Connect with us

Divide et Impera dalam Kampanye Berbasis SARA

Artikel

Divide et Impera dalam Kampanye Berbasis SARA

Nasionalisme Anda dipertanyakan ketika Anda berkampanye berbasis SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan). Mengapa demikian, karena nasionalisme menyatukan SARA dalam keragamannya, sedangkan kampanye berbasis SARA justru menyorongkan SARA untuk memecah-belah bangsa. Dalam kampanye berbasis SARA, yang diselenggarakan justru praktek ideologi kolonialisme/imperialisme, yaitu divide et impera: politik pecah belah.

Kaum kolonial/imperial ‘mungkin wajar’ menerapkan politik pecah belah itu. Niat mereka menguasai suatu negeri di luar negeri mereka sendiri. Mereka menghalalkan segala cara untuk berkuasa. Sekiranya kekuasaan mereka dapat berdiri tegak dengan memecah belah persatuan bangsa lain, maka mereka tak segan-segan menggunakan politik adu domba.

Yang ironis adalah ketika pelaku politik adu domba di suatu negeri itu justru anak negeri itu sendiri. Anak negeri itu ingin berkuasa dan berpikiran ala pragmatis-machivelian: membenarkan apa saja asalkan tujuan tercapai. Entah sadar atau tidak sadar mereka mencangkokkan praktek ideologi kolonial/imperial dengan ideologi pragmatis-machivelian itu. Konsekuensinya, politik pecah belah dijadikan sebagai sarana yang dibenarkan untuk mencapai tujuan berkuasa.

SARA dilihat sebagai modal energi untuk berkuasa oleh politisi anak negeri berpendirian pragmatis-machivelian-kolonialis-imperialis itu. ‘Sang Aku’ (the ego) bukan lagi bangsa ini, tapi sukuku, agamaku dan golonganku. ‘Sang liyan’ (the other) pun bukan bangsa lain, melainkan suku lain, agama lain dan golongan lain, meski dalam satu bangsa.

Dalam pandangan tentang ego and other sedemikian rupa, perseteruan disetting di dalam negeri antara suku satu dengan suku lain, antara agama satu dengan agama lain dan antara golongan satu dengan golongan lain. Hasilnya menyesakkan: hidup satu bangsa dalam satu negeri penuh kebencian.

Cita-cita sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa dilupakan. Yang diingat justru imaji tentang satu suku, satu agama dan satu golongan dalam satu negeri. Suku lain, agama lain dan golongan lain dilihat sebagai musuh. Padahal, minimal sejak tahun 1928, tiga entitas sosial itu berupaya menyatu (dan disatukan) dalam keragaman yang damai di negeri yang dibayangkan bernama Indonesia.

Artinya, ada kemunduran akut dalam kampanye berbasis SARA di masa kini. Orang-orang zaman dulu ingin menyatu dalam keragaman yang harmonis, sementara beberapa orang zaman sekarang malah ingin membelah keragaman secara disharmonis.

Orang-orang di masa kini yang berkampanye berbasis SARA itu, dengan kata lain, mengalami keterputusan sejarah dengan para pendiri bangsa ini. Kalaupun mereka memegang ‘tali historis’, maka tali historis yang mereka julurkan hingga sekarang adalah tali historis kolonial/imperial yang menerapkan divide et impera.

Ongkos sosial divide et impera itu mahal. Di masa lalu, nenek moyang kita saling bermusuhan, bahkan saling membunuh, karena segregasi mereka diperlebar oleh kaum penjajah. Bila ada politisi masa kini yang menggunakan cara serupa, maka dia tentu saja tidak sayang pada negeri dan bangsa ini. Tak perlu menunggu tahun 2030, sekarang pun Indonesia bisa terasa seperti neraka dan kohesi sosialnya bisa bubar bila ada politisi yang menebarkan kebencian sambil menebalkan batas antara pribumi dan non-pribumi, antara agama mayoritas dan agama minoritas, antara golongan mainstream dan golongan non-mainstream.

Hanya pembenci bangsa yang memecah belah bangsa dengan kampanye kebencian berbasis SARA. Pecinta bangsa justru berbuat sebaliknya: berusaha merangkul keragaman bangsa sambil tetap menghormati keunikan masing-masing pihak, sejauh keunikan itu tidak melakukan kekerasan yang mengoyak tenun kebangsaan.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top