Connect with us

Fikih Kontekstual untuk Jerman dan Tempat Lain

MARJA

Fikih Kontekstual untuk Jerman dan Tempat Lain

Setiap ruang dan waktu punya fikih tertentu. Setiap fikih punya ruang dan waktu tertentu. Demikianlah prinsip dasar fikih kontekstual. Di Jerman, fikih yang berprinsip sedemikian rupa bisa dialami secara praktis.

Republik Federal Jerman (Bundesrepublic Deutschland) adalah negara di Eropa Barat yang mengalami siang lebih panjang daripada malam di musim panas, sehingga jadwal shalatnya pun unik jika dibandingkan dengan Indonesia.

Contohnya, di awal bulan bulan Ramadan tahun 1439 H./2018 M., yaitu tanggal 17 Mei 2018, jadwal adzan di Berlin, ibu kota Jerman, sebagai berikut: Subuh pukul 02:40. Zhuhur pukul 13:03. Ashar pukul 17:18. Maghrib pukul 21:00. Isya pukul 23:14.

Jarak antara subuh hingga maghrib mencapai 19  jam kurang 20 menit. Isya mendekati tengah malam. Jarak antara isya dan subuh 3 jam lebih 31 menit. Bagaimana muslim di sana menjalankan puasa dan shalat?

Di Berlin, umat Islam asal Indonesia puasa seperti biasa: dari subuh sampai maghrib. Untuk shalat, mereka mengikuti fatwa yang dikeluarkan komunitas Sunni Turki di Jerman yang membolehkan penggabungan shalat magrib dan isya’ (jama’) meski tidak dalam perjalanan. “Setelah azan maghrib, kami ta’jil (membatalkan puasa), lalu shalat jama’ maghrib dan isya, kemudian makan besar, lantas shalat tarawih”, kata ketua Indonesische Weisheit un Kultur Zentrum (IWKZ) alias Masjid Al-Falah (Masjid warga Indonesia di Berlin) saat berdialog dengan para peserta program studi “Life of Muslims in Germany” 2018.

Muslim di Jerman masih “beruntung” karena masih mengalami malam sekitar empat jam di musim panas. Muslim di kawasan yang dekat dengan Kutub Utara, seperti Norwegia dan Swedia, kerap mengalami 24 jam bersama matahari. Bagaimana mereka menjalankan puasa dan shalat?

Tentang puasa, Islam Web memfatwakan muslim di sana tetap puasa sebagaimana tertera dalam QS. Al-Baqarah: 183, 185 dan 187, yaitu tak makan dan minum sejak “benang putih dan hitam terbedakan di kala fajar” hingga “malam”, tepatnya mulai matahari terbenam. Sekiranya tak kuat puasa di antara waktu itu, maka muslim di sana dipersilakan berbuka lalu menggantinya di hari lain.

Fatwa tersebut menempatkan muslim di dekat Kutub Utara untuk melakukan “semacam puasa Pati Geni” selama sebulan penuh. Dibilang “semacam puasa Pati Geni” karena puasa Pati Geni ala orang Jawa diiringi kondisi tak boleh tidur selama 24 jam, dan biasanya hanya dilakukan sehari setelah puasa Mutih (puasa berbuka nasi putih dan air putih saja) selama sepekan. Di pihak lain, puasa Ramadan di dekat Kutub Utara di musim “selalu” bermatahari adalah puasa yang mendekati 24 jam tiap hari selama sebulan, yang tanpa keharusan tanpa tidur. Puasa tersebut tentu berat, dan fatwa di Islam Web tadi tidak memuaskan, karena cenderung sulit untuk dilakukan.

Fatwa di Islam Web itu mengacukan kondisi tidak normal pada kondisi normal, sehingga tidak relevan. Bagaimana mufti di situ akan menentukan shalat isya, jika kitab-kitab fikih arus utama menyatakan waktu isya dimulai ketika mega menghilang, sementara di kawasan Kutub Utara, mega kadang tidak menghilang, lalu tiba-tiba fajar menyingsing?

Diperlukan fatwa dan fikih yang lebih kontekstual, tak hanya bagi kawasan Kutub Utara dan Jerman, tapi bagi semua kawasan. Fikih yang berlaku di kawasan Hijaz (sekarang disebut dengan Saudi Arabia), misalnya, belum tentu cocok untuk Indonesia, apalagi untuk kawasan Kutub Utara. Maka dari itu, tak mengherankan bila imam Syafi’i memunculkan qaul jadîd (fikih Mesir) setelah qaul qadîm (fikih Iraq).

Selaras dengan rumusan awal tulisan ini bahwa “setiap ruang dan waktu punya fikih tertentu; setiap fikih punya ruang dan waktu tertentu”, maka fikih kontekstual adalah “conditio sine qua non” (syarat mutlak) bagi universalitas Islam. Tanpa fikih kontekstual, Islam tidak bisa dikatakan sebagai agama yang cocok untuk berbagai ruang dan waktu (shâlihun li kulli zamân wa makân). Dengan begitu, fikih konstekstual yang dinamis harus terus- menerus dipikirkan, sementara fikih tekstual yang jumud sepatutnya ditinggalkan. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top