Connect with us

Menelisik Pro-Kontra Kunjungan KH. Staquf ke Israel

SUARA

Menelisik Pro-Kontra Kunjungan KH. Staquf ke Israel

Mengenai kunjungan KH. Yahya Cholil Staquf ke Israel untuk hadiri American Jewish Committee (AJG), terjadi pro dan kontra. Mereka yang kontra setidaknya ada dua. Pertama, mereka yang kontra dengan berbasiskan kecurigaan. Mereka mencurigai kunjungan itu memiliki tendensi keberpihakan pada Israel. Karena itu, mereka begitu marah dan benci atas kunjungan tersebut. Mereka ini, di manapun berada, pastilah buruk, karena bersikap atas sesuatu hanya berdasar kecurigaan, tak berdasar sama sekali. Mereka ini rentan disusupi oleh berbagai provokasi, misalnya bahwa ini adalah bagian dari kerjasama antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Israel. Oleh karena itu, Ketua Umum NU, KH. Said Aqil Siradj, dalam pernyataannya sampai bersumpah atas nama Allah bahwa tak ada dan takkan pernah ada kerjasama antara NU dan Israel selamanya lantaran NU akan terus berdiri bersama Palestina. Dan memang, tanpa penjelasan itu, orang yang berpikir dan tak diliputi oleh kemarahan, kebencian, atau kecurigaan, takkan sampai habis pikir ke sana, karena NU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia mustahil akan berdiri, apalagi bekerjasama dengan Israel. Jangankan dengan prinsip keislamannya, dengan prinsip kemanusiaan saja bertentangan. Terlebih NU juga memiliki prinsip kemerdekaan, di mana mereka menjadi salah satu kelompok yang berdedikasi dalam memerdekakan bangsa Indonesia serta berkomitmen untuk menjamin kemerdekaan semua bangsa di dunia ini. Maka, sumpah KH. Said Aqil Siradj tampaknya ditujukan pada mereka yang berbasiskan kecurigaan, kemarahan, dan kebencian itu. Sebab, kecurigaan itu betul-betul fatal.

Kedua, mereka yang kontra dengan berbasiskan pada sikap yang berbeda dengan KH. Yahya Cholil Staquf. Mereka ini memiliki dasar dan bisa jadi bukan hanya kalangan di luar NU, melainkan di internal NU sendiri. Sebab, sebagaimana disampaikan KH. Said Aqil Siradj bahwa kunjungan itu tak mewakili NU. Mereka ini bersikap kontra karena menilai Israel sebagai entitas ilegal yang menjajah Palestina, sehingga eksistensinya juga ilegal dan harus dihapuskan dari peta dunia. Karena itu, mereka ini tak mau duduk dengan Israel dan berunding. Dalam konteks upaya memerdekakan Indonesia, mereka ini semacam kelompok muda yang berdiri di atas slogan “tuan rumah tak mau berunding dengan maling”. Karena itu, mereka ini bersikap tak setuju dengan menyampaikan kritiknya secara ilmiah, santun, dan konstruktif. Tak ada kecurigaan, apalagi kebencian. (Baca: “Palestina: Gus Mus, Puisi, dan Perlawanan“)

Adapun mereka yang pro, tentu tak menilai bahwa kunjungan tersebut adalah sikap permisif pada Israel. Kunjungan itu, sebagaimana dikatakan sendiri oleh KH. Yahya Cholil Staquf adalah bagian dari upaya untuk mendukung eksistensi Palestina. Namun, disbanding dengan mereka yang kontra berdasar, bedanya adalah bahwa mereka yang pro menilai perlu bersikap kooperatif dan duduk dengan orang-orang Israel untuk mengakhiri konflik berkepanjangan ini. Bisa jadi mereka ini setuju pada “solusi dua negara” yang memang menjadi sikap pemerintah Indonesia (juga mayoritas negara-negara di dunia dan PBB), yakni Palestina dan Israel sama-sama diakui dan hidup berdampingan, namun dengan batas wilayah bukan seperti yang tercatat saat ini, karena pemukiman ilegal Israel sudah dibangun sejak pertengahan tahun 1960-an, di mana titik itu harus menjadi titik kembali mengenai batas wilayah Palestina dan Israel.

Pada akhirnya, tentu tak ada masalah pada mereka yang pro maupu kontra dengan berdasar. Sesuatu yang lumrah bahwa setiap kita memiliki pandangannya sendiri terkait masalah dan formulasi solusi konflik Israel-Palestina. Yang masalah adalah mereka yang kontra secara tak berdasar, penuh kecurigaan. Sebab, mereka ini riskan menimbulkan singgungan hingga perpecahan dengan pihak yang pro. Padahal, salah satu penyebab tersudutnya posisi Palestina adalah lantaran terjadinya perpecahan di internal Palestina: antara Hamas dan Fatah. Sehingga, jika kita yang mau membantu juga mengalami perpecahan, bukankah kita takkan pernah bisa membantu Palestina? Dan, yang paling buruk, bukankah dengan perpecahan itu kita bukan hanya tak bisa membantu Palestina, tapi justru membawa salah satu pondasi utama problem di internal Palestina (yakni perpecahan) ke negeri kita sendiri?

Entah kenapa, akhir-akhir ini, masyarakat kita seolah gemar mencari-cari alasan untuk terpolarisasi dengan berdasar kecurigaan dan kebencian. Tak ada ruang di hati dan pikiran bagi kritik. Kritik berarti benci, karenanya ia harus dilawan dengan konflik.

 

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top