Connect with us

Islam dan Bangsa di Jerman dan Indonesia

MARJA

Islam dan Bangsa di Jerman dan Indonesia

Orang Indonesia sepatutnya bersyukur karena relasi Islam dan bangsa di Indonesia bisa dibilang bagus sejak awal pembentukan negara bangsa Indonesia. Syukur itu akan terasa bila Indonesia dibandingan dengan Jerman dalam hal Islam dan bangsa.

Sampai sekarang, warga Jerman masih bermasalah dalam wacana kebangsaan. Jerman pernah terpecah menjadi dua: Jerman Barat dan Jerman Timur. Setelah Jerman bersatu, warga Jerman memilih sistem federal yang memberi independensi bagi negara-negara bagian Jerman. Karena itu, Jerman tidak seratus persen utuh sebagai satu kesatuan. Ketika ada yang mengatakan “Jerman”, maka pertanyaan “Jerman yang mana?” mungkin mencuat.

Konsep kebangsaan yang “tidak utuh” itu menimbulkan persoalan lanjutan ketika umat Islam berduyun-duyun ke Jerman. Seperti terungkap di tulisan “Kehadiran Muslim di Jerman“, orang-orang Islam masuk ke Jerman secara masif pada tahun 1960an dan 2015an. Di tahun pertama, umat Islam hadir sebagai “guest workers“: tamu yang bekerja membangun ulang Jerman yang hancur. Di tahun kedua, umat Islam hadir sebagai pengungsi dari kawasan Timur Tengah yang berkonflik.

Seiring dengan “ketidakutuhan” konsep kebangsaan Jerman, maka imigran atau pengungsi Muslim membawa Islam dari kampung halaman “secara murni” berikut segala tetek bengeknya, tanpa mengkaitkannya dengan lokalitas di Jerman.

Kebaikan pemerintah Jerman memungkinkan umat Islam tersebut membangun masjid sesuai dengan bangsa asal mereka berikut aliran keberislaman mereka. Umat Islam dari Turki, misalnya, membangun masjid-masjid Turki beraliran Sunni yang menggunakan bahasa Turki dalam khutbah Jumat. Misalnya, Masjid Sehitlik di Berlin.

 

Masjid komunitas Turki di Berlin

Umat Islam dari Mesir juga melakukan hal serupa. Contohnya, Masjid At-Takwa, di Gottingen, yang mendapat kiriman imam masjid dari Universitas Al-Azhar setiap tiga tahun, yang bertugas menjadi kadi bagi umat Islam asal Mesir di Jerman.

Masjid masyarakat Mesir di Gottingen, Jerman

Umat Islam dari Indonesia demikian juga: membangun Masjid Al-Falah di Berlin, yang menggunakan bahasa Indonesia dalam khutbah Jumat, dan lebih fokus pada hal ihwal orang Indonesia.

Masjid komunitas Indonesia di Jerman

Singkat kata, umat Islam di Jerman yang notabene imigran, pengungsi atau pelajar, berkutat dengan asal-usul masing-masing, dan, pada tataran tertentu, “tidak peduli” pada kebangsaan Jerman yang memang “kurang utuh” itu. Islam di Jerman tak berjangkar kuat dengan bangsa Jerman. Sulit ditemukan adanya “Muslim Jerman”. Yang ada “Muslim Turki di Jerman”, “Muslim Arab di Jerman”,  dan lain-lain.

Akibat dari kerapuhan nasionalitas Jerman pada diri Muslim di Jerman, gerakan Islam trasnasional mudah untuk mempengaruhi Muslim di Jerman. Misalnya, ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), yang mengkampanyekan pembentukan khilafah, berhasil merekrut 300an Muslim dari Jerman untuk menjadi kombatan. Untuk ukuran Eropa, jumlah itu banyak.

Mengapa ISIS mudah mempengaruhi Muslim di Jerman? Penyebabnya antara lain karena wacana “relasi Islam dan bangsa” belum selesai di Jerman, seiring dengan belum selesainya wacana kebangsaan pada Jerman itu sendiri.

Karena itu, masyarakat Indonesia patut bersyukur bahwa Islam telah dicangkokkan dengan konsep kebangsaan Indonesia, antara lain dengan penyelarasan Pancasila dan prinsip-prinsip Islam, dan dengan pernyataan ulama Indonesia bahwa “Hubbul wathân minal îmân” (cinta tanah air dan bangsa adalah sebagian dari iman).

Bila cinta tanah air dan bangsa dihapus dari hati umat Islam, maka ketidakpedulian pada tanah air dan bangsa bisa muncul, dan pada tataran tertentu, bisa menimbulkan kekacauan yang tak terperikan. Na’ûdzubillâh! []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top