Connect with us

HTI Menang di Maya, Kalah di Nyata. Khilafah Benar-benar Utopis!

SUARA

HTI Menang di Maya, Kalah di Nyata. Khilafah Benar-benar Utopis!

Sejak sehari sebelumnya hingga hari putusan atas gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang akhirnya ditolak sehingga HTI resmi bubar dan dilarang di Indonesia, tagar pro-HTI menguasai trending topic Twitter Indonesia. Tagar #HTILanjutkanPerjuangan salah satu yang sempat memuncak. Dan tagar lain yang juga mengisi trending topic Indonesia di antaranya #IslamSelamatkanNegeri #7MeiHTIMenang #HTIdiHati #HTILayakMenang #KhilafahAjaranIslam.

Media sosial memang medan “seksi” untuk dijadikan ladang propaganda semacam itu. Terlebih bagi HTI. Selain lantaran HTI memang menarik dalam menyampaikan gagasan politiknya dalam bentuk cuplikan-cuplikan dengan nada propaganda dan mudah sekali dipatahkan jika masuk dalam diskusi-diskusi mendalam dan utuh dengan menyasar sumber-sumber utama Islam. Juga karena sejak awal masuknya ke Indonesia pada 1983, HTI memang menyasar kalangan anak muda (mahasiswa) di kampus-kampus yang kian menjadi salah satu konsumen media sosial.

Selain itu, kampanye melalui media sosial juga merupakan langkah strategis karena selain murah namun bisa membangun kesan seolah itulah opini publik (nyata), juga bisa mensiasati eksistensi nyata mereka yang tak seberapa di Indonesia.

Namun, terkait fenomena itu, ada yang menarik untuk menjadi catatan. Kekalahan HTI di dunia nyata dan kemenangannya di dunia maya itu seolah menunjukkan eksistensi HTI. Dalam artian, konsep khilafah yang diusung HTI memang utopis sebagaimana eksistensi mereka yang kuat justru di dunia maya tapi dianggap “mimpi di siang bolong” di dunia nyata. Bayangkan, mereka mengimajikasikan akan menyatukan muslim sedunia dalam satu bendera politik di bawah kekhalifahannya.

Padahal, jangankan sekarang, seketika sejak Nabi Muhammad wafat saja, umat Islam sudah berbeda bendera politik tentang kepemimpinan pasca-Nabi. Ada yang bilang suksesi melalui musyawarah, ada yang menilai ada teks yang menunjuk khalifah setelah Nabi.

Selanjutnya, fragmentasi politik itu makin runyam, ditambah fragmentasi dalam ranah-ranah lain: teologi (kalam), hukum (fiqh), dan lain-lain. Al-Syahrastani saja dalam Al-Milal wa al-Nihal mencatat lebih 80 mazhab dalam urusan teologi di internal Islam. Itu masih teologi lho, belum fikih dan lain-lain. Dan juga, itu belum pula kenyataan bahwa di internal mazhab-mazhab yang 80 lebih itu sendiri masih ada pecahan-pecahan lagi.

Adapun sekarang, jangankan urusan teologi atau fikih, urusan organisasi masyarakat sampai urusan fanatisme pada ulama sudah membuat umat Islam terfragmentasi dalam ragam “mazhab”-nya masing-masing. Lalu, bagaimana bisa HTI mengimajinasikan semua itu bergabung dalam satu bendera mereka? Lah wong sesama gerakan radikal muslim di Indonesia saja mereka masih terpecah dalam beberapa golongan kok. Di Timur Tengah, sesama kelompok teror atas nama Islam saja bukan hanya tak bisa bersatu, bahkan saling mengkafirkan satu sama lain.

Dari situ saja sudah terbayang ‘kan bahwa konsep khilafah itu mustahil seperti yang dibayangkan oleh HTI bukan?! Apa Allah akan memberikan konsep yang utopis, mustahil diterapkan?! Lah wong dalam memberi cobaan saja Allah mustahil memberikan yang di luar kemampuan hamba-Nya.

Maka, sebaiknya bagi eks-HTI, mimpi khilafah itu dijadikan motivasi untuk mengupayakan persaudaraan (ukhuwah) umat Islam di tengah perbedaan dengan mentoleransi segala perbedaan di antara mereka yang itu adalah rahmat karena bersumber dari upaya berlomba-lomba dalam kebaikan. Itulah yang nyata dan dibutuhkan umat Islam sejak dulu hingga kini. Dan itulah ajaran Islam yang jelas dan diakui oleh seluruh mazhab dalam Islam. Bagaimana caranya? Ya sampeyan ‘kan membayangkan umat Islam bersatu dalam satu bendera politik saja bisa dan ngotot, maka tentu visi ukhuwah Islamiyah bukan sesuatu yang sulit di benak Anda bukan?!

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top