Connect with us

Menteri Susi, Bismillah, dan Salawat

SUARA

Menteri Susi, Bismillah, dan Salawat

Ketika sedang blusukan ke laut baru-baru ini, beredar video yang memperlihatkan Bu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan menyampaikan pesan pada nelayan yang ditemuinya di tengah laut: “Sampeyan kalau mau lempar jarring baca salawat. Bismillah saja tak cukup.”

Pernyataan itu viral. Tentu menjadi menarik karena yang menyampaikannya Bu Susi. Kalau yang menyampaikannya ustaz atau ulamasih biasa saja. Namun, Bu Susi lho! Yang oleh sebagian kita dinilai kontroversial itu. Dan, sontak pelajaran pertama dari peristiwa itu adalah agar kita berhenti menilai seseorang dari penampilan luarnya dan mari membiasakan mengambil hikmah dari siapa saja.

Selanjutnya, dalam perspektif ajaran Islam, apa yang disampaikan Bu Susi itu sungguh berdasar dan memang menjadi salah satuwejangan ulama. Misalnya Kiai Sholeh Darat, ulama besar Nusantara yang juga guru RA. Kartini, dalam kitab Minhajul Atqiyasyarah Hidayatul Adzkiya ila Thariqil Awliya’, menulis sebuah ajaran tentang amalan “Basmalah”:

“Berkata Sayidis Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani Al-Hasani: “Jika kalian ingin sampai pada derajat “Kekasih Allah atau orang saleh”, maka bangunlah setiap sepertiga malam terakhir, kemudian bacalah “Bismillaahirrahmaanirrahiim” sebanyak hitungan jumlah hurufnya berdasarkan abjad”. Kemudian bacalah shalawat nabi sebanyak bilangan nama Nabi Muhammad. Lalu berdoalah kepada Allah, “Ya Allah, dengan hak Bismillahirrahmanirrahim jadikanlah hamba termasuk golongan hamba-Mu yang saleh”.

Salawat memang dijelaskan oleh para ulama sebagai semacam penggandeng “Basmalah”dalam doa. Oleh karena itu, dalam tradisi muslim di Nusantara, khususnya di kalangan habaib dan nahdliyin, hampir setiap acara berdoa selalu diisi juga dengan pembacaan salawat dan maulid Nabi Muhammad.

Tentu, pertama-tama lantaran memang salawat memiliki posisi penting dalam ajaran Islam. Ia menjadi satu-satunya amalan dalam Al-Qur’an yang ketika Allah memerintahkannya pada umat Islam, Allah firmankan juga bahwa Dia sendiri dan para malaikat juga –terlebih dulu- bersalawat kepada Nabi Muhammad. Begitu agungnya salawat.

Sejak awal, salawat tidak dalam posisi untuk menunjang kemuliaan Nabi. Tidak pula menurunkan derajat Nabi jika tak dilakukan oleh umatnya. Sebab, Nabi adalah sosok agung yang sudah dipuji oleh yang Maha Agung. Sehingga, fungsi salawat bagi umat Nabi justru untuk memuliakan dan menurunkan keberkahan bagi pembacanya. Nabi itu diibaratkan gelas yang penuh dengan air yang salawat kita seperti menambahkan air ke dalamnya sehingga pastilah tumpah dan tumpahan itulah yang kita harapkan, di mana air yang kita tuang itu sudah bercampur dengan air keagungan Nabi yang menyebabkan tumpahan air itu berubah menjadi berkah yang didapatkan dari interaksinya dengan air Nabi.

Secara filosofis, doa dan “Basmallah” diperintahkan untuk digandeng dengan salawat lantaran memang Allah dan Nabi tak boleh dipisahkan oleh kita. Al-Qur’an memerintahkan kita taat pada Allah dan Nabi. Sumber hukum Islam adalah firman-Nya dan sabda Nabi. Jalan keselamatan di akhirat dengan ampunan-Nya atau syafaat Nabi. Allah dan Nabi selalu bergandengan. Mustahil dipisahkan. Sebab, tanpa Nabi, mustahil kita bisa mengenal dan menyembah-Nya dalam keharibaan Islam. Maka tentu adalah kesombongan dan kebodohan jika kita berpikir mungkin sampai pada Allah tanpa Nabi.

Oleh karena itu, dalam doa, kita diajarkan untuk mengawalinya dengan “Basmalah” dan salawat. Tanpa salawat, doa bagaikan burung yang terbang tanpa satu sayap, sehingga niscaya ia takkan pernah sampai pada Allah. Dan, sesuatu yang begitu penting dan mendalam dalam Islam itu diajarkan beberapa waktu lalu oleh seorang Bu Susi.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top