Connect with us

Ensiklopedi

Meminta Maaf

Ada orang yang enggan meminta maaf meski salah. Orang itu adalah orang yang tidak berintropeksi diri, keras hati dan besar hati.

Tiap hari, dia mungkin selalu berkaca, bahkan mungkin dalam waktu lama, karena sehari-hari terbiasa menghiasi muka dengan full make up. Tapi yang dicermini hanya sisi luar dirinya, sehingga jati dirinya tak terperhatikan.

Ketika orang itu mengatakan sesuatu lalu mengingkarinya, dia tidak merasa sedang berbohong. Ketika orang itu bersikap ketus kepada orang tuanya dan orang yang mengasihinya, dia tidak merasa sedang bersikap buruk. Ketika orang itu mengabaikan anugerah Ilahi yang bermanifestasi melalui kehadiran seseorang, dia tidak merasa sombong. Ketika orang itu berselingkuh, dia tidak merasa berkhianat. Feeling guilty hilang dari diri yang tidak berintrospeksi.

Ketidakpedulian pada orang lain kerap mencuat pada orang yang terlalu sibuk dengan diri sendiri. Bagaimana mungkin seseorang akan memikirkan orang lain jika persoalan dirinya belum selesai?

Seseorang yang sejak kecil ditempa kehidupan yang keras, sangat potensial untuk berkutat dengan diri sendiri, berkepribadian keras dan anti sosial. Dunianya adalah dirinya. Prinsipnya sama dengan Inez, lakon di drama Huis Clos, karya Jean Paul Sartre, yang berkata “L’efer, c’est les autres“: neraka adalah orang lain. Orang lain adalah musuh.

Pandangan hidupnya kurang lebih: “Tak ada orang lain; yang ada diriku. Tak ada yang benar kecuali diriku. Jika ada orang lain keliru, maka selamanya dia keliru, karena yang benar hanya aku. Kalau pun aku salah, aku takkan salah. Orang lainlah yang salah, sementara aku selalu benar.”

Orang egois sedemikian rupa sulit untuk memaklumi orang lain. Dia menuntut dimaklumi, tapi enggan memaklumi. Karena itu, sulit untuk mendapatkan pemahaman darinya. Sulit pula mendapatkan maaf darinya, meskipun kesalahan yang dihadapinya berupa ketidaksengajaan atau ketidaktahuan yang ma’fu ‘anhu (forgivable/bisa dimaafkan).

Selain daripada itu, orang itu pun sulit meminta maaf. Dia orang sombong yang kadang tak mengakui kesombongannya, karena kesombongan identik dengan keburukan, sementara dia menganggap dirinya identik dengan “kebaikan”. Karena sombong, orang tersebut sulit mengakui kesalahan. Dia merasa selalu benar, sementara kesalahan dianggap berada di luar dirinya.

Di Lebaran yang bertradisi maaf-memaafkan, dia “mungkin” meminta maaf. Tapi, kemungkinan besar permohonan maafnya itu hanya mengikuti kebiasaan. Tak ada permohonan maaf yang tulus dari orang yang congkak. Permintaanmaafnya hanya “template” Idul Fitri.

Bila Anda merasa berkarakter seperti di atas, Anda sedang dalam masalah. Selama ini, Anda hanya berjalan di tempat. Beratnya kehidupan yang Anda jalani hanya berhasil membuat Anda keras. Kerasnya karakter diri justru akan menyulitkan diri, karena orang lain akan menjauh, padahal rezeki Tuhan dalam arti seluas-luasnya tidak langsung hadir pada seseorang, melainkan melalui orang lain.

Allah swt. berfirman: “Lau kunta fazhzhan ghalizhal qalbi lanfaddlu min haulik“. (QS. Ali Imran/3: 159) Jika kamu bersikap kasar dan berhati keras, maka orang-orang akan menjauh darimu.

Maka dari itu, lembutkanlah hati! Biasakan diri untuk introspeksi! Bila setelah “berkaca”, Anda menyadari kesalahan yang Anda lakukan, maka minta maaflah! Insyaallah, orang yang Anda salahi masih membukakan pintu maaf, dan menerima Anda apa adanya dengan kasih ala Tuhan Yang Maha Esa.[]

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top