Connect with us

Dari Manuskrip ke Manusia: Objek Kajian Islam di Jerman

MARJA

Dari Manuskrip ke Manusia: Objek Kajian Islam di Jerman

Terjadi transformasi kajian Islam di Jerman: dari kajian tentang manuskrip (teks-teks kuno) ke kajian tentang manusia (sosial humaniora).

Pada awalnya, peneliti Jerman tentang Islam berkonsentrasi pada penelaahan naskah-naskah masa lalu Islam, hingga tokoh-tokoh terkenal bermunculan, misalnya, Jacob Georg Christian Adler (1756-1834), Abraham Geiger (1810-1874), Theodor Nöldeke (1836-1930) dan Gotthelf Bergsträßer (1886-1933).

Tradisi orientalis klasik itu masih dilestarikan hingga kini. Akademi Ilmu Pengetahuan Berlin (Berlin-Brandenburgischen Akademie der Wissechaften), misalnya, membuka  lembaga bernama Corpus Coranicum, yang khusus mengkaji ragam teks awal Al-Quran, berikut ragam cara pembacaan dan penafsirannya. (Baca: Zainul Maarif, “Keragaman Al-Quran: Penelitian Al-Quran di Jerman“, Syiar Nusantara, 13 Juli 2018).

Universitas Hamburg juga membuka The Centre for the Studies of Manuscript Cultures (CSMC) yang mengembangkan kajian klasik tentang naskah kuno: dari sekadar kajian perkawasan dengan satu disiplin menuju kajian komparatif lintas kawasan (Asia, Afrika, Eropa dan lain-lain) dan interdisipliner (filologi, sosiologi, antropologi, filsafat dan lain-lain)

Akhir-akhir ini, kajian akademis, yang berkutat dengan teks Islam masa lalu itu, diperkuat dengan kajian tentang muslim masa kini. Gelombang kehadiran muslim ke Jerman pada tahun 1960an dan 2015an menjadi salah satu faktor pengubahan orientasi itu. (Baca: Zainul Maarif, “Kehadiran Muslim di Jerman“, Syiar Nusantara, 9 Juli 2018)

Muslims in Germany

ZMO (Zentrum Moderner Orient), misalnya, menyematkan kata “moderner (kekinian)” di samping kata “orient (timur)” di namanya. Nama itu selaras dengan penelitian para peneliti di lembaga yang menginduk pada Leibniz Association itu, yaitu lebih mengarah pada penelitian tentang kondisi Timur kekinian. Misalnya, Abdoulaye Sounaye meneliti tentang Salafisme di Afrika Selatan masa kini. Katrina Lange meneliti sumber daya alam di Timur Tengah, Afrika dan Asia kontemporer.

Freie Universität Berlin juga punya kecenderungan sama. Profesor-profesor di Berlin Graduate School Muslim Culture and Societies, di Freie Universität Berlin, yang dipimpin oleh Prof. Gudrun Krämer, cenderung mengarah ke hal ihwal muslim kekinian. Prof. Kerstin Hünefeld, misalnya, fokus meneliti masalah Syiria yang bergejolak sambil menjadi dosen tamu di Institut of Islamic Studies, Freie Universitas itu. Prof. Torsten Tschacher, sebagai contoh lain, adalah profesor di Freie Universität tentang budaya dan masyarakat Islam di Asia Selatan, di samping fasih membahas masalah tasawuf. (baca: Zainul Maarif, “Kajian Keislaman di Freie University, Berlin, Jerman“, Syiar Nusantara, 14 Juli 2018)

Kajian Islam dan Muslim kekinian itu senafas dengan kebutuhan Jerman masa kini. Jerman menghadapi kehadiran muslim yang masif, yang sebagian mereka menganut Islam yang tidak berjejak di bumi Jerman, melainkan tetap mengawang dan kembali ke kampung halaman mereka, dan pada tataran tertentu, menimbulkan persoalan. Pribumi Jerman merasa ada tamu yang disambut baik, tapi kurang peduli dengan tuan rumah berikut tanah yang dijejaknya, dan pada tataran tertentu bisa membuat onar ketika terpengaruh gagasan transnasional. (Baca: Zainul Maarif, “Islam dan Bangsa di Jerman dan Indonesia“, Syiar Nusantara, 24 Juli 2018)

Problem kekinian itu menimbulkan perubahan aksentuasi lslamic studies di Jerman: dari kajian tentang naskah Islam ke kajian tentang muslim. (Baca:  Zainul Maarif, “Teologi Islam di Universitas Hamburg, Jerman“, Syiar Nusantara, 17 Juli 2018).

Apakah kajian tentang hal-hal klasik semacam filsafat Islam sudah tidak dilirik lagi di Jerman? Tentu saja tidak. Jerman tetaplah the land of ideas (tanah  gagasan), sehingga pemikiran-pemikiran dan teks-teks klasik tetap diteliti dengan tekun oleh para peneliti yang dibiayai penuh oleh Jerman. Misalnya, Prof. Peter Adamson (Munich University) tetap tekun meneliti, mengajar dan membimbing mahasiswa di bidang filsafat Islam.

Tapi, saat ini, kajian kekinian tentang Islam yang lebih dibutuhkan Jerman, sebagaimana terungkap dalam obrolan personal dengan direktur Goethe Institute. Kalaupun kajian kekinian itu ditopang dengan kajian teks Islam klasik, sangat memungkinkan.

Anda yang ingin studi tentang Islam di Jerman diharapkan dapat gambaran umum dari paparan singkat di atas tentang apa yang mungkin Anda teliti di Jerman. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top