Connect with us

Adu Argumen, Bukan Ejekan

SUARA

Adu Argumen, Bukan Ejekan

Akhir-akhir ini, khususnya di media sosial, sangat mudah sekali kita temui kalimat atau kata bernada ejekan hingga panggilan tertentu berkonotasi merendahkan yang disampaikan oleh sebagian orang pada sebagian yang lain. Biasanya ini terjadi di antara dua orang atau dua kelompok yang berada di kubu yang berseberangan. Akhir-akhir ini sih cenderungnya dalam soal politik. Tapi, dalam perkara lain juga: sepak bola, agama, mazhab, dan lain-lain. Sekadar contoh: cebong, IQ 200 sekolam, bani cingkrang, gabener, sampai yang sungguh menyedihkan yaitu “kafir”. Untuk yang terakhir ini sungguh serius karena akan membuat penuduhnya otomatis kafir. Selengkapnya soal itu bisa dibaca di artikel berjudul Bahaya Takfiri Bagi Penuduhnya.

Selain yang terakhir itu juga serius bahayanya. Dalam terminologi Al-Qur’an, mereka yang memanggil dengan ejekan itu disebut dengan “orang-orang zalim”.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-Hujurat: 11)

Yang penting juga dibahas bahwa ejekan itu bisa jadi memperlihatkan mutu pelakunya. Ketika seorang yang bermutu tak setuju pada orang lain, maka dia akan mengkritiknya dengan bermutu pula. Ia akan masuk ke substansi masalah, mengurai ketidaksetujuannya secara argumentatif, dan menyampaikan sikapnya dengan indah demi terpengaruhnya orang yang dikritik pada sikapnya.

Adapun ejekan, kemungkinannya bisa dua, yakni pertama,ia simbol kegagalan menahan nafsu amarah, sehingga hilang kendali atas lisannya dan “termuntahkanlah” ejekan-ejekan. Secara spiritual, ia pastilah bentuk kerendahan: terkuasainya akal oleh nafsu. Kedua, secara filosofis, ia adalah simbol ketidakmampuan atau kegagalan dalam ketidaksetujuan. Lantaran ia hanya bermodal “tak setuju”. Bahkan bisa jadi tak tahu secara logis kenapa harus tak setuju. Sekadar benci, persepsi, atau kubu-kubuan saja. Sehingga, ia tak mampu mengkritik secara logis dan benar. Logikanya menang-kalah. Maka, yang bisa keluar dari lisannya atau diketik oleh jarinya di media sosial hanyalah ejekan-ejekan.

Oleh karena itu, dalam ayat di atas, Allah tekankan bahwa bisa jadi yang mengejek itu lebih buruk yang dari yang diejek. Sebab, mungkin saja yang diejek memang salah, namun kesalahannya itu muncul dari kebodohan, kesalahpahaman, dan lain-lain yang itu bisa dibenahi. Adapun yang mengejek, bisa jadi ia benar tapi bukan hanya tak mendakwahkan kebenarannya dengan baik, tapi bahkan ia tak bisa mengimplementasikan kebenarannya pada lisannya sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

(QS. As-Shaff: 2-3)

Ketika Fir’aun berada pada puncak keangkuhannya dengan mengaku dirinya sebagai Tuhan, di mana ini dosa terbesar dalam perspektif Islam, Allah memerintahkan Musa dan Harun mendatanginya untuk memberi peringatan dan mendakwahinya tetap dengan metodologi santun.

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

(QS. Thaha: 44)

Begitu pula Nabi Muhammad. Keutamaan beliau adalah pada akhlaknya yang agung. Namun, dengan metodologi akhlak yang terpuji saja masih banyak masyarakat Arab maupun non-Arab saat itu yang menolak dakwahnya. Bayangkan kita yang bukan siapa-siapa ini berimajinasi akan sukses berdiskusi, apalagi berdakwah dengan orang yang berseberang pendapat atau pandangan dengan kita melalui metodologi mengejek?

Metodologi yang salah bisa merusak substansi yang benar. Sebuah kesalahan yang digugat dengan ejekan akan membuat gugatan itu terciderai atau bahkan gagal. Dalam hadis riwayat Muslim dikatakan oleh Nabi: “Tidaklah lemah lembut dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap keras dalam segala sesuatu kecuali dia akan merusaknya.

Maka, sudahi saling ejek. Mari adu gagasan, adu argumentasi dengan santun. Dengan begitu, yang terbangun adalah sebuah diskusi yang konstruktif.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top