Connect with us

Pengungkapan Selera yang Mubah

SUARA

Pengungkapan Selera yang Mubah

Apakah mengungkapkan selera itu salah? Tergantung. Ada selera yang diperbolehkan (mubah/halal); ada selera yang tidak diperbolehkan. Mengungkapkan selera yang dibenci (makruh) apalagi yang dilarang (haram) minimal merusak citra pengungkap selera itu, bahkan pada tataran tertentu bisa menimbulkan masalah bagi pengungkapnya. Bagaimana jika selera itu terkait dengan pakaian atau sesuatu yang aksidental pada tubuh, dan sesuatu yang didengarkan; apakah itu termasuk selera yang terlarang untuk diungkapkan?

Pakaian, pada hakikatnya, terkait erat dengan kondisi geografis, tatanan sosial dan pilihan pribadi. Pada lingkungan yang berdebu, penutup hidung semacam masker atau cadar diperlukan. Di tempat yang leluasa untuk menghirup udara segar, kita tidak begitu berhajat pada pengfilter udara semacam itu. Di situ, posisi penutup hidung tidak jauh beda dengan posisi jaket. Di kawasan yang mengalami empat musim, jaket diperlukan di musim dingin, lalu ditanggalkan di musim panas. Penggunaan dan penanggalan pakaian, dengan kata lain, berhubungan dengan kondisi geografis.

Adapun relasi pakaian dengan tatanan sosial semacam dress code di tempat sosial tertentu. Ketika pengajian dihelat, pria Indonesia biasanya menggunakan peci dan baju koko. Akan tampak aneh bila di pengajian ada orang yang berpakaian ala rock star. Sebaliknya, ketika menonton konser musik heavy metal, Anda akan tampak salah kostum jika memakai peci dan baju koko. Pemakaian suatu pakaian, dengan begitu, terkait dengan konteks sosial, selain terkait dengan konteks iklim.

Penggunaan pakaian juga berbuhul dengan preferensi pribadi. Ada orang yang lebih suka menggunakan peci berwarna hitam, ada juga yang lebih suka menggunakan peci berwarna putih. Preferensi pribadi yang mubah itu tidak menunjukkan keunggulan yang satu daripada yang lain.

Ketika seseorang mengatakan lebih suka menggunakan peci hitam daripada peci putih, apakah orang itu patut dianggap menghina pengguna peci putih? Tentu saja tidak. Pilihan personal atas hal yang mubah (diperbolehkan) tidak mengandung unsur penghinaan sama sekali.

Hal serupa tak hanya berlaku pada pakaian, tapi juga pada sesuatu yang diperdengarkan. Orang yang menyatakan lebih suka gending Jawa daripada kasidah Arab, misalnya, tidak berarti menghina penyuka kasidah Arab. Karena tidak menghina, patutkah penyuka kasidah Arab marah kepada orang lain yang menyatakan lebih suka gending Jawa? Seharusnya amarah itu tidak perlu diluapkan. Toh, yang dihadapi hanya bagian dari selera yang mubah.

Jika memiliki preferensi personal atas hal yang mubah bukan suatu kesalahan, pengungkapannya pun tidak termasuk penghinaan, dan orang lain yang mendengarkan pengungkapan tersebut tidak perlu marah, maka apakah pengungkap preferensi personal tersebut perlu meminta maaf karena mengungkapkan preferensi personalnya itu? Tentu saja tidak perlu, karena tidak ada kesalahan dalam mengungkapkan preferensi yang mubah.

Justru orang yang meminta maaf karena mengungkapkan preferensi personalnya adalah orang yang sedang melakukan kekonyolan. Yang lebih konyol lagi adalah orang yang marah karena mendengar/membaca orang lain yang mengungkapkan selera yang mubah. Ketika dua fenomena itu tampak di hadapan kita, maka kita sebenarnya sedang menyaksikan kekonyolan berbalas kekonyolan. Sampai kapan kita berkutat dalam kekonyolan itu?[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top