Connect with us

Jerman: Mengingat Yang Lama, Mencipta Yang Baru

MARJA

Jerman: Mengingat Yang Lama, Mencipta Yang Baru

Sementara umat Islam Indonesia yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) berpedoman pada adagium “Al-Muhâfazhah ‘alal qadîmish shâlih wal akhdzu bil jadîdil ashlah (menjaga tradisi lama yang bagus dan mengambil hal-hal baru yang lebih bagus)”, orang-orang Jerman mempraktekkan prinsip yang saya formulasikan berbunyi: “remembering the past and making the new (mengingat yang lama dan menciptakan yang baru)”

Masyarakat Jerman tidak hanya “menjaga” hal-hal yang bagus, tapi juga “mengingat” hal-hal yang buruk. Yang dilakukan orang-orang Jerman pun tak hanya “mengambil” hal-hal yang baru, tapi juga “mencipta”nya.

Kebaikan, kebenaran dan keindahan yang lama memang patut dijaga. Masyarakat Jerman, misalnya, membuat suatu komplek bernama Pulau Museum (Museumsinsel) di Berlin. Isinya beberapa museum, yaitu Altes Museum  (Museum Lama), Alte Nationalgalerie (Galeri Nasional Lama), Neues Museum (Museum Baru), Bode Museum dan Pergamon Museum.

Museumsinsel Berlin

Di museum tersebut, warisan dunia dari Timur hingga Barat, dari dulu hingga sekarang, dipelihara, untuk diingat dan dikembangkan. Museum Pergamon, misalnya, menyimpan Gerbang Ishtar dari peradaban Babilonia , Gerbang Pasar Miletus dari peradaban Romawi dan Hall Mshatta dari peradaban Islam Dinasti Umayah. 

Gerbang Ishtar Babilonia di Museum Pergamon, Berlin

Di Jerman, hal-hal yang buruk pun diingat: tentu saja, bukan untuk dipelihara dan dikembangkan, melainkan untuk tidak diulangi. Jerman pernah mengalami masa politik yang keras dan rasialis, dimana Nazi membantai orang-orang Yahudi. Jerman juga mengalami perpecahan di masa Perang Dingin, hingga muncul Jerman Barat dan Jerman Timur yang dipisahkan antara lain dengan Tembok Berlin.

Pasca Holocoust (pembataian dan  pengusiran Yahudi oleh Nazi) dan Perang Dingin, pemerintah Jerman menciptakan monumen Holocoust dan monumen Tembok Berlin. Diharapkan pengalaman buruk Jerman di masa lalu itu tak berulang di mana-mana.

Monumen sisa Tembok Berlin

Jerman tak hanya berkutat dengan masa lalu. Masa kini pun diperbaiki sedemikian rupa, hingga menjadi “Islami”, meski muslim merupakan minoritas di Jerman. (Baca: Zainul Maarif, “Jerman yang “Islami” meski bukan Islam“, Syiar Nusantara, 19 Juli 2018).

Dalam mengisi masa kini, Jerman tak hanya “mengambil”, tapi juga “menciptakan” hal-hal yang baru. Kreasi Jerman dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi terkenal di dunia. Filsuf-filsuf besar bermunculan dari Jerman dengan ide-ide baru, demikian pula, para pemenang Nobel dan alat-alat canggih.

Jerman, dengan begitu, seimbang di antara hal ihwal yang lama dan hal ihwal  yang baru. Yang lama tak dilupakan, melainkan diingat: di mana yang baik dipelihara untuk dikembangkan, sementara yang buruk diingat untuk tidak diulangi. Adapun hal-hal yang baru, orang-orang Jerman adalah kreator yang jitu.

Keseimbangan di antara tradisi dan modernitas tersebut patut ditiru, karena “khairul umûri awsatuhâ” (yang terbaik adalah yang tengah-tengah). []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top