Connect with us

Ramadan Bulan Cinta

Ensiklopedi

Ramadan Bulan Cinta

Bagi siapa yang mempelajari Islam, tak ada keraguan bahwa ia “agama cinta”. Dalam hadis qudsi: “Aku (Allah) mencintaimu (manusia), maka atas itu jadilah engkau sebagai hamba yang mencintai-Ku”. Allah meminta cinta kita setelah Dia lebih dulu mencintai kita. Oleh karena itu, sabda Nabi, “… cinta adalah asas (ajaran agama)-ku”. Maka, dalam Islam, semuanya berbasiskan cinta, termasuk Ramadhan.

Pertama, puasa itu ibadah cinta. Dalam sabdanya dikatakan bila seorang yang berpuasa, dicemooh sekalipun, Nabi memerintahkannya untuk menjawab: “inni shaim” (aku sedang berpuasa). Seorang wanita pernah disuruh Nabi untuk makan di tengah puasanya lantaran Nabi mendengar ia mencaci pembantunya. Sejak awal, Nabi menekankan bahwa puasa bukan hanya berdimensi syariat, tapi juga tasawuf. Ia latihan batin (riyadhah bathiniyah) menuju hati dan sikap yang penuh cinta, bahkan kepada orang yang benci dan melontarkan kebenciannya.

Kedua, Ramadhan itu sendiri adalah bulan cinta. Dalam hadis, “ketika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.”Dalam salah satu malamnya, ada “Lailatul Qadar” yang disebut Al-Quran sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pahala dan ampunan berlipat ganda melebihi seribu bulan di malam itu. Maka, inilah malam cinta Allah pada makhluk-Nya.

Ketiga, dalam QS. Al-Baqarah: 185, Allah perintahkan bagi muslim yang sakit untuk tidak berpuasa. Allah tak ingin kita terbebani lantaran ibadah pada-Nya. Lihatlah bagaimana Dia begitu “mesra” dalam menjalin hubungan dengan kita. Oleh karena itu, Nabi katakan bahwa “agama itu mudah”. Namun, sebagian kita sering membuat agama menjadi sulit dan menampakkan “wajah”-Nya begitu seram. Sehingga “kemesraan” itu sirna.

Keempat, “lapar” itu eksistensial. Pertama,ia menumbuhkan empati pada sesama karena dengan lapar kita menghadirkan apa yang dirasakan fakir-miskin, yatim-piatu, dll. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman bahwa ada orang yang dosanya telah memenuhi sudut langit namun Dia ampuni karena orang itu mencintai fakir-miskin. Dalam hadis, disebut bukan mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya lapar. Kedua, tulis Rumi dalam Matsnawi, “lapar melembutkan, meringankan, dan memudahkan taat”. Bisyr Al-Hafi, seorang yang hedonis dan lalu menapaki jalan zuhud serta sangat dihormati oleh Imam Ahmad, yang kisah pertobatannya diriwayatkan Fariduddin Al-Attar dalam Tadzkiratul Auliya, “lapar itu membeningkan hati, membunuh nafsu, dan mewariskan ilmu.” Dalam artian, dalam lapar (tanpa nafsu), hati seseorang menjadi “tajam” untuk bergerak pada ketaatan dan “menghadirkan”-Nya dalam diri. Sebaliknya, dalam hadis, “takkan memasuki kerajaan langit, orang yang memenuhi perutnya”.

Namun, mengapa Ramadhan tak termasuk di antara bulan di mana Allah haramkan berperang sebagaimana dalam QS. At-Taubah: 36? Di sinilah Ramadhan sebagai “madrasahcinta”. Dia ingin ajarkan agar dalam perang ‘pun harus berbasis cinta, bukan benci, nafsu, dll. Sebagaimana dalam Fathul Makkah pada bulan Ramadhan, di mana Nabi menyerang dan menaklukkan Makkah dengan cinta: mengampuni musuhnya dengan bahkan menyuruh mereka berlindung di rumah pimpinan para musuhnya, yakni Abu Sufyan, meskipun mereka telah mengusir, memerangi, dan mengkhianati perjanjian dengan Nabi. Tak ada dendam. Islam itu cinta! Sebab, sering kali musuh sejati justru bersemayam dalam diri kita. Dan kita bersyukur, kemerdekaan negeri ini juga terjadi pada bulan Ramadhan.

Namun, sayangnya, berbuka saja sering kita jadikan momentum balas dendam dengan hidangan dan makan yang berlebihan. Ramadhan di sini juga justru menjadi bulan konsumerisme.

 

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top