Connect with us

Terorisme: Fiksi atau Fakta?

SUARA

Terorisme: Fiksi atau Fakta?

Fakta tentang terorisme –juga radikalisme- sering dikaburkan dengan tuduhan-tuduhan bernada politis tentang propaganda melalui pendekatan logika konspiratif. Tak terkecuali tragedi yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Mako Brimob kemarin. Ia dijadikan “komoditi politik”. Ironisnya, tuduhan itu belum tentu benar. Sehingga, yang tersisa dan pasti benar justru adalah motif politik pada penuduhnya.

Tuduhan itu memang bisa jadi benar. Namun, tentu butuh fakta, data, dan analisa untuk itu. Sehingga, ia pastilah tak bisa segera dan terburu-buru. Oleh karena itu, di tengah tragedi terorisme, tak ada yang layak dikemukakan paling awal kecuali keprihatinan, empati, dan doa. Jangan tambah musibah fisik itu dengan musibah batin dari lisan kita yang kini kerap diekspresikan melalui ujung jari dengan begitu cepat: tanpa kepastian, penuh kebencian. Jangan tambah kegaduhan dan kekacauan yang ditimbulkan aksi teror fisik itu dengan teror kata-kata dan analisa konspiratif.

Sebab, salah satu tujuan utama para teroris, selain menebar ketakutan, yakni memecah belah kita dengan penuh kecurigaan dan kebencian. Oleh karena itu, “senjata” pertama dan utama yang paling besar yang kita miliki di tengah terorisme adalah mempertahankan ke-kita-an kita dan menjadikan teroris sebagai musuh bersama. Sebab, hari ini mereka korbannya, namun besok atau lusa bisa jadi Anda korbannya.

Terkait tuduhan propaganda politis, meskipun itu mungkin saja ada. Misalnya, sebagaimana kita ketahui bahwa Taliban dan Al-Qaeda, juga belakangan ISIS seperti diakui oleh Hillary Clinton, merupakan kelompok teroris paling mengerikan abad ini di dunia yang dimanfaatkan oleh Amerika Serikat (AS) untuk propaganda mereka di Timur Tengah. Namun, yang perlu digarisbawahi bahwa propaganda itu bukan lahir dari ruang kosong. Ia tetaplah butuh “bahan dasar”. Dan dalam konteks terorisme atas nama agama, “bahan dasar”-nya tentu adalah doktrin-doktrin tafsir busuk atas agama yang radikal-ekstrem.

Radikalisme adalah “bahan dasar” yang kemudian bisa jadi “diselingkuhi” oleh pemilik kepentingan apapun. Bisa kekuatan politik tertentu. Bisa kekuatan bisnis bahkan, karena misalnya yang paling diuntungkan dalam perang adalah pebisnis senjata. Bisa juga “perselingkuhan” ketiganya.

Oleh karena itu, perlawanan terhadap terorisme harus berangkat dari kesadaran dan dimulai dari radikalisme. Sebab, itulah pangkalnya. Tanpa itu, pemberantasan terorisme takkan pernah menyentuh akar, sehingga ia hanya seperti kegiatan reaktif (layaknya pemadam kebakaran), tapi tak bisa menjalankan aksi pencegahan. Oleh karena itu, tepat jika upaya pemberantasan terorisme melalui deradikalisasi yang berorientasi pada pemahaman keagamaan yang moderat dan toleran.

Karena memainkan isu agama, maka terorisme atas nama agama menjadi suatu masalah yang berat. Bayangkan, jika kriminalitas lain dilakukan dengan kesadaran bahwa itu tindak kejahatan namun terpaksa dilakukan karena problem ekonomi dan lain-lain, maka terorisme atas nama agama justru dilakukan dengan kesadaran bahwa itu tindakan mulia atau bahkan suci untuk menegakkan panji agama. Oleh karena itu, ancamannya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menurut mereka tidak berbasiskan pada ketentuan Tuhan.

Buat yang melayangkan tuduhan-tuduhan politis pada aksi-aksi teror, sudah sepatutnya bagi mereka, jika berpikir menelusuri logika konspiratif saja mudah mereka lakukan, maka wajib hukumnya untuk membaca bagaimana radikalisme yang berujung tindak terorisme atas nama agama betul-betul ada sejak dulu dengan berbagai perangkat tafsir radikalis-tekstualisnya itu. Dalam Islam misalnya, itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad dan mengkristal menjadi golongan tersendiri bernama Khawarij pascawafatnya Nabi yang menjadikan kebengisan sebagai “jalan suci” dan melihat liyan sebagai musuh yang harus dihabisi.

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top