Connect with us

Islam di Indonesia dalam Formasi NU dan Muhammadiyah

Artikel

Islam di Indonesia dalam Formasi NU dan Muhammadiyah

Eksistensi Islam itu sholih li kulli zaman wa makan (cocok untuk semua waktu dan ruang). Eksistensi itu tentu baru mendapat tantangan pasca-Nabi Muhammad, ketika Islam mulai menyebar ke berbagai kawasan dan melintasi rentang waktu.

Tentu, itu tantangan besar. Bukan hanya karena memang tak mudah merealisasikan eksistensi itu, tapi juga karena tantangan itu baru relevan justru saat pembawa Islam itu sendiri wafat. Ibarat kata, umat Islam justru mendapat salah satu tantangan terbesarnya saat imamnya telah tiada.

Bagaimana merespon tantangan itu? Berbagai ceramah dan tulisan dibuat oleh ulama dan sarjana-sarjana Islam. Pembentukan berbagai metodologi, bahkan hingga menjadi mazhab dengan ragam pendekatannya masing-masing di berbagai keilmuan Islam: akidah, ilmu Qur’an-Sunnah, fikih, dan lain-lain adalah bagian dari upaya menjawa tantangan itu. Kuncinya adalah memahami teks dan konteks secara kuat. Sebab, tanpa pemahaman teks yang kuat, Islam hanya akan menjadi jargon tanpa isi. Adapun bila tanpa memahami konteks, Islam akan jumud (terbelakang). Rumusnya adalah memisahkan bagian-bagian dari Islam yang substansif (qoth’i)dan ijtihadiy (memungkinkan perubahan). Yang disebut kedua yang kemudian diadaptasikan dengan waktu dan ruang, dengan catatan bahwa proses pengadaptasian tersebut tak boleh melenceng, menyalahi, apalagi membentur yang substansif.

Dalam kancah keislaman di Indonesia, suatu anugerah, dua peran utama Islam itu “dimainkan” oleh dua organisasi masyarakat Islam di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Meskipun, klasifikasi ini tentu mengandung risiko generalisir dan simplifikasi. Namun, kita mengacu pada peran utama dan terbesar yang dimainkan oleh keduanya, minimal pada akhirnya mengacu pada dua jargon yang diusung oleh keduanya dalam muktamar terakhirnya.

Muhammadiyah menjadi gerakan yang mengambil peran menyesuaikan Islam dengan perguliran waktu. Mereka menjadi gerakan modernis yang terus berpacu mendorong agar Islam tak tergilas oleh pergerakan zaman yang terus membaru. Oleh karena itu, pembaruan (tajdid) menjadi prinsip gerakan ini. Akhirnya, dalam Muktamar ke-47 di Makassar pada 2015, Muhammadiyah mengusung tema “Islam Berkemajuan” yang meneguhkan perannya sebagai organisasi Islam yang memainkan peran agar Islam terus maju dan beradaptasi dengan zaman.

Sedangkan NU menjadi gerakan yang mengambil peran menyesuaikan Islam dengan ruang berupa Indonesia itu sendiri. Mereka menjadi gerakan tradisionalis yang terus berijtihad dalam mengadaptasikan nilai-nilai Islam yang substansif dengan nilai-nilai kebudayaan Indonesia. Puncaknya, pada Muktamar ke-33 di Jombang pada 2015 juga, NU mengusung tema “Islam Nusantara” yang meneguhkan peran yang memang dimainkannya sejak awal.

Maka, jika Islam di Indonesia kita ibaratkan sebagai garuda, Muhammadiyah dan NU kini mengambil peran sebagai dua sayapnya: sayap sholih li zaman dan sayap sholih li makan. Tanpa keduanya, Islam di Indonesia akan jumud dan kehilangan jati dirinya.

Sebab, sampai kapanpun, tantangan Islam di Indonesia adalah keindonesiaan dan kemodernan. Upaya menafsirkan Islam dengan keindonesiaan dan kemodernan saja tak cukup. Sebab, jika hanya itu tantangannya, di negara-negara muslim lainnya dan oleh tokoh-tokohnya, hal itu telah dilakukan. Namun, tetaplah bahwa tafsir itu butuh wadah untuk kemudian diimplementasikan menjadi gerakan nyata. Dan wadah itu adalah Muhammadiyah dan NU.

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top