Connect with us

Puasa adalah Pengendalian dan Peningkatan Diri

Ensiklopedi

Puasa adalah Pengendalian dan Peningkatan Diri

Di kitab Al-Futuhât Al-Makkiyyah, Ibn Arabi mendefinisikan puasa sebagai pengendalian dan peningkatan diri: “Ash-shaum huwa al-imsâk wa ar-ra’fah” (Ibn Arabi, Al-Futuhât Al-Makkiyyah, vol. 2, Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyah, 1999, h. 328)

Ketika orang Arab mengatakan “shâma an-nahâr“, yang mereka maksud adalah matahari telah meninggi. Allah meninggikan puasa di atas ibadah lain, sehingga puasa dalam bahasa Arab disebut dengan ‘shaum‘. Rasulullah saw. bersabda: “`Alaika bi ash-shaum fa innahu lâ mitsla lahu (Lakukanlah puasa kerena tak ada yang serupa dengannya).” (HR. An-Nasa’i)

Tak ada ibadah yang setingkat dengan puasa, sebagaimana tidak ada sekutu bagi Allah (laisa kamitslihi syai’ [QS. Asy-Syura: 11]). Maka dari itu, tak ada penentuan pahala bagi pelaku puasa. Terserah Tuhan untuk memberi apa saja kepada orang yang puasa, karena Allah swt. berfirman dalam hadits Qudsi: “Ash-shaum lî, wa anâ ajzî bihi (Puasa itu milikku, dan Aku yang mengganjarinya)”. (HR. Muslim)

Pelaku puasa, dengan begitu, dekat betul dengan Tuhan. Tapi, tak semua orang puasa sampai pada derajat itu. Ibn Arabi bersyair:

Ash-shaum imsâk bilâ raf’ah #

wa raf’ah min ghairi imsâk.

Wa qad yakûnâni ma’an ‘inda man #

yutsbitu tauhîdan bi isyrâk.

 

Puasa itu pengendalian tanpa peningkatan diri #

dan peningkatan tanpa pengendalian diri.

Terkadang keduanya mengada pada insan #

yang menetapkan pengesaan dengan persekutuan.

(Ibn Arabi, Al-Futuhât Al-Makkiyyah, vol. 2, h. 327)

Ada orang yang berpuasa, tapi derajatnya tidak meningkat menjadi menyatu dengan Tuhan, karena tidak menjadikan puasanya sebagai pengendalian diri secara sungguh-sungguh. Karena itu, Rasulullah saw. bersabda: “Kam min shâim laisa lahu min shaumihi illa al-jû’ wa al-athas (Berapa banyak orang yang puasanya hanya lapar dan dahaga [tanpa hasil apa-apa]).” (HR An-Nasa’i dan Ibn Majah)

Puasa memang menuntut pelakunya untuk tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual. Tapi, puasa tak sekadar pengendalian diri dari nafsu hewani tubuh. Puasa juga merupakan upaya mengendalikan diri dari perkataan dan tindakan buruk. Rasulullah saw. bersabda: “Faidzâ kâna yaumu shaumi ahadikum fa lâ yarfits yaumaidzin wa la yashkhab” (Di hari puasa, janganlah berkata keji, jangan pula berkelahi”. (HR. Muslim).

Puasa, dengan begitu, merupakan latihan untuk menjadi muslim sejati. Seorang tak dikatakan muslim hanya semata-mata beridentitas Islam di kartu tanda penduduk (KTP), bukan pula orang yang menjalankan lima rukun Islam. Muslim sejati adalah orang yang menjaga diri dari perkataan dan tindakan buruk, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw. “Al-muslimu man salima an-nâsa min lisânihi wa yadihi (Orang Islam adalah orang yang lisan dan tangannya selamat [dari menyakiti] manusia)”. (HR. Bukhari)

Akhir-akhir ini, kita temui orang-orang Islam yang gemar menebarkan ujaran kebencian, membuat keonaran, bahkan membuat kerusakan. Meski mengaku ‘muslim’ dan mengaku ‘membela Islam’, mereka sebenarnya bukan muslim sejati, karena perkataan dan tindakan buruk mereka itu.

Di bulan Ramadan ini, mereka, dan kita semua selaku penganut agama Islam, didorong untuk berlatih menjadi muslim sejati. Minimal dalam sebulan ini, kita diminta tak hanya tak makan, tak minum dan tak bersetubuh, tapi juga mengendalikan diri dari perkataan dan perbuatan buruk.

Liburlah menebarkan hoax dan kebencian berbasis perbedaan politik dan SARA (Suku, Agama dan Antargolongan) paling tidak dalam waktu satu bulan ini. Diharapkan latihan sebulan ini menjadi kebiasaan yang dilakukan terus menerus sepanjang waktu.

Bila setelah sebulan ini, bahkan di bulan ini, kalian tetap menebarkan kebohongan dan kebencian, bahkan melakukan tindakan teror, maka kalian tidak sungguh-sungguh puasa Ramadan. Puasa Ramadan kalian sia-sia. Puasa kalian hanya menahan lapar, dahaga dan seks belaka, tanpa hasil apa-apa.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top