Connect with us

Kampanye dan Dakwah

Artikel

Kampanye dan Dakwah

Ada titik temu dalam perbedaan kampanye dan dakwah. Dua hal itu memang berbeda ranah dan tujuan, tapi praktek dan globalitas isinya bisa diselaraskan.

Perbedaan kampanye dan dakwah kurang lebih seperti ini. Kampanye bergerak di ranah politik dan bertujuan meraih kekuasaan, sedangkan dakwah beroperasi di bidang agama dan berorientasi pada religiusitas.

Meski sedemikian berbeda, praktek komunikasi masing-masing dari kampanye dan dakwah sama, yaitu persuasi. Juru kampanye dan pendakwah sama-sama membujuk massa untuk menerima pesan mereka.

Dua pihak tersebut pada hakikatnya sama-sama pengajak dan perayu. Juru kampanye merayu para audien memilih partainya atau calon pemimpin yang diusungnya. Pendakwah mengajak para jamaah menjalankan ajaran-ajaran yang disyiarkan.

Dalam persuasi, mereka berkecimpung di bidang retorika. Itu teknik komunikasi untuk menghadapi orang banyak, yang lebih mengarah pada nalar orang awam. Yang disampaikan pun ringan, utamanya hal yang menyenangkan dan tak menyenangkan masyarakat umum. Apakah pesan yang disampaikan itu sungguh-sungguh benar atau tidak, kadang diabaikan. Yang penting bagi retorikawan adalah ketertarikan audien.

Di titik itu, retorika juru kampanye dan pendakwah kerap dianggap bermasalah oleh orang-orang terdidik yang kurang bijak dan orang-orang sangat terpelajar yang bijak. Orang terdidik yang kurang bijak lebih berorientasi pada kemenangan menghadapi lawan, sehingga wacana retoris akan didebat. Orang sangat terpelajar yang bijak lebih berorientasi pada kebenaran, sehingga pengabaian retorikawan pada kebenaran sangat problematis.

Meski wacana retoris para pendakwah dan juru kampanye cenderung ditolak oleh masing-masing dari orang terdidik yang kurang bijak dan orang sangat terdidik yang bijak, wacana itu tetap diperlukan untuk menjangkau massa sebanyak mungkin, sejauh berpegang pada kebenaran dan kebaikan.

Salah satu prinsip yang patut dipegang oleh retorikawan seperti mereka adalah ajaran yang tertera dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 125 yang tak hanya berisi dorongan untuk membujuk dengan baik, tapi juga dorongan untuk berdebat dengan santun dan mendemontrasikan kebenaran dengan bijak.

Demonstrasi kebijasanaan diperlukan untuk menghadapi orang-orang yang well educated dan berorientasi pada kebenaran. Demonstratornya pun haruslah orang bijak yang tidak hanya bisa menyampaikan kebenaran, tapi juga siap menerima kebenaran dari mana saja.

Kemampuan berdebat diperlukan untuk menghadapi orang yang cukup terdidik, tapi masih didominasi oleh hasrat untuk menang. Meski demikian, kesantunan dalam berdebat seharusnya menjadi payung komunikasi.

Sayangnya, minim sekali juru kampanye dan pendakwah yang punya kemampuan berdebat secara santun, apalagi kemampuan mendemonstrasikan kebijaksaan yang lapang dada pada kehadiran kebenaran dari pihak lawan sekalipun. Yang lebih banyak ditemukan adalah juru kampanye dan pendakwah yang berdebat semata-mata ingin menang, meski pendapatnya sangat rentan kekeliruan.

Dalam hal membujuk audien pun, pendakwah dan juru kampanye kerap menjelekkan pihak yang dianggap sebagai kompetitor. Ketika para juru kampanye dan para pendakwah saling menjelekkan satu sama lain, baik dalam hal persona, kelompok maupun pesan, maka “udara” kejelekan yang mendominasi ruang komunikasi publik. Yang tampak di permukaan hanya kejelekan semata dari berbagai sudut.

Bila suasana buruk itu sedemikian dominan, maka ruang publik disesaki oleh udara kebencian dan mungkin acuh tak acuh. Yang rugi adalah kehidupan bersama, termasuk di dalamnya para pendakwah dan juru kampanye itu.

Seyogianya, bila para pendakwah dan para juru kampanye tak sanggup berdebat dan tak bisa mendemonstrasikan kebenaran, maka mereka cukup fokus membujuk masyarakat dengan prinsip retorika sederhana: yaitu menyampaikan apa yang menyenangkan bila publik mengikuti pesan mereka, dan apa yang merugikan bila publik tidak mengikuti pesan itu.

Sampaikan saja kebaikan masing-masing, tanpa menyinggung keburukan pihak lain. Lebih dari itu, realisasikan saja kebaikan sesuatu yang ditawarkan. Jika para pendakwah dan para juru kampanye melakukan hal tersebut, maka publik hanya menyaksikan kebaikan di mana-mana, yang bisa dipilih sesuai selera.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top