Connect with us

Sekularisme Jerman dan Islam

MARJA

Sekularisme Jerman dan Islam

Jerman adalah negara sekular yang unik dan patut menjadi contoh. Untuk mengetahui keunikannya, perlu diketahui terlebih dahulu peta keragaman sekularisme.

Sekularisme itu tak satu model. Ada beragam bentuk sekularisme, antara lain: (1) pelarangan agama oleh negara, (2) privatisasi agama yang terpisah dari negara (3) implisitasi agama di dalam negara, atau (4) netralitas negara di hadapan agama yang dibebaskan.

Sekularisme model pertama diselenggarakan antara lain oleh negara-negara komunis. Uni Soviet zaman Lenin dan Stalin pernah menerapkannya. Begitu juga China masa Mao Zedong. Negara-negara tersebut di waktu itu menganggap agama sebagai candu yang tak layak ada di hati rakyat apalagi di ranah publik. Agama, dengan kata lain, menjadi sesuatu yang terlarang di sekularisme pertama.

Sekularisme kedua disebut sebagai Laicite. Turki zaman Mustafa Kamal At-Tatruk dan Perancis merupakan salah satu pelaksananya. Agama dilarang hadir di tengah publik, apalagi di dalam sistem dan struktur negara. Namun, berbeda dari sekularisme model pertama, sekularisme model kedua masih memberi ruang bagi agama untuk hidup di ranah pribadi, keluarga dan komunitas. Pemeluk kepercayaan tertentu masih bisa menjalankan kepercayaannya di ruang privat.

Sekularisme ketiga adalah sekularisme yang antara lain dilaksanakan di Indonesia. Indonesia bukan murni negara sekular, karena agama diberi porsi besar di dalam sistem negara, terbukti dengan adanya Kementerian Agama. Indonesia juga bukan murni negara agama. Tapi, nilai-nilai keislaman menginspirasi keberadaannya. Buktinya, Pancasila, yang menjadi ideologi dasar negara Indonesia, selaras dengan ajaran Al-Quran. (Baca: Zainul Maarif, “Khilafah HTI atau PBNU Madani?“, Syiar Nusantara, 05 Mei 2018). Maka, tak berlebihan bila dikatakan bahwa Indonesia termasuk negara “sekular” model ketiga.

Jerman bisa dikategorikan sebagai negara sekular model keempat. Di satu sisi, Jerman bersikap netral terhadap semua agama yang ada di sana. Tak ada satu agama pun yang diunggulkan daripada agama lain, termasuk agama Kristiani yang dominan dipeluk warga Jerman. Di sisi  lain, orang yang berada di Jerman dibebaskan untuk menjalankan dan mengekspresikan keyakinannya. Oleh karena itu, beragam aliran Islam, misalnya, bisa hidup bebas di Jerman.

Tak hanya Islam Sunni yang dijalankan orang Islam di Jerman, aliran Islam yang tak umum di Indonesia juga ada di sana. Dari keseluruhan populasi umat Islam di Jerman, Muslim Sunni 74,1 persen; Muslim Alevi 12.7 persen; Muslim Syiah  7.1 persen; Muslim Ahmadiyah 1.7 persen; dan Muslim aliran lain 4.4 persen. (data Deutsche Islam Konferenz, Juli 2018)

Ragam aliran Islam itu bisa mendirikan masjid sendiri-sendiri. Bahkan Islam liberal yang lintas aliran Islam pun bisa memiliki masjid dan menjalankan ibadah secara unik, di mana perempuan diperbolehkan mengimami pria, perempuan diperbolehkan menjadi khatib jumat, dan shaf shalat jamaah diperbolehkan diisi oleh campuran gender.

Minoritas, baik Islam secara umum maupun aliran kecil Islam secara khusus, bisa hidup bebas di negara sekular semacam Jerman. Bagaimana dengan minoritas di Indonesia? Akankah relasi negara dan agama di Indonesia dijadikan seperti di Jerman supaya siapapun lebih leluasa menjalankan keyakinannya? []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top