Connect with us

Kekacauan Berbasis SARA dan Oposisi

SUARA

Kekacauan Berbasis SARA dan Oposisi

Kalau pengeboman gereja di Surabaya tanggal 13 Mei 2018 ini merupakan pengalihan isu seperti dikatakan beberapa orang, siapakah yang paling diuntungkan oleh kondisi keamanan yang menghawatirkan berbau SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) ini? Jawabannya adalah oposisi pemerintahan, baik oposisi yang ingin merombak total Indonesia maupun oposisi yang “sekedar ingin” mengambil alih kekuasaan dengan berusaha menempati posisi orang-orang yang ada di pemerintahan sekarang.

Kondisi kacau memungkinkan oposisi mengail di air keruh. Oposisi pertama akan mengatakan bahwa kekacauan ini akibat sistem negara yang harus diganti total. Oposisi kedua akan mengatakan kekacauan ini bukti ketidakbecusan aparat pemerintahan saat ini. Bila pernyataan oposisi-oposisi itu dibenarkan oleh publik, maka saat itu pula oposisi-oposisi itu mengambil keuntungan untuk menggalang massa mengganti pemerintah atau bahkan mengganti sistem pemerintahan.

Karena kondisi gaduh menguntungkan pihak oposisi, maka pihak oposisi cenderung mendiamkan peristiwa semacam pengeboman Gereja di Surabaya itu (dengan tanpa menunjukkan empati), atau menyukai kejadian itu (dengan menyebutnya sebagai pengalihan isu dan keburukan pemerintah dan/atau pemerintahan), atau  bahkan mendukung dan membiayainya. Dengan kata lain, pihak oposisi “potensial terlibat” dalam kerusuhan semacam ini, sehingga patut diawasi.

Pengawasan perlu ditingkatkan secara ekstra ketika dua macam oposisi tersebut di atas seiring sejalan. Dewasa ini, oposisi yang ingin mengganti sistem pemerintahan tampak kerap mengisi event-event yang diselenggarakan oleh oposisi yang ingin mengganti pemerintah. Mereka tampak seiya-sekata meski tujuan terjauh mereka berbeda. Sebab, secara implisit, mereka berpegang pada prinsip “musuhnya musuhku adalah temanku”.

Dalam hal kekacauan berbasis SARA seperti sekarang, para oposisi itu berprinsip “rampoklah rumah tetanggamu yang terbakar”. Jangan harap mereka berempati pada korban kekacauan berbasis SARA. Mereka justru bersuka ria menyaksikan kondisi kacau itu, dan mengambil untung darinya. Mereka ancang-ancang untuk mengganti posisi pemerintah, bahkan mengganti sistem pemerintahan.

Oposisi-oposisi itu tak peduli pada luka dan nyawa korban pengeboman. Bagi mereka, darah korban adalah bahan bakar untuk mendongkel pemerintah dan/atau pemerintahan. Jangan harap empati pada korban memancar dari hati mereka. Oposisi yang berposisi sebagai politisi mungkin menyatakan bela sungkawa. Tapi, apakah ucapan dan hatinya selaras? Wallahu’alam. Yang jelas, oposisi cenderung senang pada kekacauan di dalam negeri, terlebih oposisi yang menghalalkan segala cara untuk bisa berkuasa.

Saat ini, yang harus dilakukan oleh rakyat Indonesia yang memiliki hati dan semangat kemanusiaan adalah berbela sungkawa pada korban teroris di Surabaya, dan bila bisa membantu keluarganya. Selain itu, pastikan rakyat Indonesia yang ingin hidup damai di Indonesia berangkulan dan saling membantu dengan sesama anak bangsa ini dari manapun basis SARAnya. Sebab, kecurigaan dan kebencian berbasis SARA antar anak bangsa Indonesia merupakan hal yang disukai oleh pembenci negara bangsa ini dan bisa dipolitisasi oleh oposisi pemerintah yang menghalalkan segala cara.

Terkait dengan pengeboman Gereja itu, tugas pemerintah jelas. Cegah persemaian benih terorisme yang tumbuh subur melalui ujaran kebencian! Basmi teroris sampai ke akar-akarnya! Jamin keamanan dan kenyamanan bangsa Indonesia! Awasi oposisi yang menghalalkan segala untuk berkuasa! Rakyat Indonesia menggaji kalian, wahai aparat pemerintahan, antara lain untuk melaksanakan tugas itu!

Adapun pesan untuk oposisi sebagai berikut. Untuk oposisi yang membenci negara bangsa Indonesia, silakan keluar dari Indonesia sebelum diusir atau dibasmi! Untuk oposisi yang ingin mengganti posisi pemerintah, tawarkanlah gagasan positif yang lebih bermanfaat untuk negeri ini tanpa membuat gaduh dan menghalalkan segala cara untuk meraih kuasa, lantas bertarunglah di arena politik bermodalkan positivitas secara kesatria. Semoga kalian menang karena memang pantas untuk menang, bukan karena curang. Kalaupun kalian kalah, legawalah! Toh, “ghadan asyaddu isyrâqan“: ada hari esok yang bisa lebih bersinar. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top