Connect with us

Revitalisasi Dakwah Kita: Refleksi Pesan Nabi pada Muadz bin Jabal

SUARA

Revitalisasi Dakwah Kita: Refleksi Pesan Nabi pada Muadz bin Jabal

Pada 7 Juni 1990, Prof. M. Quraish Shihab (Ustaz Quraish) menulis “Strategi dan Pelaksanaan Dakwah Menjelang Tahun 2000”yang kemudian dimuat dalam bukunya yang berjudul “”Membumikan” Al-Quran” dengan judul “Strategi Dakwah Tahun 2000”. Ia menyebut apa yang akan dimulai di 10 tahun ke depan dari artikel itu ditulis dengan diksi “menjelang”, seolah menyiratkan pesan bahwa dakwah sangat butuh waktu, karenanya dibutuhkan sebuah komitmen, strategi, dan kesabaran yang ekstra.

Dalam riwayat Ibnu Abbas, Nabi Nuh saja dikisahkan berdakwah selama 950 tahun dan hanya mendapat tak lebih dari 80 pengikut dalam bahteranya. Karena memang, sebagaimana diamanatkan QS. Al-Maidah: 92, tugas rasul saja (apalagi “cuma” da’i) adalah menyampaikan: masuk dalam proses dakwah dengan terang dan –sebagaimana pesan QS. Al-Baqarah: 272- mengenai hasilnya (mereka mengikuti atau murka) itu adalah hak preogratif Tuhan dan karenanya menjadi urusan yang bersangkutan dengan Tuhan.

Kini, 28 tahun setelah artikel itu ditulis, salah satu yang dikhawatirkan Ustaz Quraish benar-benar terjadi: maraknya da’iyang belum siap namun “berani” berdakwah sehingga menimbulkan lahirnya kelompok kecil yang “menyempal” dari masyarakat Islam. Bahkan, ironisnya, mereka yang menyempal itu kian nyaring hingga justru berani menuduh Prof. M. Quraish Shihab ‘lah yang menyempal.

Dalam catatan artikel itu, di tahun 1965 di Jakarta konon hanya berdiri 500 masjid. Dan, saat artikel itu ditulis, konon menurut Ustaz Quraish ada lebih 2000 masjid di Jakarta, tanpa memasukkan yang ada di kantor-kantor, mall-mall, dan perumahan-perumahan. Kini, ekskalasinya tentu berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus persen dari itu.

Namun, itu aspek lahiriah dari apa yang disinyalir sebagai “kemajuan” Islam. Tapi, apa itu berbanding lurus dengan kemajuan dakwah Islam secara substansial? Tak sedikit yang meragukannya, melihat justru mundurnya kualitas keberislaman kita: jumud, takfir, sentimen, sarat ketakutan, dan lain-lain. Bahkan, Survei terbaru yang diselenggarakan kerjasama P3M dan Rumah Kebangsaan terhadap 100 masjid di kementerian, lembaga negara, dan BUMN memverifikasi keraguan kita itu, yakni 41 masjid terindikasi radikal.

Dakwah itu metode, untuk mengajak manusia ke “bahtera” Islam sebagaimana secara eksplisit dipertunjukkan oleh Nabi Nuh. Karena itu, kata KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) di salah satu episode talkshow“Mata Najwa”, tak usah jauh-jauh, da’i itu belajar pada kernek bus saja cukup. Di mana mereka begitu berakhlak dalam menawarkan busnya agar penumpang sudi naik.

Maka, perlu kiranya kini kita mengevaluasi kembali strategi dakwah kita ke depan. Dari mana kita berangkat? Tentu, tak ada yang lebih sempurna dari meneladani strategi dakwah Nabi Muhammad. Sejak awal, sebagaimana dijelaskan secara gamblang dalam amanatnya kepada para pendakwah Islam pertama ke Yaman dari kalangan sahabat Nabi (yang termuat dalam Bukhari-Muslim), yakni Muadz bin Jabal. Nabi berpesan agar mendakwahkan Islam sebagai kabar gembira dan bukan membuat sedih atau takut, serta mempermudah dan bukan menyulitkan.

Dua poin itu yang hilang dari niat, semangat, strategi, dan visi sebagian dakwah Islam selama ini. Lihatlah bagaimana dakwah Islam selama ini, baik di dunia Islam global maupun Indonesia secara khusus. Bagaimana dakwah Islam menjadi kabar yang menyedihkan, juga menakutkan. Baca atau tonton video pengakuan orang Indonesia mantan simpatisan ISIS yang berhasil kembali ke sini, betapa mengerikannya mereka yang mengatasnamakan Islam itu dalam berdakwah. Dalam konteks Indonesia, dengan kampanye “hijrah”, dakwah mencerabut seseorang dari komunitasnya, menjauhkannya, bahkan mencibir serta menuduh dengan tuduhan-tuduhan yang memprihatinkan. Dari yang terkecil, seperti seorang istri yang harus berpisah dengan suaminya sebagai konsekuensi hijrah. Lain lagi mereka yang dituntut menegaskan keislamannya yang baru sebagai muallaf dengan mencibir iman dan agamanya yang sebelumnya serta orang-orangnya yang sebelumnya dekat dengannya. Lalu mereka yang harus meninggalkan budaya Nusantara dengan label bid’ah atau syirik, termasuk berkhianat pada NKRI sebagai “rumah bersama” kita. Hingga yang terbesar, atas nama berislam secara kaffah,kita tinggalkan urusan dunia lantaran kesalahkaprahan kita akan konsep zuhud.

Maka, saatnya kita merevitalisasi dakwah kita, menjadi sebagaimana diajarkan Nabi pada Muadz.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top