Connect with us

Antum Aja Beda Pendapat, Masak Ane Gak Boleh?

SUARA

Antum Aja Beda Pendapat, Masak Ane Gak Boleh?

Akhir-akhir ini, kerap beredar video yang memperlihatkan perbedaan pendapat antara ustaz-ustaz Salafi-Wahabi yang biasa mengisi video-video di Youtube. Misalnya, mengenai kebolehan berdakwah di pasar. Salah seorang ustaz memperbolehkannya, ustaz yang lain melarangnya. Dalam beberapa perkara, mereka juga berbeda pendapat. Perbedaan itu bisa lantaran berbagai hal, baik perbedaan penafsiran atas dalil yang sama, penggunaaan dalil yang berbeda, pertimbangan kondisi, dan lain sebagainya.

Ustaz-ustaz itu adalah mereka yang selama ini mempromosikan prinsip “kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah” dan menganggap yang berbeda dengan mereka seolah lantaran tak sepenuhnya kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, nyatanya di internal mereka sendiri terjadi perbedaan pendapat, meski rujukannya sama: Al-Qur’an dan Sunnah. Apa penyebabnya? Itulah yang selama ini seolah tak dipahami oleh mereka dan pengikutnya, bahwa sama-sama kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah bukan jaminan bahwa akan hasilkan pendapat yang sama. Sebab, rujukan boleh sama dan wajib merujuk utamanya pada keduanya karena memang keduanya adalah sumber hukum Islam. Namun, hasilnya memang bisa jadi berbeda. Karena ketika kembali pada keduanya, yang kembali adalah kita dengan akal kita mealui berbadai pendekatan dan kajian, yang terbuka peluang untuk berbeda dalam menghasilkan kesimpulan.

Maka, pertanyaannya adalah, jika di antara mereka saja bisa timbul perbedaan, apalagi dengan kita? Lalu, apakah perbedaan di antara mereka berarti bahwa salah satunya salah, sesat, dan lain sebagainya? Tentu tidak!

Perbedaan semacam itu sesuatu yang lumrah. Yang jangankan pada kita, pada sahabat-sahabat Nabi Muhammad dan imam-imam mazhab juga terjadi. Oleh karena itu, Allah dalam Al-Qur’an mempromosikan prinsip musyawarah di tengah perbedaan pendapat. Bukan justru berkonsensus untuk kemudian menghakimi yang di luar konsensusnya adalah salah, sesat, dan lain-lain.

Oleh karena itu, yang utama harus dilakukan dalam melihat perbedaan pendapat orang atau kelompok lain mengenai suatu masalah bukan pada produknya, melainkan metodologinya. Sebab, sebuah pendapat tidak lahir dari kepala kosong. Ia bukan prematur. Ia memiliki basis dalil dan metodologi yang karenanya ia patut dihormati, sebagaimana Allah juga akan menghormatinya atas usahanya mencapai kebenaran yang jika ‘pun salah, sebagaimana dalam hadis tentang ijtihad, ia berpahala satu. Sebab, kebenaran sejati hanya milik Allah. Kita hanya bisa mendatanginya, bahkan sebagian ulama menyebut hanya bisa mendekatinya, dari berbagai arah: kanan, kiri, depan, atau belakang. Yang dari depan, jangan menghakimi yang dari belakang. Begitu pula di antara yang datang dari kiri dan kanan.

Di samping itu, di tengah perbedaan pendapat, prinsip yang harus dipegang erat adalah radikal dalam berpikir dan moderat dalam bertindak. Sebab, sikap moderat akan lahir dari pikiran yang radikal. Jika kita betul-betul menyelami pemikiran Islam yang memang memungkinkan untuk berbeda pendapat dan itu diperlihatkan oleh realitas sejarah pemikiran Islam, maka kita akan moderat dalam bertindak: memandang dan menyikapi pendapat lain.

Namun, ironisnya yang terjadi dan berkembang akhir-akhir ini di tengah kalangan radikal muslim adalah prinsip sebaliknya: radikal dalam bertindak dan dangkal dalam berpikir. Kedangkalan pikiran memang akan menyebabkan kita rabun atau buta akan keragaman tafsir dan pemikiran, sehingga otomatis akan mudah menyalahkan, menyesatkan, hingga mengkafirkan.

Realitas perbedaan pendapat yang kita dapati di antara tokoh Salafi-Wahabi itu adalah pelajaran bahwa di antara mereka yang begitu ketat dan eksklusif ‘pun, perbedaan pendapat tak terhindarkan. Apalagi di antara mereka dan Ahlus Sunnah wal Jamaahatau mazhab-mazhab Islam lainnya. Maka, taka da jalan lain di tengah keragaman pendapat itu adalah sikap moderat, toleran, dan ukhuwah. Tanpa itu, jangankan dengan pihak lain, dengan diri kita mungkin kita akan berkonflik antara pendapat kita di zaman dahulu (qaul qadim)dan saat ini (qaul jadid)yang kadang terjadi. Ya masak Anda mau mengkafirkan diri Anda sendiri? Aya-aya wae!

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top