Connect with us

Mencermati Perkembangan dan Pola Gerakan Salafi di PTN Jateng dan Yogya

KABAR

Mencermati Perkembangan dan Pola Gerakan Salafi di PTN Jateng dan Yogya

SYIARNUSANTARA.ID – Kendati tidak sepolitis Gerakan Tarbiyah dan Hizbut Tahrir, namun gerakan Salafi diyakini mampu menebarkan pengaruhnya di sekitar kampus. Bahkan, pada tataran tertentu bisa menjadi Salafi jihadi, meski pada umumnya mereka bergerak mentashfiyah (mempurifikasi Islam) secara kultural.

Demikian hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di enam perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa Tengah dan dua PTN di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Kedelapan PTN tersebut antara lain Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Sebelas Maret (UNS), IAIN Surakarta, Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), dan IAIN Purwokerto di Jawa Tengah, serta Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Menurut Ketua Tim Peneliti LPPM Unusia, Naeni Amanulloh, pengaruh Salafi di kampus dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) khususnya baru terasa belakangan dibandingkan dengan Jamaah Tarbiyah dan Hizbut Tahrir. “Pengaruh tersebut berasal dari sarjana alumni Universitas Islam Madinah di Arab Saudi yang baru pulang dan diperantarai oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) pada tahun 1990-an. Kehadiran generasi baru ini memperbarui gerakan Salafi yang telah dimulai lebih dari dua puluh tahun sebelumnya ketika DDII didirikan oleh M. Natsir pada tahun 1967,” kata Naeni.

Dengan mempertimbangkan peran Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), ujar Naeni, pertumbuhan awal Salafi di kampus sesungguhnya bersamaan dengan Hizbut Tahrir dan Jamaah Tarbiyah yang dipengaruhi Ikhwanul Musliminr. Berbeda dengan dua kelompok aliran tersebut, Salafi cenderung mengambil ruang dakwah di kalangan masyarakat secara umum, tidak terlalu fokus pada pengembangan gerak di dalam kampus.

Namun pada masa itu, ujarnya, di dalam LDK yang telah tumbuh di kampus-kampus umum, tiga kelompok ini masih cenderung menyatu dan sulit untuk ditegaskan perbedaannya. Ketika pada 1990-an Salafi mulai serius mengarahkan fokus pada kampus, ketiga kelompok tersebut tersegregasi. Di LIPIA, perpecahan mulai terjadi antara kelompok Salafi dan Jamaah Tarbiyah-Ikhwanul Muslimin sejak 1990-an.

Naeni menjelaskan, Salafi merupakan gerakan global yang memiliki irisan-irisan dengan dua kelompok tersebut. Secara umum Salafi merupakan identitas dasar dari kelompok-kelompok tersebut yang kesemuanya mengklaim sebagai arus yang paling otentik dalam mengamalkan Islam; mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Meskipun tumbuh dalam rentang waktu yang sama melalui LDK dan diakselerasi melalui tokoh-tokoh LIPIA, Salafi tidak memiliki wadah dakwah khusus di kalangan mahasiswa. Kegiatan-kegiatan kelompok ini tidak diwadahi dalam bentuk organisasi formal sebagaimana KAMMI untuk Jamaah Tarbiyah dan Gema Pembebasan untuk HTI.

Sebagaimana di UNY dan UGM, mereka menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di masjid kampus. Kegiatan-kegiatan Salafi ditampung di berbagai masjid-masjid lain yang berada di luar kampus seperti Masjid Pogung Dalangan (MPD), Masjid Pogung Raya (MPR), dan Masjid Al Ashri (Pogung Rejo). Karakteristik yang khas dari persebaran itu, hampir semua masjid yang berafiliasi Salafi memiliki asrama yang ditinggali oleh mahasiswa.

Menurut anggota peneliti LPPM Unusia lainnya, Dewi Anggraeni, di IAIN Purwokerto Salafi belum banyak mendapatkan jamaah. Namun kelompok ini mengarahkan fokus dakwahnya ke kalangan yang sangat khusus, yaitu mahasiswa Tarbiyah jurusan PGMI. Bersama beberapa dosen yang telah menjadi bagian jamaah, mereka mengikuti kegiatan-kegiatan halaqah di masjid-masjid sekitar kampus.

