Connect with us

Jerman Mendambakan Semacam Islam Nusantara

MARJA

Jerman Mendambakan Semacam Islam Nusantara

Jerman mengharapkan Islam yang ada di di Jerman adalah Islam ala Jerman. Maka dari itu, tak berlebihan jika dikatakan bahwa Jerman mendambakan semacam “Islam Nusantara” di Jerman.

Saat ini, Islam di Jerman bernuansa negara-negara asal muslim yang hadir di Jerman. Menurut catatan Goethe Institute, muslim di Jerman berasal dari Turki (50, 6 %), Timur Tengah (17, 1 %), Eropa Tenggara (11, 5 %), Asia Tenggara (8, 2 %), Afrika Utara (5, 8 %), Afrika Bagian Selatan (2, 5 %), Asia Tengah (2, 4 %) dan Iran (1, 9 %). Muslim dari beragam kawasan itu menampakkan Islam ala kawasan masing-masing.

Seperti tercatat di tulisan “Islam dan Bangsa di Jerman dan Indonesia“, masing-masing komunitas muslim di Jerman mendirikan masjid khas bangsa masing-masing. Muslim-muslim Turki membangun masjid Turki. Imam utamanya didatangkan dari Turki. Khutbah Jumatnya dengan bahasa Turki. Sementara sebagian jamaahnya tidak bisa berbahasa Jerman, dan masih mengidentifikasi sebagai orang Turki, meski sebagian telah berwarganegara Jerman, atau berkewarganegaraan ganda.

Hal serupa juga terjadi pada komunitas muslim di Jerman yang berasal dari Arab, Iran, bekas negara Yugoslavia dan lain-lain. Muslim-muslim itu menampilkan Islam ala asal-usul mereka dan menggunakan bahasa kampung halaman mereka, sehingga tampak “tak berjejak” di bumi Jerman.

Pada awalnya, pemerintah Jerman membiarkan fenomena muslim di Jerman itu, karena Jerman adalah negara sekular yang netral terhadap semua kepercayaan dan membebakannya. (Lih., Zainul Maarif, “Sekularisme Jerman dan Islam“, Syiar Nusantara, 21 Juli 2018). Tapi, setelah kejadian 9/11 di Amerika Serikat dan kemunculan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) yang bisa merekrut 300an muslim dari Jerman, maka pemerintah Jerman mulai lebih memperhatikan muslim di Jerman.

Salah seorang wakil rakyat Federal Jerman mengatakan, “Kami terlambat dalam memperhatikan kehidupan muslim di Jerman”. Better late than never. Maka, Jerman mulai lebih memperhatikan muslim. Bentuk perhatian pemerintah Jerman antara lain dengan menggiatkan lembaga penelitian dan pendidikan mengenai Islam dan Muslim.

Sebagaimana terungkap di tulisan “Dari Manuskrip ke Manusia: Objek Kajian Islam di Jerman“, beberapa kampus dan institusi penelitian berkonsentrasi di bidang muslim kontemporer. Misalnya, ZMO (Zentrum Moderner Orient) di Berlin dan Berlin Graduate School Muslim Culture and Societies, di Freie Universität Berlin.

Lebih dari itu, beberapa universitas juga berupaya memberi pelatihan kepada imam-imam masjid dari berbagai bangsa di Jerman, supaya lebih moderat dan menyelaraskan Islam dengan Jerman. Misalnya, Universität Hamburg mempersilakan para profesor teologi Islam untuk menyelenggarakan pelatihan itu. (Baca: Zainul Maarif, “Teologi Islam di Universitas Hamburg, Jerman“, Syiar Nusantara, 17 Juli 2018)

Jerman, dengan begitu, mendambakan semacam “Islam Nusantara” hadir di Jerman: yaitu Islam yang damai dan mendamaikan serta berjejak kuat dengan bangsa dan negara setempat. Jika Jerman mendambakan semacam “Islam Nusantara”, akankah muslim Indonesia memusuhi Islam Nusantara ataukah justru mempraktekkannya dan menyebarkan esensinya ke seluruh dunia?[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top