Connect with us

Ensiklopedi

Memberi Maaf

Apa yang layak dimaafkan? Jika pertanyaan itu disampaikan ke Jacques Derrida, maka jawabannya bukan sesuatu yang bisa dimaafkan, justru sesuatu yang tidak bisa dimaafkan.

Memaafkan sesuatu yang bisa dimaafkan bukan pemberian maaf yang sejati. Sesuatu yang bisa dimaafkan secara otomatis masuk di lingkup maaf. Sehingga sudah seharusnya dimaafkan.

Sesuatu yang tak bisa dimaafkan berada di luar jangkauan maaf. Perlu upaya keras bagi maaf untuk memeluknya. Justru di ranah yang tak tercakup oleh maaf itulah, pemberian maaf yang hakiki berada.

Jacques Derrida menyebut maaf yang bersentuhan dengan hal yang tak termaafkan sebagai “kemustahilan”. Saya tak setuju dengan pendapat filsuf Perancis kontemporer itu. Di tataran historis dan riil memaafkan sesuatu yang tidak termaafkan itu “mungkin”.

Yesus Kristus alias Nabi Isa Al-Masih adalah penganjur pemaafan hal yang tak termaafkan. Putra Maria itu bersabda: “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”(Matius 5: 39)

Nabi Muhammad SAW. juga mengajarkan hal serupa. Di suatu hadits, Rasulullah bersabda: “Faatbi’is sayyiatal hasanata tamhuha wa khaliqin nâsa bi khuliqin hasanin (Iringilah keburukan dengan kebaikan yang akan menghapus keburukan itu, dan berperilaku baiklah kepada manusia)”. (HR. Tirmidzi)

Keburukan tak dibalas dengan keburukan. Tak hanya kebaikan yang dibalas dengan kebaikan, keburukan pun direspon dengan kebaikan.

Rasulullah saw. mempraktekkan hal itu pada orang Yahudi buta di pasar Madinah. Tiap hari orang buta itu menghina dan mengfitnah Nabi Muhammad saw., tapi tiap hari pula Nabi memberinya makanan bahkan menyuapinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Di era kontemporer, Nelson Mandela melakukan hal yang sama. Meski didiskriminasi dan dipenjara oleh rezim aparteit, tokoh Afrika Selatan itu tak membalas dendam. Usai terbebas dari penjara dan perjuangannya melawan diskrimasi rasial berhasil, pemenang Nobel Perdamaian tahun 1993 itu memaafkan orang-orang yang memusuhinya.

Artinya, ajaran Yesus Kristus dan Nabi Muhammad itu tidak hanya berlaku pada nabi dan rasul. Orang yang tak mendapat wahyu Tuhan pun bisa melakukannya.

Kita, yang bukan nabi dan rasul ini, mungkin memaafkan tak hanya sesuatu yang bisa dimaafkan, tapi juga sesuatu yang tak termaafkaan.

Kita, anda atau saya, mungkin pernah dibohongi, dituduh macam-macam, disepelekan, dan disakiti. Saat tertimpa hal tersebut jiwa dan raga kita merasakan sakit tak terperi. Kekecewaan mungkin bergelombang. Emosi pun mungkin naik turun.

Bila gejolak itu kita pendam, jiwa kita akan rusak dari dalam. Jika perasaan itu kita lampiaskan, keburukan pada diri dan orang yang kita lampiasi akan mengentara. Baik memendam amarah dan kekecewaan atau melampiaskannya, sama-sama berakibat buruk. Oleh karena itu, maafkanlah siapa pun yang telah berbuat buruk kepada kita, saya atau Anda!

Bersama tulisan ini, saya mempraktekkan apa yang saya katakan di atas bahwa saya memaafkan orang yang telah berbuat buruk kepada saya. Salam damai. Selamat beridul fitri.[]

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top