“Pola serupa dengan yang didapati di Yogyakarta. Misalnya adalah Masjid Fatimatuzzahra (Mafaza) yang terletak di dekat kampus UNSOED, Masjid Jenderal Soedirman (Masjid Kampus UNSOED), Masjid Baiturrahim yang terletak di pusat kota (Masjid Alun-alun), Masjid Jenderal Soedirman, Masjid Al-Furqon, dan lain-lain. Bahkan masjid yang dimiliki oleh Polres dan Kodim (Masjid Bhayangkara dan Masjid Wijayakusuma) yang dikelola oleh kelompok Salafi,” kata Dewi.

Sementara itu, menurut peneliti LPPM Unusia yang lain, Muhammad Nurun Najib, di lingkungan UGM, Salafi yang berkembang adalah Salafi Reformis –bukan Jihadis. Salafi dalam 1,5 dekade tarakhir menjadi salah satu gerakan dakwah Islam yang perkembangannya paling cepat di UGM. Capaian itu tak dapat dilepaskan dari perjuangan dan kepeoporan Abu Nida dan aktivis-akivis segenerasinya selama hampir dua dekade sejak 1980an.

“Mereka menyasar mahasiswa UGM dan berupaya masuk serta mewarnai berbagai organisasi intra (khususnya LDK). Tidak ada organisasi formal kemahasiswaan yang secara khusus menaungi mahasiswa beraliran Salafi. Mahasiswa beraliran Salafi masuk dan berkontestasi di LDK tingkat fakultas maupun universitas serta aktif sebagai pengurus masjid di internal UGM,” kata Najib.

Selain itu, ujarnya, mereka juga aktif menjadi pengurus masjid-masjid di sekitar UGM, Kegiatan-kegiatan masjid tersebut terintegrasi dengan agenda-agenda kajian Salafi. Indikasi kuatnya infiltrasi Salafi dalam 1,5 dekade terakhir adalah mulai maraknya perubahan penampilan/pembawaan diri civitas akademik, seperti penggunaan pakaian ala Timur Tengah –kalangan laki-laki mengenakan serban (imamah), jubah panjang (jalabiyah), celana panjang di atas mata kaki (isbal), serta memelihara jenggot (lihyah); sedangkan kalangan perempuan mengenakan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh (niqab). Penampailan atau cara berpakain seperti itu merupakan salah satu anjuran atau aturan yang dikembangkan oleh kelompok Salafi.

Tujuan dari gerakan pemikiran Salafiyah, ujar Najib, adalah agar umat Islam kembali kepada dua sumber utama pemikiran Islam, yakni kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, serta meninggalkan pendapat ulama mazhab yang tidak berlandaskan pada dua sumber ajaran tersebut. Juga memurnikan ajaran Islam dari pengaruh kepercayaan dan tasawuf yang menyesatkan, menghilangkan ajaran tasawuf yang mengkultuskan para ulama dan pemujaan kuburan para wali atau tokoh agama.

Kelompok salafi, kata Najib, lebih cenderung memfokuskan gerakan dakwahnya kepada permurnian tauhid (purifikasi),pendidikan dan akhlak melalui jalur-jalur non-politik dan sebisa mungkin menghindari permasalahan politik. Faham ajaran salafi adalah Pemurnian Islam (tasfhiyah) dalam setiap ajaran agama dari budaya dan ajaran nonIslam dalam pemahaman dan praktik serta tarbiyah terhadap bi’dah. Sebagaiamana dasar pemahaman salafi yang paling mendasar adalah mengembalikan ajaran Islam kepada generasi awal yakni sahabat, oleh karennya segala bentuk bi’dah harus dihilangkan.

“Penganut salafi sebagai puritan. Mereka cenderung tidak toleran terhadap berbagai cara pandang yang berkompetisi, dan memandang pluralitas    sebagai bentuk ancaman kontaminasi atas kebenaran sejati agamanya. Klaim kebenaran, keaslian dan keabsahan (keshahihan) puritanisme hanya ada pada kelompoknya. Akibatnya, semua kelompok pandangan dan praktik   keagamaan yang berbeda dianggap bid’ah dan bahkan musyrik atau kafir. Pandangan takfiriyah inilah yang potensial melahirkan tindakan radikal dan subjektif hingga menghalalkan teror,” kata dia.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in KABAR

To Top