesuatu yang esensial pada diri seseorang. Pada umumnya, SARA melekat begitu saja pada eksistensi seseorang tanpa dipilih. Seseorang lahir secara langsung mewarisi SARA orang tuanya. Setelah dewasa, dia mungkin pindah agama atau golongan, tapi dia tak bisa pindah ras dan suku, karena dua hal tersebut lebih melekat pada eksistensinya. Oleh karena itu, SARA, pada umumnya, merupakan hal yang esensial pada seseorang, dan membenci SARA merupakan abusive ad hominem.

Yang jadi persoalan, logiskah abusive ad hominem itu? Jawabannya: tidak! Sebab, di ranah logika, abusive ad hominem, di satu sisi, merupakan bagian dari argumentum ad hominem.  Di sisi lain, argumentum ad hominem merupakan sesat pikir alias fallacy.

Mengapa kebencian pada sisi esensial seseorang dalam menolak seseorang merupakan sesat pikir? Sebab, esensi yang melekat begitu saja pada seseorang tidak terkena penilaian benar atau salah.

Kita tidak bisa ‘menyalahkan’ seseorang yang lahir dari SARA tertentu, sebagaimana kita tidak bisa ‘membenarkan’nya. Yang dimaksud ‘menyalahkan’ di sini adalah ‘menganggapnya pasti benar’, sementara maksud dari ‘membenarkan’ di sini adalah ‘menganggapnya pasti benar’. Seseorang tidak bisa disalahkan atau dibenarkan semata-mata karena orang itu ber-SARA tertentu.

Ketika kita menganggap seseorang pasti salah karena ber-SARA tertentu, kita terjebak dalam sesat pikir argumentum ad hominem (khususnya abusive ad hominem). Saat kita memastikan kebenaran orang ber-SARA tertentu, kita terjatuh dalam argumentum ad verecundiam.

Di satu sisi, argumentum ad verecundiam adalah ‘lawan’ dari argumentum ad hominem. Di sisi lain, argumentum ad verecundiam adalah ‘pelengkap’ argumentum ad hominem. Dikatakan ‘lawan’ karena argumentum ad verecundiam merupakan sesat pikir berupa pembenaran atas seseorang karena kesukaan pada orang tersebut. Dikatakan ‘pelengkap’ karena penolakan pada seseorang yang dilatari kebencian (ad hominem) itu kerap diiringi pembenaran begitu saja atas seseorang yang disukai (ad verecundiam).

Dalam tataran politik, argumentum ad verecundiam berupa pemilihan seseorang berdasarkan SARA tertentu karena kesukaan pada (atau menjadi bagian dari) SARA itu. Adapun argumentum ad hominem di ranah politik antara lain mewujud dalam bentuk penolakan atas seseorang semata-mata karena kebencian pada (atau berbeda dari) SARA seseorang itu.

Apakah orang ber-SARA tertentu pasti benar dan layak pilih, sementara orang ber-SARA lain pasti salah dan tak boleh dipilih? Jawabannya tentu saja tidak. Kebenaran (kelayakpilihan) dan  kesalahan (ketidaklayakan-dipilih) tidak melekat secara otomatis pada SARA tertentu.

Kata mutiara yang bisa jadi pegangan dalam hal ini adalah kata mutiara Imam Ali ibn Abi Thalib ra. Dalam satu kesempatan,  Khulafaur Rasyidin keempat yang dijuluki oleh Nabi Muhammad saw. sebagai ‘pintu ilmu’ itu mengatakan: “Lâ tu`rafu al-haq min ar-rijâl. A`rif al-haq, ta`rif ahlahu”.

“Kebenaran tidak bergantung pada perseorangan. Kenalilah kebenaran, maka engkau akan tahu siapa yang benar”, kata sepupu sekaligus menantu Rasulullah saw. itu. “Kelayakpilihan tidak bergantung pada SARA tertentu. Kenalilah yang berintegritas dan berkompetensi, maka engkau akan tahu siapa yang layak dipilih”, kataku. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top