Connect with us

Belajar dari Sayyidina Umar: Jangan Monopoli Kebenaran!

Artikel

Belajar dari Sayyidina Umar: Jangan Monopoli Kebenaran!

Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata, “Andai ada kabar dari langit bahwa semua manusia akan masuk surga dan satu orang yang masuk neraka, maka aku khawatir diriku yang satu itu.”Pertama-tama, kita tak bisa membayangkan jika salah seorang sahabat termulia, amirul mukmininmasih berkata seperti itu, lalu bagaimana dengan kita?

Ada pelajaran penting dari apa yang dikatakan Sayyidina Umar tersebut. Yakni bahwa seorang manusia sudah sepatutnya berhusnuzon pada orang lain mengenai keburukannya dan bersuuzon pada dirinya sendiri tentang kebaikannya. Dengan begitu, kita akan diliputi sikap ramah pada orang lain dan “keras” dalam mendidik diri untuk terus menaikkan level keimanan dan keislaman kita dari hari ke hari agar tak menjadi pribadi yang rugi, yakni pribadi yang hari besoknya tak lebih baik dari hari kemarinnya.

Namun, yang paling utama dan relevan dari apa yang diajarkan dari kata-kata Sayyidina Umar tersebut adalah sikap yang sebaliknya dari apa yang populer di tengah umat Islam saat ini, yakni sikap merasa diri paling benar, bahkan memonopoli kebenaran seolah hanya miliknya dan golongannya, sehingga melempar tuduhan salah, sesat, kafir, dan lain-lain pada orang atau kelompok lain. Jika kita bayangkan, mungkin jika mereka mendengar kabar dari langit bahwa semua orang akan masuk neraka dan hanya satu orang saja yang masuk surga, maka mereka akan merasa diri mereka yang satu itu.

Problem utama umat Islam sejak dulu dan tak kunjung selesai hingga kini adalah perasaan eksklusif, merasa dirinya paling benar dan yang lain salah. Sehingga, mereka begitu tertutup dan marah pada kritik orang lain padanya atau pendapat orang lain yang tak selaras dengan pendapatnya. Juga, begitu mudahnya menuduh salah, sesat, kafir, dan lain-lain pada diri orang lain.

Entah apa yang ada di pikiran mereka sehingga bisa merasa seperti itu. Padahal, Allah ajarkan bahwa rahmat-Nya lebih luas dari murka-Nya, Nabi ajarkan dalam beberapa kasus di mana Nabi sama-sama membenarkan dua pendapat yang berbeda di antara para sahabatnya, Sayyidina Umar mengajarkan kata-kata di atas, dan Imam Ghazali sampaikan bahwa kebenaran itu seperti cermin yang jatuh dari langit dan pecah di bumi yang serpihannya ke mana-mana dan dipegang oleh banyak orang serta golongan.

Lalu dari mana mereka belajar dan mengambil teladan?

Bisa jadi dari setan yang begitu sombong, merasa dirinya paling mulia dan merendahkan yang selain dirinya. Tak peduli meski kebenaran itu ia ketahui langsung dari Sang Maha Benar, ia tetap tak mau tunduk pada perintah Tuhan untuk sujud pada Nabi Adam.

Bagaimana seseorang bisa merasa memeluk kebenaran secara mutlak, sedangkan kebenaran yang mutlak itu seluas kekuasaan-Nya, sehingga Nabi sekalipun tetap terbuka pada musyawarah atau pendapat lain. Juga bagaimana bisa mereka merasa pemilik surga, sedangkan surga itu sepenuhnya milik Allah dan Allah sendiri yang memiliki hak preogratif atasnya. Sehingga, sebagaimana dikatakan Nabi dalam salah satu hadisnya, bahwa takkan masuk surga, termasuk Nabi sendiri, melainkan karena rahmat-Nya.

Maka, tak ada sikap terbaik kecuali sebagaimana ditampakkan Sayyidina Umar, dengan kita merasa bahwa diri ini hanya bisa berusaha mencapai kebenaran tanpa harus merasa paling benar. Serta tak perlu menuduh orang lain salah dengan pilihan jalannya.

Adapun dalam hubungannya dengan orang lain, tak sepatutnya kita berlomba-lomba dalam kebenaran. Karena selain itu tak diperintahkan Tuhan atas kita, itu juga perlombaan yang mustahil. Anda punya dalil, mereka juga punya. Anda yakin, mereka juga. Kebenaran itu letakkan di hati dan karenanya ia mustahil diketahui manusia.

Sedangkan yang jelas-jelas diperintahkan Tuhan atas kita adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Kebaikan letaknya di sikap dan laku di tengah masyarakat. Itulah yang bisa dinilai oleh manusia.

Kebaikan adalah output dari input sesuatu yang kita nilai benar. Maka, jika kita tak berperangai baik, meski kita tak bisa menuduhnya, kita bisa menyangsikan apa yang dinilainya benar. Apalagi, kalau sekadar senyum saja berat.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top