Connect with us

Ensiklopedi

Terima Kasih

Man lam yasykurinnâs lam yasykurillâh”, kata Nabi Muhammad saw., sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia tidak bersyukur kepada Tuhan.

Tuhan tidak menghadirkan anugerah secara langsung kepada manusia. Ada perantara penyampaian karunia Tuhan kepada manusia. Perantara itu antara lain  manusia lain.

Misalnya, kepemilikan uang adalah anugerah dari Tuhan. Pada prakteknya, Allah swt. tidak memberikan uang secara langsung kepada kita. Relasi dan kerabat merupakan sebagian entitas yang menjadikan uang itu sampai kepada kita.

Mengacu pada hadits Nabi di awal tulisan ini, seharusnya kita berterima kasih kepada pihak yang memperantarai kehadiran nikmat Tuhan itu. Jika kita tidak berterima kasih kepada pihak tersebut, maka kita dianggap tidak berterima kasih kepada Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan pun murka.

Kita saja potensial marah ketika menghadapi orang yang tidak tahu berterima kasih. Tuhan juga demikian: menghukum orang yang tidak bersyukur kepada-Nya.

Di Al-Quran disebutkan “lain syakartum, la azîdannakum, wa lain kafartum, inna  adzâbî la syadîd (Jika kalian bersyukur, maka akan Aku tambah [nikmatKu untuk kalian]; dan jika kalian ingkar [pada nikmatKu], sungguh siksaku teramat pedih)” (QS. Ibrahim: 8)

Tuhan akan menambahkan nikmat kepada manusia yang syukur nikmat. Sebaliknya, Tuhan akam memberi azab pada manusia yang kufur nikmat. Bentuk siksaan Tuhan atas pengingkar nikmat-Nya antara lain penghapusan nikmat tersebut yang diganti dengan hal yang lebih buruk darinya.

Contohnya, ada perempuan biasa yang dicintai pria luar biasa. Ternyata perempuan itu berselingkuh dengan pria lain. Padahal pria luar biasa itu adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk perempuan itu. Ketika  perempuan itu mengesampingkan anugerah terindah dari Tuhan, Allah mencabut nikmat yang telah diterimanya dan tak memberinya lagi anugerah yang lebih baik dari yang telah diberikan. Itu bentuk minimal dari siksa Tuhan untuknya yang mengingkari nikmat.

Hal serupa juga terjadi di ranah sosial yang lebih luas. Pada saat suatu negara dipimpin oleh presiden yang sederhana dan bekerja keras untuk perbaikan negara dan bangsa tapi rakyatnya tidak berterima kasih pada presiden itu, dan secara implisit, tidak bersyukur kepada Allah, maka Allah bisa mengganti presiden itu dengan orang yang jauh lebih buruk daripada presiden sekarang.

Nikmat Tuhan dengan demikian wajib disyukuri. Kebaikan orang lain pun harus diterimakasihi. Jika kita tidak berterima kasih kepada orang lain yang berbuat baik kepada kita, maka itu berarti kita tidak bersyukur kepada Allah dan akan mendapat hukuman dari-Nya, baik cepat maupun lambat. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top