Connect with us

Mengatasi Terorisme Sejak Masih Radikalisme

SUARA

Mengatasi Terorisme Sejak Masih Radikalisme

Rangkaian teror pada 13 dan 14 Mei 2018 di Surabaya menyasar dua objek: gereja (Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan, dan Gereja Kristen Indonesia Diponegoro 146) dan kantor polisi (Mapolrestabes Surabaya).

Ditargetkannya gereja dan kantor polisi sebagai objek aksi teror lantaran memang gerakan terorisme yang mengatasnamakan Islam memang secara ideologis memusuhi dua objek tersebut. Gereja menjadi simbol kekafiran, sedangkan kantor polisi menjadi simbol thogut karena melindungi negara yang tak berasaskan Islam menurut mereka dan menjadi agen negara untuk menghalangi aksi teror dan menghabisi gerakan terorisme.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa memang terorisme atas nama Islam bukan hanya mengancam non-muslim, melainkan juga sesama muslim. Oleh karena itu, ia bukan hanya menjadi musuh bersama kita semua di NKRI lantaran bertentangan dengan nilai-nilai keindonesiaan dan keagamaan kita, tapi juga lantaran mereka menargetkan kita semua. Jika hari ini mereka dan di sana target dan korbannya. Maka bisa jadi suatu hari kita dan di sini target dan korbannya.

Sebab, salah satu ciri ideologi teroris yang kontras dengan keislaman kita adalah jika pemahaman keislaman kita berkecenderungan untuk mendakwahkan Islam secara damai untuk sebanyak-banyaknya mengajak orang ke dalam kedamaian Islam. Adapun para teroris itu justru gemar mengkafirkan (takfiri)orang-orang Islam yang sedikit saja tak sesuai dengan pemahaman keislaman mereka yang sesat itu. Sehingga, kita dapati di antara kelompok-kelompok teroris itu sendiri terjadi perpecahan hingga sikap saling mengkafirkan satu dan yang lainnya.

Tentu masalah sebesar terorisme tak bersebab tunggal. Ada faktor ekonomi, psikologis, dan lain-lain di sana. Namun, faktor ideologis tentu menjadi yang utama dan mendasar. Target di atas menunjukkan itu.

Lantaran faktor utama dan dasarnya bersifat ideologis, ia berada dalam pikiran. Maka, pencegahan atau penyelesaikan perkara ini juga harus bersifat ideologis. Ia harus mampu mengubah isi pikiran calon atau pelaku terorisme yang radikal menjadi moderat. Di sanalah sebenarnya tantangan utama penyelesaian masalah terorisme di manapun adanya.

Adapun yang juga penting dan mendasar adalah membersihkan bibit-bibit terorisme yang bersemai di masyarakat berupa pikiran radikal. Sebab, itulah pintu masuk “doktrin teror”. Dan, angka masyarakat kita yang terserang virus radikalisme itu sungguh mencengangkan. Rilis survei dari Wahid Institute tahun lalu misalnya, sebanyak 0,4 persen penduduk Indonesia pernah bertindak radikal, sedangkan 7,7 persen mau bertindak radikal kalau memungkinkan. Jika mengacu pada populasi penduduk Indonesia, berarti ada 600 ribu orang pernah bertindak radikal dan 11 juta orang mau bertindak radikal. Itu sama seperti seluruh penduduk Jakarta dan Bali. Bayangkan! Jika 0,0 sekian persen saja yang kemudian “bermetamorfosa” menjadi teroris, bukankah negeri ini akan hancur?!

Data lain yang memprihatinkan adalah bahwa radikalisme itu bahkan masuk ke pikiran-pikiran anak muda atau bahkan anak-anak. Ia masuk ke buku-buku pelajaran, website, media sosial, dan berbagai jalur lain yang mudah sekali diakses anak muda dan anak kecil. Jika sejak kecil atau muda mereka telah radikal dan “sel” it uterus berkembang. Bukankah lima atau sepuluh tahun lagi negeri ini akan benar-benar terancam oleh terorisme?!

Maka, kita harus benar-benar berkata bahwa negeri ini sedang darurat terorisme. Perlu kesungguhan tekad, keseriusan langkah, ketepatan strategi, dan kejelasan tujuan dalam penyelesaian masalah ini. Juga yang terpenting adalah perlunya keterlibatan segala pihak dalam menyelesaikan masalah ini.

“Embrio” terorisme ada di negeri ini. Mereka yang alergi pada yang berbeda, marah pada pandangan lain, dan mengkafirkan yang berbeda pendapat. Mereka tentu tak bisa diselesaikan dengan pendekatan militeristik-hukum semata. Tapi pendekatan lunak melalui saluran-saluran pendidikan, dakwah, dan media-media lain yang bisa menembus relung pikirannya dan mengubah paradigmanya dalam beragama, bernegara, dan memandang kehidupan secara umum. Itulah tugas kita bersama.

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top