Connect with us

Kita Semua “Orang Besar” di Mata Nabi, Kok Malah Anonim!

SUARA

Kita Semua “Orang Besar” di Mata Nabi, Kok Malah Anonim!

Nabi Muhammad mengajarkan, dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Ibn Umar: “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungtawaban atas kepemimpinan kalian.”

Hadis ini substansinya bisa ditafsirkan bukan hanya tentang kepemimpinan, yakni bahwa setiap orang adalah pemimpin dalam lanskapnya tersendiri, baik kecil maupun besar dalam pandangan manusia yang sejatinya dalam pandangan Allah kuantitas itu tak signifikan melainkan kualitas (kepemimpinannya) yang penting.

Melainkan bahwa hadis itu bisa ditafsirkan berisi pengajaran agar kita selalu berpikir besar layaknya seorang pemimpin. Mengapa? Agar bertindak besar pula!

Seorang yang berpikir besar, maka pastilah ia akan bertindak besar, baik lisan maupun tangannya. Misalnya, seorang presiden akan begitu mempertimbangkan matang ketika akan nge-tweetdalam akun media sosial pribadinya. Sebab, ia sadar bahwa tweet­-nya akan dibaca, diamati, dan pada akhirnya berpengaruh, baik positif maupun negatif yang muaranya adalah tanggapan hingga sikap yang positif atau negatif pula dari rakyatnya. Kebesaran berpikir akan menghasilkan ketinggian kesadaran akan tanggung jawab.

Sebaliknya, orang yang berpikir kecil, ia takkan begitu mempertimbangkan saat hendak bercakap atau bertindak. Apalagi sekadar nge-tweet. Karena itu, di era keterbukaan zaman digital seperti sekarang, begitu sesak media sosial akan tweet, status, atau apapun jenisnya yang begitu rendah mutunya, bahkan negatif: penuh kebencian, fitnah, dan lain-lain. Karena taka da kesadaran akan tanggung jawab. “Toh aku bukan siapa-siapa yang followersnya cuma hitungan jari,” pikirnya. Takkan banyak yang baca. Kalaupun baca, takkan diperhatikan. Kalaupun diperhatikan, takkan direspon. Dan begitu seterusnya ia berpikir kerdil.

Terlebih jika kita memakai akun anonim. Nauzubillah!

Maka, Islam mengajarkan pada setiap kita untuk memaknai kepemimpinan bukan kuantitas (tingginya jabatan atau pengaruh), melainkan kualitas (mutu ucapan dan sikap). Dengan begitu, Islam mendorong kita untuk selalu berpikir besar. Sehingga, pada akhirnya kita akan memiliki kesadaran tinggi akan tanggung jawab yang muaranya adalah kebijaksanaan.

Contoh yang lebih konkrit. Kalau Anda berpikir bahwa suatu hari Anda akan jadi orang besar, maka Anda akan berhati-hati dalam nge-tweet misalnya, karena Anda kuatir jejak digital Anda akan menjadi ganjalan bagi tangga Anda menuju kebesaran diri Anda, baik jabatan, status sosial, atau apapun juga. Sebaliknya, Anda justru akan melalukan berbagai tindakan untuk menunjang masa depan Anda yang di pikiran Anda akan menjadi “orang besar”. Contoh konkritnya, misalnya Anda akan memburu centang biru untuk akun Anda di Twitter. Selain tentunya selalu nge-tweetdengan penuh pertimbangan, argumentasi, dan kewibawaan untuk menunjukkan kebijaksanaan Anda.

Maka, di era digital ini, ada relevansi baru dari hadis di atas bahwa jangankan anonim, pola pikir kecil saja tak diperbolehkan dalam Islam karena bisa menggiring pada sikap tak bertanggung jawab.

Sehingga, cobalah untuk berpikir besar agar Anda berucap dan bertindak besar pula yang tentu itu akan penuh pertanggungjawaban yang artinya akan bijaksana. Karena, pada dasarnya, setiap Anda adalah “orang besar” dan akan dimintai pertanggungjawaban atas “kebesaran” itu. Sebuah tweet kita yang “orang kecil” ini mungkin kecil di mata manusia karena manusia hanya melihat dari jabatan dan segala yang merupakan tampak luar saja. Namun, sejatinya ia besar di mata Allah karena akan dihitung di “Hari Perhitungan” kelak. Sebagaimana diamanatkan Al-Qur’an, bahwa sesuatu sekecil apapun aka nada pertanggungjawabannya. Di sanalah letak kualitas kebesarannya, meski kecil kuantitasnya karena kita “orang kecil”.

Anda tentu sering mendengar ceramah atau membaca ulasan tentang bagaimana “orang kecil” terjamin keselamatannya di akhirat karena tindakan-tindakan kecil di mata manusia, misalnya seorang pelacur yang memberi minum snjing yang kehausan.

Hargai kebesaran setiap Anda yang itu anugerah Tuhan pada kita yang disampaikan oleh Nabi-Nya. Kok malah anonim?!

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top