Connect with us

Jerman Menerapkan HAM ala Islam

MARJA

Jerman Menerapkan HAM ala Islam

Jerman adalah negara bangsa yang “Islami”, walaupun bukan negara bangsa Islam. Demikianlah tesis yang dilontarkan tulisan “Jerman yang ‘Islami’ meski bukan Islam” dengan beberapa bukti. Di tulisan ini, bukti lain akan diutarakan dengan menjadikan “adl-dlarûriyât al-khamsah” (Hak Asasi Manusia [HAM] ala Islam) sebagai paramater keislamian Jerman.

Di buku Al-Muwâfaqât, Asy-Syathibi mengungkapkan bahwa pondasi hukum Islam adalah perlindungan atas lima kebutuhan dasar manusia (adl-dlarûriyât al-khamsah). Lima hal tersebut adalah hifzh an-nafs (perlindungan terhadap jiwa), hifzh al-‘aql (perlindungan terhadap akal), hifzh ad-dîn (perlindungan terhadap agama), hifzh al-‘irdl (perlindungan terhadap kehormatan) dan hifzh al-mâl (perlindungan terhadap harta).

Islam melindungi nyawa manusia. Secara tegas, Al-Quran menyatakan: “Man qatala nafsan bi ghairi nafsin fa kaannamâ qatala an-nâsa jamî’an wa man ahyâhâ fa kaannamâ ahyannâsa jamî’an (barang siapa membunuh seorang manusia [tanpa alasan yang dibenarkan], sama dengan membunuh semua manusia. Barang siapa menghidupi seorang manusia sama dengan menghidupi semua manusia).”

Jerman menerapkan ajaran Quran itu dengan baik. Para penjahat Nazi yang bertanggung jawab membantai orang-orang Yahudi, diadili dan diberi hukuman setimpal. Pelaku kejahatan manusia itu tidak dibiarkan begitu saja, sehingga tragedi serupa NAZI lebih bisa diharapkan tak berulang di Jerman. Korban-korban Nazi pun dimanusiakan: nama baiknya dikembalikan dan diberi santunan. Apakah Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim dan punya tragedi 1965 dan 1998, melakukan apa yang dilakukan Jerman itu? Nyatanya tidak.

Jerman tak hanya melindungi nyawa manusia dan memanusiakannya di masa lampau, tapi juga di masa kini. Para pengungsi dari konflik di Syiria berlarian ke Jerman. Meski para pengungsi tersebut muslim, mereka tidak pergi ke negara-negara muslim yang kaya, seperti Kuwait, Qatar, dan UEA. Mereka memilih Jerman yang lebih memanusiakan para pengungsi daripada negara-negara yang dimayoritasi “saudara seiman” mereka itu.

Di Jerman, para pengungsi itu tak hanya ditampung dan diberi makan, tapi juga diberi kemampuan bertahan hidup: diberi fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta diberi uang dan kesempatan untuk bekerja dan hidup ala orang Jerman. Hal itu terkait dengan bagaimana Jerman melindungi nyawa ala adl-dlaruriyât al-khamsah.

Jerman juga melindungi akal dengan baik. Sementara Al-Quran menyuruh siapa saja untuk berpikir dan meneliti apa saja, bangsa Jerman melaksanakannya. Akibatnya, bangsa Jerman menghasilkan para filsuf istimewa, seperti Kant dan Hegel. Hingga kini, penelitian apa saja dibiayai tanpa dipersekusi sekiranya menghasilkan pernyataan kontroversial. Contohnya, Corpus Coranicum meneliti teks-teks awal Al-Quran abad pertama hijriyah, yang potensial memunculkan beragam bacaan dan tafsiran atas Al-Quran, tapi tak dianggap kontroversial di Jerman. (Tentang Corpus Coranicum, baca: Zainul Maarif, “Keragaman Al-Quran: Penelitian Al-Quran di Jerman“, Syiar Nusantara, 13 Juli 2018) Mengapa demikian? Karena kebebasan berpikir dan meneliti dilindungi di Jerman. Bukankah itu selaras dengan perintah Al-Quran seperti afalâ ta’qulûn? (Tidakkah kalian berpikir?)

Jerman juga melindungi keyakinan apapun, sebagaimana Islam menjamin kebebasan beragama. Di Al-Quran, Allah swt. berfirman: “lakum dînukum waliya dîn (bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku)”. Allah juga berfirman: “fa man syâ’a falyu’min wa man syâ’ fal yakfur (Yang ingin beriman, silakan beriman. Yang ingin inkar, silakan ingkar)”, karena Allah juga berfirman “lâ ikrâha fiddîn (tidak ada paksaan dalam agama)”.

Agama itu dianut secara suka rela, dan siapapun boleh menjalankan keyakinannya. Prinsip tersebut dijalankan di Jerman. Jerman netral terhadap semua agama, dan membebaskan siapapun untuk beragama/bertuhan atau pun tidak. Dengan demikian, berbagai ekspresi keberislaman bisa hidup di Jerman, baik itu Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Alevi, Islam Liberal dan lain-lain. Di negara bermayoritas Islam, kelompok-kelompok muslim minoritas sulit untuk hidup tenang (misalnya Ahmadiyah). Mengapa di Jerman kelompok muslim minoritas bisa hidup damai dan berkembang, karena Jerman sesuai HAM Islam ketiga, yaitu melindungi kebebasan berkeyakinan.

Jerman juga sesuai dengan sisi keempat adl-dlaruriyât al-khamsah, yaitu hifzh al-irdl (perlindungan pada harga diri). Ajaran Islam menjaga kehormatan manusia. Karena itu, Islam melarang ghibah dan fitnah, yang bisa meruntuhkan nama baik seseorang.

Di Jerman, kehormatan diri dan individualitas dijaga. Misalnya, orang tidak bisa sembarangan mengfoto, mengvideo dan merekam orang lain tanpa izin. Saat  memulai program studi “Life of Muslims in Germany” 2018, contohnya, Goethe Institute meminta izin tertulis untuk mengambil gambar para peserta. Kedirian tiap individu dihormati. Di titik itu, bangsa Jerman melaksanakan hifzh al-irdl.

Jerman juga melaksanakan hifzh al-mâl: HAM kelima ala Islam. Dalam Islam, hak milik pribadi dijaga. Sehingga, pencurian dan tindakan yang merugikan orang lain dilarang. Salah satu bentuk perlindungan atas harta individu di Jerman adalah penerapan apa yang di hukum Islam disebut sebagai khiyâr: hak pembeli untuk mengembalikan barang yang telah dibeli sekiranya tidak cocok.

Di Jerman, khiyâr diselenggarakan tak hanya di toko besar dan untuk barang yang mahal. Toko kecil menerapkan khiyâr. Barang yang tak begitu mahal pun berkelindan dengan khiyâr.

Paparan di atas menunjukkan bahwa bangsa Jerman menerapkan adl-dlarûriyât al-khamsah. Jika HAM ala Islam itu merupakan paramater “Islami”, maka tak berlebihan bila dikatakan bahwa Jerman itu “Islami” meski mayoritas penduduknya non-muslim. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top