Connect with us

Pelajaran Keberislaman dari Piala Dunia 2018

SUARA

Pelajaran Keberislaman dari Piala Dunia 2018

Setelah melewati babak penyisihan di Piala Dunia 2018 ini, minimal ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil untuk keberislaman kita. Yang pertama adalah mengenai nasib Jerman. Jerman kalah, kita heran tentang bagaimana jagoan lapangan hijau itu, mantan juara Piala Dunia 2014, dan label-label juara lainnya yang kita lekatkan pada Jerman, justru kalah di sekadar salah satu pertandingan di babak penyisihan. Terlebih ketika akhirnya Jerman tak lolos dari babak penyisihan. Pelajaran pentingnya adalah bahwa apa yang menurut pikiran, hitung-hitungan, angan-angan, dan segala sesuatu yang bersifat sangat manusiawi dari diri kita itu menang, juara, benar, dan lain sebagainya, belum tentu itu yang sebenarnya akan terjadi atau menjadi kehendak Tuhan atas diri atau dunia kita. Karena itu, di tengah keyakinan kita akan suatu kebenaran, ia tetaplah sifatnya spekulatif. Keyakinan adalah keyakinan. Dan kita bisanya memang itu. Betapapun teori yang kita bangun, hitung-hitungan yang kita kalkulasikan, dan lain sebagainya. Karena Tuhan memiliki “jalan pikiran-Nya” sendiri yang mustahil bisa kita jangkau kecuali gejala-gejalanya saja. Karena itu, yang bisa kita lakukan atas apa yang kita yakini, kita hitung, dan kita percaya, termasuk kebenaran agama sekalipun, kita sepatutnya rendah hati atas itu. Jauhkan diri dari apalagi memonopoli kebenaran, seolah hanya kita yang benar dan yang lain salah. Karena kebenaran sejati itu di langit, dan ketika ia jatuh ke bumi, ia pecah berkeping-keping di mana masing-masing kita kemudian memungut kepingannya. Ada yang memungut kepingan besar, ada yang kecil. Maka taka da upaya terbaik kecuali saling berprasangka baik, berangkulan, dan kemudian saling belajar tentang “kepingan” yang kita miliki dan orang lain miliki.

Terlebih buat Anda yang nge-fans pada Jerman dan menjagokannya di Piala Dunia 2018 ini. Ingatlah firman-Nya bahwa apa yang Anda suka belum tentu itu yang terbaik buat Anda. Begitu juga sebaliknya bahwa apa yang Anda benci kadang itu baik buat Anda. Maka, sesuka-sukanya Anda pada sesuatu, tetaplah beri ruang kritik dan kesiapan menerima pendapat orang lain tentang apa yang kita sukai. Begitu juga atas apa yang kita benci, berilah ruang untuk mendengar sesuatu darinya, siap mengubah persepsi kita tentangnya, serta meyakini bahwa bisa jadi ada kebenaran padanya. Sebab, hikmah itu bisa datang bahkan dari mulut seorang munafik.

Pelajaran keduanya tentang VAR, teknologi terbaru untuk melihat apa-apa yang tak terlihat oleh mata wasit tapi tertangkap oleh mata kamera. Fungsinya tentu adalah meningkatkan kualitas penilaian untuk menjunjung sportivitas. VAR sebenarnya adalah otokritik atas diri kita, akan lemahnya kita dalam mengontrol dan menilai diri sendiri sehingga kita mempercayakannya pada apa yang kita ciptakan, sedangkan Tuhan sebenarnya telah menciptakan nurani dalam diri setiap manusia yang jauh lebih canggih ketimbang teknologi apapun yang telah, sedang, atau akan kita ciptakan.

Sehingga, pada akhirnya, keadilan tetaplah hanya bisa kita dapatkan dari Tuhan juga, karena betapapun VAR diciptakan untuk mengontrol diri kita, tetaplah ia ciptaan kita yang bisa salah, bisa dikibulin, dan lain sebagainya. Maka, renungannya adalah bahwa pada akhirnya kita hanya bisa menuntut keadilan hanya di hadapan-Nya kelak, sehingga dengan iman itu kita tak pernah putus asa atas keadilan yang kita harapkan dan mereka yang telah berlaku tak adil harus merenungkan bahwa mereka takkan lepas dari pengadilan akhir yang hakimnya adalah Tuhan Yang Maha Adil.

Tentu renungan ini bukan mau meng-absurd-kan upaya supremasi keadilan di dunia. Upaya itu tetap penting dan patut diperjuangkan sebagaimana kita memperjuangkan upaya mencari kebenaran yang semakin dekat pada kesejatian setiap saat melalui pembelajaran atas gejala-gejalanya. Namun, kesadaran bahwa kebenaran dan keadilan sejati hanya pada-Nya itu patut dipancangkan di benak kita agar kita terus rendah hati atas keyakinan kita dan tak putus asa atas perjuangan menuntut keadilan.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top