Connect with us

Jangan Mindikte Tuhan!

SUARA

Jangan Mindikte Tuhan!

Saat kita memiliki hajat yang menurut kita begitu penting atau mendesak, maka ritual berdoa kita kadang menjadi berbeda dari biasanya. Ada keinginan yang begitu besar agar doa kita dikabulkan. Terlebih jika menyangkut hajat politik bagi sebagian kita. Begitu besarnya hingga sebagian kita “terpeleset” lidah dalam doa. Salah satu bentuknya adalah mendikte Tuhan dalam doa kita.

Padahal, jika membaca Al-Qur’an adalah cara kita meminta Tuhan berbicara dengan kita, maka doa adalah media kita berbicara dengan Tuhan. Maka, tentu ada tata karma yang perlu diindahkan. Bukan karena takut Tuhan tak berkenan, apalagi marah karena kita tak bertata karma pada-Nya. Melainkan itu soal moralitas kita dalam memohon, ‘pun kepada Dzat yang sudah memberi kita sesuatu yang takkan mampu kita hitung, yang begitu kita menghitung sebagai syukur maka ditambah lagi dan lagi, plusDia yang berjanji bahwa jika kita meminta takkan pernah tak dikabulkan-Nya.

Yang utama dari tata krama tersebut adalah jangan mendikte. Firman Tuhan dalam Kitab Suci “Zabur”, “Wahai Anak Adam, taatilah apa-apa yang telah Aku perintahkan padamu dan tak usah kamu mengajari-Ku tentang apa saja yang baik menurutmu.”Sebab, sebagaimana dilanjutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia begitu baik buatmu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia sangat buruk untukmu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Maka, tak mindikte Tuhan dalam doa sebenarnya bukan hanya perkara tata karma, melainkan rasional: bagaimana kita mendikte Sosok yang Dia Maha Tahu, sedangkan kita adalah makhluk bersemayamnya salah dan lupa? Sehingga, mindikte Tuhan dalam doa bukan hanya tingkah laku seorang yang tak beriman, tapi juga tak berakal. Bahkan, dalam sudut pkitang pragmatis sekalipun, jika kita ingin aman, kita justru jangan dikte Tuhan karena yang akan diberikan Tuhan yang terbaik, sehingga ia justru yang paling aman buat kita.

Lalu, bagaimana berdoa di tengah kebutuhan yang mendesak? Nabi Muhammad ajarkan dalam hadis yakni dengan kuatkan kemauan teguh kita dalam memohon. Bukan justru dalam mendikte yang kuat-kuat.

“Apabila salah seorang dari kamu berdoa, hendaknya ia berkemauan teguh dalam memohon. Jangan sekali-kali dia berkata, “Ya Allah, jika Kamu menghendaki, berilah aku.” Sesungguhnya tidak ada keterpaksaan bagi Allah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah redaksi hadis di atas, bahwa sedikit saja ada nada atau redaksi mendikte, dilarang keras oleh Nabi: “…jika Kamu menghendaki, berilah aku…”Sebab rumusnya justru sebaliknya: rendahkan diri kita, Maha Tinggikan Dzat Tuhan. Inilah yang diajarkan Al-Qur’an. Tuhan ajarkan dalam QS. Al-A’raf: 10 agar dalam berdoa sepatutnya dengan menyebut nama-nama Tuhan yang baik (asmaul husna)sebagai bagian dari upaya meneguhkan ke-Maha Tinggi-an Tuhan. ‘Pun, itu relatif mumpuni karena Tuhan sendiri yang mengajarkannya. Adapun kita, betapapun kata-kata yang dipanjatkan hasil kreasi kita sendiri, mustahil bisa relatif mumpuni dalam memuji-Nya.

Tuhan pula ajarkan dalam QS. Al-A’raf: 55 agar dalam berdoa kita merendahkan diri. Bahkan itu dimulai sejak di suara, yakni dengan suara yang lembut.

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Pada akhirnya, kita justru berlindung dari diri kita sendiri dengan tak mindikte Tuhan dalam segala keadaan, baik saat berdoa atau apapun juga. Sebab, kezaliman atas diri ini sering kali dilakukan oleh diri ini sendiri dengan bergerak sesuai arah “jarum” nafsu, bukan fitrah. Sedangkan kebiakan selalu muncul dari Tuhan. Bahkan, bisa jadi halnya sama: sakit misalnya. Namun, jika ditimbulkan oleh diri sendiri maka ia bencana lantaran muncul dari kegagalan menjaga sehat, sedangkan jika datang dari Tuhan ia nikmat untuk menguji diri dan membiarkan tubuh menjalankan prosesnya dalam “bergerak”.

Lagi pula, jika Anda sudah mulai “terpeleset” mendikte Tuhan, cobalah merenung, jangan-jangan itu muncul dari rasa besar diri hingga sampai pada perasaan bahwa seolah Anda bisa memaksa kehendak-Nya. Nauzubillah!

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top