Connect with us

Kewalian Gus Dur

Buku

Kewalian Gus Dur

Di hari lahir Gus Dur (4 Agustus/7 September), tulisan Gus Dur atau tulisan tentang Gus Dur patut ditelaah. Pembacaan atas catatan (tentang) Gus Dur penting dilakukan untuk mengambil pelajaran bahkan melanjutkan perjuangan Bapak Pluralisme Indonesia itu. Pasalnya, Indonesia adalah negara bangsa yang majemuk yang kerap kali diusik oleh isu yang bisa mengoyak keragaman. Karena itu, membaca hal ihwal tokoh pejuang kebhinnekaan Indonesia papan atas itu urgen.

Salah satu buku tentang Gus Dur yang patut dibaca adalah buku Bukti-Bukti Gus Dur Wali, karya Ahmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin, yang diterbitkan oleh Reneebook, Jakarta, dan telah dicetak 5 kali sejak tahun 2014 hingga 2016.

Buku yang berisi 99 kesaksian tentang kewalian Gus Dur dari sahabat, orang dekat, kolega dan keluarganya itu dibagi menjadi sembilan bagian. Bagian pertamanya tentang fenomena kewalian Gus Dur. Bagian keduanya tentang komunikasi Gus Dur dengan para wali. Bagian ketiganya tentang karamah Gus Dur. Bagian keempatnya tentang pengetahuan futuristik Gus Dur. Bagian kelimanya tentang keistimewaan Gus Dur. Bagian keenamnya tentang kedekatan Gus Dur dengan rakyat. Bagian ketujuhnya tentang Gus Dur menjadi presiden Republik Indonesia. Bagian kedelapannya tentang Gus Dur dan keluarganya. Bagian kesembilan tentang Gus Dur yang dipuji dan dimusuhi.

Angka yang dihadirkan buku itu tampak simbolik. 99 identik dengan asmaul husna (nama-nama Allah swt.). 9 identik dengan bintang di lambang Nahdlatul Ulama’ (organisasi muslim yang didirikan kakek Gus Dur dan pernah dipimpin Gus Dur). 9 juga identik dengan Wali Songo: sembilan penyebar Islam damai di Nusantara.

Mengenai wali dan asmaul husna, gagasan Ibn Arabi patut disimak; khususnya, buku Ibn Arabi yang berjudul Kasyf al-Ma’na an Sirri al-Asma’ al-Husna. Di buku yang telah diterjemahkan dan dikomentari oleh Zainul Maarif, lalu diterbitkan oleh Turos Pustaka, Jakarta dengan judul Rahasia Asmaul Husna (2015) itu, Ibn Arabi menyatakan bahwa asmaul husna tak sekedar nama-nama Tuhan untuk berzikir, melainkan nilai-nilai ideal yang sepatutnya dilaksanakan oleh manusia semampunya, sesuai perintah Nabi “takhallaqû bi ahlâqi allâh” (berperilakulah dengan perilaku Tuhan).

Orang yang sanggup mengejawantahkan perilaku Tuhan yang tercermin dalam asmaul husna akan dekat dengan Tuhan. Wali, secara literal, berarti “teman”: yang dekat dengan Tuhan. Menceritakan Gus Dur dengan angka-angka yang identik dengan asmaul husna dan Wali Songo, menguatkan hipotesis buku tentang Gus Dur itu bahwa Gus Dur adalah wali.

Nama asli Gus Dur adalah  “Abdurrahman”. Artinya, Hamba Yang Maha Pengasih. Sejauh Tuhan itu Maha Pengasih yang memberikan kasih ke semua makhluk-Nya, Gus Dur hingga akhir hayatnya selalu menebarkan kasih ke semua orang melampaui sekat-sekat SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).

Gus Dur, dengan begitu, meniru tindakan Tuhan. Peniruan Gus Dur atas tindakan Tuhan sekemampuan Gus Dur menjadikan Gus Dur potensial dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan disebut dengan waliyullah (teman Allah). Sejauh Gus Dur selalu berusaha meniru tindakan Allah yang penuh kasih lintas batas, maka Gus Dur insyaallah adalah waliyullah.

Mayoritas muslim Indonesia yang berafiliasi pada NU (Nahdlatul Ulama’), baik secara struktural maupun kultural, percaya bahwa Gus Dur adalah waliyullah. Tapi, apakah hanya orang-orang NU yang mempercayai kewalian Gus Dur? Ternyata tidak.

Orang-orang non-NU bahkan non-Muslim pun percaya bahwa Gus Dur adalah wali,  misalnya Prof. Dr. Frans Magnis Suseno. Rohaniawan dan filsuf Katholik, yang berasal dari Jerman namun telah menjadi warga negara Indonesia itu, menulis testimoni di buku Bukti-Bukti Gus Dur Wali sebagai berikut: “Orang yang dengan wibawa dan yakin; dan dengan tidak kenal rasa takut, mencerahkan umatnya agar menghayati jalan Tuhan dengan lebih benar adalah seorang wali. Jelas, Gus Dur seorang wali”.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Buku

To Top