Connect with us

Puasa, HAM, dan WAM

SUARA

Puasa, HAM, dan WAM

Puasa, menurut ulama fikih sampai sufi, titik tekannya pada aspek “menahan diri” (al-imsak). Menahan diri bukan dari sesuatu yang haram. Karena menahan diri atas sesuatu yang haram tentu bukan hanya di bulan Ramadan atau saat puasa saja. Melainkan setiap saat.

Adapun saat puasa, kita bersepakat dengan Allah, dalam kurun waktu tertentu (yakni dari subuh hingga maghrib, dan selama sebulan penuh pada saat Ramadan), untuk menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal. Makan, minum, dan berhubungan seksual dengan pasangan adalah sesuatu yang halal. Itu adalah hak yang diberikan Allah atas diri kita, asal tak dilakukan dengan cara-cara yang diharamkan oleh Allah. Bahkan, dalam frekuensi niat tertentu, ia bernilai ibadah.

Hak itu bersifat fakultatif. Artinya, ia bisa dituntut, bisa juga direlakan. Sedangkan kewajiban itu imperatif (memaksa atau wajib ditunaikan). Pada saat puasa, kita menahan diri untuk menuntut hak, serta merelakannya sebagai “kemesraan” kita dengan Allah guna mendekatkan diri pada-Nya. Oleh karena itu, ibadah puasa disebut oleh Allah sebagai ibadah untuk-Nya, serta bersifat rahasia antara yang berpuasa dengan Allah.

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

(QS. An-Nahl: 126)

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

(QS. Asy-Syura: 40)

Allah membolehkan kita membalas secara adil kejahatan yang dilakukan oleh orang lain atas kita. Itu adalah hak yang diberikan Allah atas kita. Namun, dikatakan dalam ayat di atas bahwa jika menahan diri, memaafkan, dan bersabar, maka itu sebuah kemuliaan. Inilah salah satu hikmah puasa.

Puasa mengajarkan agar, dalam suatu waktu dan keadaan tertentu, kita menahan diri untuk menentut hak, memaafkan kesalahan orang lain atas kita, dan bersabar atas keadaan itu sehingga kita bukan hanya menjadi pribadi yang baik, tapi bijaksana. Sebab, menuntut hak itu baik, bukan buruk. Namun, Anda bisa naik tingkat menjadi pribadi bijaksana.

Sejarah Nabi Muhammad mengajarkan bagaimana Nabi sering kali menahan diri dalam membalas musuh-musuhnya, bahkan suruhan Abu Sufyan yang mau membunuh Nabi, bersabar atas itu dan hasilnya sungguh indah, yakni mereka justru merasakan “kehangatan” Islam dan karenanya masuk ke jalan Nabi tersebut.

Banyak keadaan yang bisa membuat kita sepatutnya menahan diri dari menuntut hak. Misalnya, sebagaimana Nabi, untuk kebaikan orang yang bersalah agar bisa sadar dan berubah. Bisa pula lantaran mereka yang bersalah tak memiliki kemampuan untuk menunaikan tuntutan hak kita. Dan banyak kondisi-kondisi lain di mana merelakan hak lebih baik (bijak) dari menuntutnya. Tentunya, tolok ukurnya adalah bahwa kebijaksaan itu akan berbuah kebijakan, bukan justru membuat pelaku merasa tak bersalah sehingga tak pernah bertobat.

Pada akhirnya, puasa secara mendasar adalah latihan menundukkan ego. Sedangkan masalah utama kita, salah satunya adalah liarnya ego. Kita selalu menuntut hak, tapi lalai pada kewajiban. Yang imperatif kita fakultatifkan, dan yang fakultatif kita imperatifkan. Kita bahkan hanya mengenal Hak Asasi Manusia (HAM) dan tak punya sekadar istilah bahkan untuk Wajib Asasi Manusia (WAM). Padahal, tentu WAM lebih patut ditegakkan. Dan, jika WAM tegak, bisa jadi taka da HAM yang terabaikan atau minimal menjadi mudah menyelesaikan HAM.

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top