Connect with us

Jerman yang “Islami” meski bukan Islam

MARJA

Jerman yang “Islami” meski bukan Islam

Jerman bukan negara Islam. Tapi nilai-nilai keislaman diterapkan dengan baik di Jerman. Karena itu, tak berlebihan bila dikatakan bahwa Jerman adalah negara yang “Islami”, meski bukan negara Islam.

Muslim di Jerman hanya 5,7 persen dari keseluruhan populasi rakyat Jerman. Umat Kristiani dan orang-orang agnostik/ateis/tak beragama lebih dominan di Jerman. 58 persen orang Jerman adalah Katholik atau Kristen Protestan, sementara 38 persennya adalah orang-orang yang tak bertuhan atau tak berafiliasi dengan agama resmi tertentu. Meski demikian, intisari ajaran Islam dipraktekkan oleh masyarakat yang lebih banyak non Muslimnya itu.

Salah satu sisi Islami masyarakat Jerman adalah keberadaan “khiyar“. Dalam hukum Islam, seseorang yang membeli sesuatu memiliki hak “khiyar”, yaitu mengembalikan barang yang telah dibeli sekiranya sang pembeli tidak cocok dengan barang yang telah dibeli itu.

Di Jerman, khiyar diselenggarakan di kios kecil maupun di supermarket. “Khiyar” pembelian kaos di kios, misalnya, hingga satu minggu. Sementara “khiyar”, pembelian jaket di supermarket hingga satu bulan. Yang luar biasa adalah bahwa sang penjual memberi tahu hal itu kepada pembeli, dan pembeli bisa menerapkan “khiyar”nya dengan menunjukkan struk belanja barang yang telah dibeli.

Kedua, masyarakat Jerman pada umumnya sederhana. Meskipun berpenghasilan cukup, mereka tak berhasrat membeli mobil pribadi. Ke mana-mana mereka menggunakan angkutan umum, sepeda atau jalan kaki.

Salah satu contohnya pemateri di program studi “Life of Muslims in Germany” 2018. Suzanne Kaiser berangkat dan pulang presentasi di hadapan orang-orang dari luar negeri dengan menggunakan sepeda. Hal serupa sulit didapatkan di Indonesia yang kerap kali didapati orang yang penuh gengsi, meski sebenarnya jatuh bangun menjalani hidup ini.

Suzanne Kaiser

Ketiga, disiplin. Orang-orang Jerman membiasakan diri tepat waktu. Ketika suatu momen ditetapkan, maka orang-orang di Jerman memacu diri untuk memenuhinya. Terlebih bila momen itu terkait dengan perjalanan sekelompok orang. Anda terlambat satu atau dua menit karena ke toilet, misalnya, Anda bisa tiba-tiba ditinggalkan rombongan.

Kedisiplinan tersebut terkait dengan ketaatan orang-orang di Jerman pada aturan. Perwujudannya antara lain di ranah lalu lintas.

Di Jerman, lampu merah tak hanya berlaku bagi kendaraan bermotor. Pejalan kaki pun menaati trafic light. Saat lampu merah untuk pejalan kaki menyala, orang-orang di Jerman berhenti berjalan, meskipun tidak ada kendaraan yang melintas.

Ada semacam embeded rule pada diri orang Jerman laiknya Immanuel Kant. Sehingga, suatu aturan berjalan dengan baik, seiring dengan kesadaran tiap individu untuk menaati aturan itu. Yang ideal di catatan terwujud kongkret di kenyataan. Itu sisi keempat keislamian Jerman.

Sisi kelimanya kebersihan. Orang Jerman mungkin tidak mengenal kalimat “An-nazhafatu minal iman“. Toilet umum Jerman juga tidak disemati tulisan “Kebersihan sebagian dari iman”. Tapi, masyarakat Jerman hidup bersih. Ruang publik bersih. Sarana makan mereka pun bersih, tak menyisakan makanan.

Hal tersebut terkait dengan tindakan anti mubazir. Pencuci piring di kantin kampus, misalnya, marah ketika masih ada sisa makanan di piring makan kita. Mereka terbiasa makan secukupnya; bila kurang, silakan nambah; yang penting dihabiskan. Di situ, mereka selaras betul dengan prinsip anti mubadzir di Islam yang menyatakan bahwa “orang mubadzir adalah teman setan”. Itu keislamian Jerman yang keenam.

Keislamian Jerman yang ketujuh adalah kejujuran. Budaya Jerman mengajarkan warganya jujur, yang notabene hal fundamental dalam Islam.

Nabi Muhammad saw. mendapat julukan “Al-Amin”: orang yang terpercaya. Ketika ada tukang maksiat hendak masuk Islam, Rasulullah pun tak menyuruhnya syahadat dan shalat, tapi menyuruhnya jujur. Karena itu tak berlebihan jika kejujuran dikatakan sebagai salah satu pondasi Islam.

Di Jerman, pondasi Islam itu antara lain diajarkan di angkutan umum: kereta api dan bus. Pembelian karcis dilakukan berdasarkan kesadaran. Pemeriksaan karcis hanya sesekali di dalam gerbong kereta/bus secara acak. Meski demikian, orang-orang di Jerman tetap membeli karcis melalui mesin, dan secara tidak langsung dibiasakan untuk bertindak jujur.

Tak hanya masyarakat umum yang bersikap “Islami”, pemerintahan Jerman juga melakukan hal serupa. Keislamian pemerintahan Jerman antara lain tampak di dua hal: toleransi dan bantuan pada pihak lain.

Jerman adalah negara yang toleran, seiring dengan posisinya sebagai negara sekular. Semua kepercayaan dibiarkan hidup di Jerman tanpa diintervensi oleh negara. Karena itu, aliran-aliran Islam yang sulit hidup di negara berpenduduk mayoritas muslim, bisa bebas berkembang di Jerman: misalnya aliran Ahmadiyah, Alevi dan Islam liberal. Jerman, dalam hal ini, menerapkan prinsip: “lakum diînukum wa liya dîn” (bagimu agamamu bagiku agamaku).

Konsep toleransi tersebut dipadukan dengan konsep empati. Jerman tak hanya menerima keragaman, tapi juga membantu pihak lain yang kesulitan. Hal itu tampak, antara lain, pada penanganan pengungsi.

Tahun 2015, Jerman menerima satu juta pengungsi dari Syiria. Korban konflik di Timur Tengah itu tak hanya ditampung, tapi dibiayai dan diajari juga untuk bertahan hidup dan berintegrasi dengan masyarakat Jerman. Yang dilakukan Jerman itu merupakan perwujudan dari hadits “irhamû man fil ardli yarhamukum man fis-samâ’.” (kasihilah makhluk di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu).

Bukankah, dengan begitu, Jerman “Islami” meski dimayoritasi oleh non-muslim? []

 

 

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top