Connect with us

Teologi Islam di Universitas Hamburg, Jerman

MARJA

Teologi Islam di Universitas Hamburg, Jerman

Pemerhati Islam di Jerman tidak selalu mengkaji Islam secara kritis ilmiah. Islam juga dipelajari di Jerman sebagai sesuatu yang diimani dan dipraktekkan. Pengajaran dan penelitian Islam berbasis iman yang bernuansa praktis itu antara lain diselenggarakan di Universitas Hamburg, Jerman; tepatnya di jurusan Akademi Agama Dunia (Akedemie der Weltreligionen). Salah satu profesor pengajar Islam sedemikian rupa adalah Profesor Serdar Kurnaz.

Profesor Serdar Kurnaz (tengah) bersama para profesor Universitas Hamburg, Jerman, jurusan Akademi Agama Dunia.

Dalam dialog dengan para peserta program studi “Life of Muslims in Germany” 2018, Profesor Kurnaz membedakan antara “Islamiche wissenchaft” (Kajian Keislaman) dan “Islamische Theologie” (Teologi Islam). Yang pertama adalah kajian Islam secara teoritis ilmiah kritis, sedangkan yang kedua adalah kajian Islam secara praktis berbasis iman kepada ajaran Islam.

“Islamische Wissenchaft” bisa dipelajari siapa saja yang punya minat mengkaji Islam dan muslim. Ilmu-ilmu sosial humaniora diterapkan dalam ranah “Kajian Keislaman”. Islam dan muslim dilihat apa adanya dari berbagai sudut secara kritis dan ilmiah, tanpa memerlukan keyakinan pada Islam itu sendiri. Non muslim pun dipersilakan berkecimpung dalam “Islamische Wissenchaft”.

Sebaliknya, akses ke ranah “Islamische Theologie” tak seleluasa akses ke ranah “Islamische Theologie”. Pengajar Teologi Islam harus muslim, sementara peserta didiknya tak harus muslim. Mengapa ada syarat Islam pada pengajaran Teologi Islam di Jerman, karena ranah tersebut terkait dengan sesuatu yang diimani dan dipraktekkan.

Di Jerman, ranah “Islamische Theologie” tak sebatas mengajarkan Kalam, tapi juga sampai ke ranah fikih. Di Akedemie der Weltreligione, Universität Hamburg, misalnya, Profesor Kurnaz juga menangani pelatihan para guru agama Islam dan para imam di masjid-masjid. Dengan begitu, ranah “Islamische Theologie” juga merambah ke dakwah juga.

Apa yang dilakukan Akademi Agama Dunia, Universitas Hamburg melalui program Teologi Islam itu termasuk baru di Jerman. Menurut Janan, kandidat doktor di jurusan tersebut, program Teologi Islam ala Jerman yang lebih terlibat langsung ke dalam wilayah internal Islam dimulai sejak peristiwa 9 September 2001 (pengeboman World Trade Center di Amerika Serikat).

Jerman yang pada dasarnya negara sekular yang membiarkan agama apapun berkembang, dan tidak mau campur tangan terhadap hal ihwal internal agama dan komunitas agama, berhajat untuk mengetahui bahkan terlibat di hal yang selama ini diabaikan itu. Sehingga, masjid-masjid/pusat budaya Islam yang sebelum peristiwa 9/11 berkembang tanpa pengawasan, mulai dideteksi.

Terlebih+ masjid-masjid yang berada di Jerman selama ini berafiliasi dengan bangsa-bangsa luar Jerman yang pada titik tertentu berkubu-kubu dan saling menafikan antara satu dan lain. Oleh karena itu, Jerman berharap memiliki imam-imam masjid asli Jerman, atau minimal imam-imam masjid dari luar Islam yang bisa beradaptasi secara positif dengan masyarakat Jerman. Di titik itulah, Akademi Agama Dunia, Universitas Hamburg, Jerman, mengambil bagian: mengajarkan dan meneliti agama Islam sebagaimana diyakini umat Islam untuk dipraktekkan seideal mungkin.

Bila Anda praktisi Islam, ranah “Islamische Theologie” cocok untuk Anda. Namun, jika Anda lebih suka memperhatikan hal ihwal te Islam dari sudut pandang yang lebih berjarak karena hendak mendapatkan objektifitas, maka Anda lebih baik berkutat di ranah “Islamische Theologie”. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top