Connect with us

Inspirasi Riyanto dan Corrie untuk Pemuda

Artikel

Inspirasi Riyanto dan Corrie untuk Pemuda

Hasil survei Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) tahun lalu menunjukkan data 6,12 % responden yang merupakan anak muda (siswa SMA dan mahasiswa) menyatakan setuju bahwa “Bom Bali” adalah perintah agama. Dari jumlah itu, 40,28 % responden menjawab “bersedia” dan 8,16 % “sangat bersedia” melakukan penyerangan terhadap orang atau kelompok yang dianggap menghina Islam. Survei Wahid Foundation juga menghasilkan data bahwa 7,7 % respondennya bersedia melakukan tindakan radikal. Begitu pula survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaporkan 39 % mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia yang menjadi respondennya tertarik paham radikal. Menurut Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation, salah satu karakteristik kelompok radikal di Indonesia adalah anak muda lantaran mengkonsumsi informasi keagamaan yang berisi kecurigaan dan kebencian.

Mendengar data itu, tak malukah kita pada Bung Karno yang dulu berpekik, “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”? Ada apa dengan anak muda Indonesia generasi ini? Jika dulu bersumpah untuk kesatuan bangsa yang kemudian menjadi “embrio” kemerdekaan bangsa, kenapa saat ini sebagian mereka justru bersumpah untuk menghabisi yang berbeda dengan mereka? Mari belajar pada dua anak muda: satu dari Indonesia dan seorang muslim, dan satu lagi dari Amerika Serikat dan seorang non-muslim. Namanya Riyanto dan Rachel Corrie.

Riyanto adalah pemuda Muslim 2berumur 25 tahun, anggota Banser yang merelakan dirinya mati dengan tubuh terserak lantaran memeluk sebuah bom yang diletakkan di dalam Gereja Eben Haezar, Mojokerto, dengan maksud untuk menghabisi jemaat gereja yang sedang merayakan Natal pada tahun 2000.

Sedangkan Corrie, pemudi 23 tahun berketurunan Yahudi, yang ketika anak muda di negaranya sedang menikmati masa muda, ia justru memilih ke Palestina, mengabdi pada bangsa yang terjajah itu, melawan suara pemerintahnya, menentang penjajahan Zionisme Israel, hingga pada 16 Maret 2003, berdiri di depan buldozer yang hendak meratakan rumah orang-orang Palestina, hingga ia dilindas oleh buldozer terkutuk milik Israel itu, tewas mengenaskan.

Riyanto dan Corrie adalah sebuah inspirasi di tengah data-data menyedihkan di atas, jika terlalu jauh untuk mengingat dan mengambil inspirasi dari anak-anak muda yang pada 27-28 Oktober 1928 berkumpul di Batavia memekikkan “Sumpah Pemuda”. Keduanya adalah inspirasi tentang pikiran yang merdeka dan hati yang terus mengarah pada kebaikan. Pikirannya merdeka dari sekat-sekat agama, kelompok, ras, kepentingan, dan lain-lain. Hatinya hanya cenderung pada satu nilai, yakni “kebaikan”, di mana untuk itu mereka bahkan merelakan dirinya, sesuatu yang paling mendasar dan istimewa bagi setiap manusia.

Data dari “Peace Generation Indonesia”, 90% dari konflik (termasuk agama) yang terjadi adalah konflik lama yang mengemuka kembali dan hanya 10% yang benar-benar konflik baru.

Itu artinya kebanyakan konflik diwariskan dari generasi ke generasi. Maka, yang perlu dilakukan adalah memotong rentetan pewarisan konflik dengan memberikan edukasi tentang perdamaian pada anak muda selaku generasi masa depan. Dan Riyanto serta Corrie adalah di antara “modul” terbaik untuk itu.

Pemuda adalah “tulang punggung” hari kemudian. Tanpa penyelesaian di pikiran dan hati mereka tentang masalah-masalah yang ada di tengah-tengah kita saat ini, itu berarti masa depan kita masih akan kelam, seperti hari ini. Dan, itu berarti kita akan menjadi seorang yang sangat merugi karena hari esoknya sama atau bahkan lebih buruk dari hari ini.

Deradikalisasi terhadap pemuda tentu jauh lebih mudah ketimbang pada generasi tua. Sebab, pemuda adalah generasi yang masih terus “bergerak” (becoming) untuk ide, gagasan, dan perubahan-perubahan baru. Pikirannya masih bisa diutak-atik sesuai modul yang kita buat.

Maka, tantangannya kini ada pada tokoh bangsa dan tokoh agama negeri ini. Maukah mereka secara benar dan tulus membawa mereka pada pikiran yang moderat dan konstruktif dalam memandang bangsanya, agamanya, dan kehidupannya. Tanpa itu, mereka akan mewariskan “borok” terorisme hari ini. Dan, ke depan, tantangannya tentu jauh lebih berat. Jangankan dengan warisak buruk, melainkan dengan warisan baik yang tak teguh saja, mereka akan menjadi generasi yang sulit diharapkan di masa depan.

Kita butuh me-Riyanto-kan dan men-Corrie-kan generasi muda kita. Yang wanita dan non-muslim, Anda punya Corria. Yang pria dan muslim, Anda punya Riyanto. Teladani mereka.

Dan, perlu digarisbawahi di sini bahwa Riyanto dan Corrie bukanlah penganut “doktrin kematian”. Riyanto masih berupaya membuang bom itu ke tong sampah. Dan Corrie tak menduga buldozer itu sebejat itu. Mereka sebenarnya ingin hidup. Namun, dengan kemuliaan. Adapun jika akhirnya harus mati, itu di luar kuasanya, dan nyatanya siapa yang memilih hidup mulia, maka mereka pasti akan mati syahid, tanpa direncanakan dan dengan cara yang mereka tak duga-duga. Karena Tuhan melapangkan jalan kesyahidan bagi mereka yang benar-benar membantu kemanusiaan.

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top