Connect with us

Toleransi Agama di Indonesia Dinilai Lebih Baik Tahun Ini

KABAR

Toleransi Agama di Indonesia Dinilai Lebih Baik Tahun Ini

SYIARNUSANTARA.ID – Toleransi agama di tahun 2018 dinilai lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017. Hal itu karena salah satunya berkurangnya persekusi.

“Saya melihat ada kematangan (toleransi agama). Kematangan itu ditunjukkan dengan walaupun dalam persaingan yang seketat ini dan sekeras itu, dengan statement yang setajam itu tetapi tidak ada konflik berdarah dan konflik fisik yang terjadi. Di satu sisi ada kebaikan karena nggak ada konflik fisik dan jangan sampai ini keterusan dalam berpolitik,” kata Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama antar Agama dan Peradaban, Syafiq A Mughni, dalam diskusi mengenai kerukunan bangsa releksi akhir tahun dan proyeksi awal tahun, di Hotel Grand Melia, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/12/2018).

Ia mengatakan salah satu contoh berkurangnya konflik penolakan pendirian rumah ibadah dan persekusi pada kelompok minoritas. “Kalau dulu ada yang menggunakan violence untuk tujuan tertentu bisa jadi tidak jelas tujuannya tahun ini nggak ada misalnya perusakan tempat ibadah relatif tidak ada. Kemudian persekusi terhadap kelompok minorutas lebih kecil,” kata Syafiq.

Diskusi ini juga dihadiri tokoh agama, yakni Ketum Majelis Tinggi Agama Konghuchu Uung Sendana, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammaduyah Abdul Mu’ti, Ketua Konferensi Waligreja Indonesia Romo Agustinus Ulahayanan, Ketum Persekutuan Gereja Indonesia Henriette T Lebang, Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama Robikin Emhas, Krtum Pafisada Hindu Dharma Indonesia Mayjend TNI Wisnu Bawa Tenaya, Ketum Persatuan Umat Budha Indonesia Philip Widjaja.

Sama seperti Syafiq, Abdul Mu’ti berpendapat toleransi agama di tahun 2018 lebih baik dibandingkan tahun 2017. Namun ada tantangan di tahun politik dimana akan ada ujaran kebencian yang diprediksi relatif banyak terjadi.

“Saya kira merujuk berbagai riset memang menunjukkan bahwa paling tidak pada 2017 indeks toleransi menurun dibanding tahun 2016. Walupun masih dalam skala yang kategorinya baik. Tahun 2018 saya kira situasinya relatif kondusif dibandingkan tahun 2017,” ujar Abdul.

“Walaupun memang tahun 2018 2019 kita akan mempunyai tantangan yang cukup serius beberapa riset memang menunjukkan ada gejala meningkatnya hatespeech dan pelintiran kebencian menjadi fenomena dan realitas baru dimana mengalami fenomena yang tidak sederhana pada 2019,” kata Abdul.

Senada dengan Abdul, Uung mengatakan tahun 2018 toleransi agama dinilai lebih baik. Namun masih ada beberapa tantangan salah satunya soal tafsir pancasila dalam kehidupan berbangsa yang dipersoalkan, menurutnya padahal pancasila dinilai dapat mempersatukan bangsa Indonesia.

“Mengenai tafsir terhadap pancasila, saat ini sedang dipersoalkan sehingga kita sebagai bangsa mesti mulai membicarakan kembali mengenai sebenarnya bagaimana kita memaknai pancasila ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkap Abdul.

“Walaupun tentu kita sepakat bahwa Pancasila merupakan warisan dari founding parents dalam hidup berbangsa dan bernegara yang mempersatukan negara kita, karena kalau tanpa pancasila, kalau kami dari majelis tinggi agama konghucu memandang Idonesia tidak akan ada lagi. Karena adanya pancasila yang mempersatukan kita, bangsa yang majemuk ini menjadi satu kesatuan, di dalam NKRI,” ungkap Uung.

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in KABAR

To Top