Connect with us

Isra’ Mi’raj dan Stephen Hawking

Artikel

Isra’ Mi’raj dan Stephen Hawking

Isra’ Mi’raj itu mungkin. Dulu kemungkinan perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu ke Sidratul Muntaha dalam waktu semalam itu hanya diyakini. Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah yang pertama kali meyakini probabilitasnya. Kini Isra’ Mi’raj tak hanya mungkin secara iman, tapi juga mungkin secara ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sekarang orang sangat mungkin berpindah tempat dari Makkah ke Palestina kurang dari semalam. Jangankan hanya bertransportasi berjarak 1500 km., kita pun kini bisa bertransportasi hingga ke bulan. Teknologi pesawat terbang dan antariksa memungkinkan hal itu. Lebih dari itu, para ilmuwan telah memikirkan perjalanan lintas ruang dan waktu.

Adalah Stephen Hawking, fisikawan dan kosmolog kontemporer yang berkonsentrasi tentang kemungkinan perjalanan lintas ruang dan waktu. Latar belakang pemikirannya antara lain teori relativitas umum Albert Einstein dan teori lubang cacing Kip Thorne.

Stephen Hawking

Eisntein, di satu sisi, menyatakan eksistensi ruang-waktu melengkung dan terdistorsi zat dan energi semesta, yang memungkinkan orang bergerak di jalur yang membawanya kembali ke tempat semula sebelum dia mulai bergerak. Thorne, di sisi lain, menggagas eksistensi ‘lubang cacing’ (wormholes) yang  bisa menghubungkan berbagai bagian ruang dan waktu, sehingga perjalanan sangat cepat menembus ruang dimungkinkan. (Hawking, My Brief History, 137 dan 139)

Wormholes itu diasumsikan berada di sekitar kita, tepatnya di sela-sela ruang dan waktu. Di celah dimensi keempat itu, wormholes diandaikan mengada dan bisa menghubungkan dua tempat atau waktu yang berbeda.

Eksistensi wormholes di dunia kuantum sangatlah kecil. Para ilmuwan berpikir untuk memperbesarnya. Jika dua wormholes berhasil diperbesar dan diletakkan secara berdekatan, maka lorong waktu ke masa lalu dan masa depan dibayangkan bisa dibuat. Sekiranya dua wormholes itu diperbesar dan diletakkan berjauhan, misalnya yang satu di bumi, sementara yang lain di planet/galaksi lain, maka perjalanan ke tempat yang sangat jauh bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Meski demikian, Hawking menampik kemungkinan perjalanan ke masa lalu karena bertolak belakang dengan prinsip sebab akibat. Seharusnya sebab terjadi sebelum akibat. Bila perjalanan ke masa lalu dimungkinkan, maka prinsip kausalitas itu buyar. Lagi pula pelanggaran prinsip kausalitas itu pun memunculkan ‘paradoks kakek’ (grandfather paradox), yaitu inkonsistensi yang mungkin muncul karena perubahan masa lalu. Oleh karena itu, Hawking menafikan perpindahan ke masa lalu, tapi mengafirmasi probabilitas pergi ke masa depan dan ke lokasi yang sangat jauh. (Hawking, A Brief History of Time, 232)

Menurut Hawking, pesawat antariksa yang bisa bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya memungkinkan perjalanan ke masa depan dan lintas galaksi. Selain itu mesin yang mampu mengeskalasikan wormholes dan meletakkannya secara berdekatan atau secara berjauhan melampuai batas antar planet juga memungkinkan perjalanan lintas ruang dan waktu.

Dewasa ini, ikhtiyar tersebut dimanifestasikan antara lain melalui pengoperasian mesin Hadron Collider Raksasa (Large Hadron Collider). Mesin besar yang dibangun oleh CERN (Conceil Européen Pour la recherche Nucléaire) di perbatasan Perancis dan Swiss itu ditujukan untuk mempercepat partikel berenergi tinggi dan menjawab berbagai pertanyaan fisika, antara lain struktur ruang dan waktu, yang di dalamnya juga terdapat persoalan wormholes.

Large Hadron Collider

 

Jika dibaca dengan terminologi Al-Quran, Hadron Collider Raksasa itu merupakan mesin pembesar ‘sulthân’ (energi) yang disebutkan Al-Quran Surat Ar-Rahman Ayat 33: “Jika kamu sanggup menembus penjuru-penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Tetapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan energi”.

Sekiranya mesin itu kemudian berhasil memperbesar wormholes dan memposisikannya sedemikian rupa, maka teori tentang transportasi ke masa depan dan galaksi lain bisa menjadi kenyataan. Bila transportasi tersebut minimal dimungkinkan secara teoritis, bukankah Isra’ Mi’raj, dengan demikian, peristiwa yang tak saja mungkin secara iman, tapi juga mungkin secara ilmu pengetahuan dan teknologi? Bila ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menopang iman, bukankah orang beriman sepatutnya memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi? []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top