Connect with us

Menyimak Sepintas Eksklusifisme Islam di PTN Jateng dan Yogya

KABAR

Menyimak Sepintas Eksklusifisme Islam di PTN Jateng dan Yogya

SYIARNUSANTARA.ID – Upaya Jamaah Tarbiyah menguasai kampus-kampus negeri seiring sejalan dengan upaya mereka menebarkan ideologi, pandangan, dan gerakan mereka di kampus-kampus PTN – khususnya PTN umum. Seiring dengan role model Jamaah Tarbiyah, yaitu Ikhwanul Muslimin di Mesir – Jamaah Tarbiyah memiliki fleksibilitas yang sangat tinggi dalam mengejawantahkan pandangan dan ideologi mereka sesuai dengan situasi dan konteks sosio-politiknya. Demikian salah satu temuan penelitian yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) di delapan PTN umum dan agama di Jawa Tengah dan Yogyakarta baru-baru ini.

Dalam penelitian tersebut, juga diungkapkan kembali sebuah fakta yang telah menjadi pengetahuan umum, yaitu bahwa bahwa inspirasi gagasan utama Tarbiyah adalah Ikhwanul Muslimin yang mengusung gagasan pan Islamisme. Dalam pandangan ini, mereka percaya bahwa Islam merupakan sebuah komprehensif (syumuliyah al-Islam), yang cukup dalam dirinya sendiri dan menjadi sistem alternatif yang dapat diterapkan dalam konstruksi kehidupan sosial-politik dan sosial-ekonomi.

Pada satu sisi, kepercayaan mereka sangat normatif. Misalnya segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini dapat dicari rujukan dan panduannya dalam Islam. Bahwa Islam, dengan demikian, harus dijadikan sebagai acuan hidup, baik dalam konteks pribadi maupun masyarakat. Istilah yang membungkus pandangan dan kepercayaan semacam itu pun sangat dikenal secara tekstual, yaitu menjadi muslim kâffah.

Untuk menjadi muslim kâffah, dalam pandangan Jamaah Tarbiyah, setiap muslim harus kembali pada kepada al Quran dan as Sunnah semurni mungkin. Kembali kepada al Quran dan as Sunnah, artinya menjadi muslim yang sesungguhnya. Model puritanisme ini mendorong Tarbiyah untuk mendekati Al-Quran dan Al-Hadits secara tekstual.

Namun, berbeda dengan golongan lain yang mengklaim hal yang sama – yaitu kembali ke al Quran dan as Sunnah, seperti Salafi atau bahkan Hizbut Tahrir – Jamaah Tarbiyah cenderung lebih luwes. Misalnya, dalam temuan penelitian LPPM UNUSIA, kader-kader Jamaah Tarbiyah banyak yang mengaku berlatar belakang NU atau Muhammadiyah. Mereka merasa tidak ada masalah dalam menjalankan ritual-ritual yang telah mereka lakukan di lingkungan sosio-religius asal mereka. Misalnya membaca yasin. Temuan ini kurang-lebih senada dengan kecenderungan terkini PKS, partai yang dibentuk kader-kader Jamaah Tarbiyah dan Forum Silaturahmi LDK, yang tampak mendekati kelompok-kelompok keagamaan tradisional dengan menyelenggarakan lomba baca Kitab Kuning.

Fleksibilitas pendekatan tersebut bagaimanapun tidak menyentuh prinsip dan tujuan utama Jamaah Tarbiyah yang kurang lebih hendak mewujudkan sebuah bangsa/masyarakat dan negara yang Islami, sesuai syariat Islam. Arah menuju cita-cita tersebut dapat dilihat dalam pola dan praktik kepemimpinan yang dijalankan oleh kader-kader muda Jamaah Tarbiyah di kampus-kampus.

Pada tahun 1998, faksi Jamaah Tarbiyah di Forum Silaturahmi LDK membentuk KAMMI dalam pertemuan nasional di Malang. Deklarasi KAMMI atau Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim tersebut, bagaimanapun, tidak didukung secara bulat oleh seluruh unsur aktivis FSLDK yang berasal dari berbagai kampus di tanah air. Namun, kelahiran KAMMI lebih dari dua dekade yang lalu, terbukti menciptakan warna khas yang sangat tegas dalam corak politik dan kepemerintahan mahasiswa atau BEM, khususnya di kampus-kampus umum negeri. Sebabnya, hampir selama dua dekade terakhir, KAMMI berhasil menjadi aktor politik yang paling kuat dalam kontestasi politik mahasiswa di kampus-kampus umum negeri. Tidak terkecuali di UNDIP, UNNES, UNY, UGM, UNS, dan UNSOED.

Mengutip judul disertasi Yon Machmudi (2008), agenda “Islamisasi Indonesia” tampaknya digerakkan dan dimulai dari kampus oleh kader-kader Jamaah Tarbiyah, khususnya oleh kader-kader KAMMI yang menjabat sebagai tokoh-tokoh kunci struktur pemerintahan mahasiswa. Islamisasi, berbeda dengan Hizbut Tahrir yang menghendaki ‘khilafah Islamiyah sekarang juga’, dikerjakan melalui pendidikan kader yang sangat serius serta melalui penguasaan lembaga-lembaga strategis kampus. Islamisasi dilakukan secara gradual.

Tarbiyah tidak menolak sistem demokrasi dan kepartaian. Sebaliknya, mereka dengan sadar masuk ke dalam arus demokrasi dengan membuat partai-partai politik. Demikian di tingkat nasional, demikian pula di level kampus. Partai-partai yang terafiliasi dengan Tarbiyah/KAMMI, telah jamak dikenal di UGM dan UNS – dua kampus yang menggunakan sistem partai dalam pemilihan presiden mahasiswa. Misalnya Partai Bunderan di UGM serta partai Asmara, Kemaki, dan Gerbang di UNS. Selain itu, kader-kader Jamaah Tarbiyah banyak yang telah menduduki pos-pos penting di level pimpinan Universitas; termasuk di lembaga-lembaga kajian strategis.

Melalui pos-pos tersebut, ‘Islamisasi’ digerakkan. Contoh-contoh kecil namun penting dapat diajukan. Misalnya, kecenderungan presiden BEM dari partai-partai mahasiswa Islam di atas yang tidak mengucapkan pernyataan selamat hari raya agama selain Islam; mencemooh mereka yang tidak berjilbab ketika kampanye politik; wacana tentang keharusan pimpinan pemerintahan mahasiswa yang harus Muslim dan anti pemimpin perempuan; isu ‘the winner takes all’ – setidaknya untuk posisi-posisi kunci. Contoh-contoh ‘kecil’ tersebut masih dapat ditambah lagi.

Dalam penelitian LPPM UNUSIA, tampak bahwa kejadian-kejadian semacam itu telah menjadi perhatian banyak kalangan di level mahasiswa. Apa yang dipersoalkan bukan terletak pada keyakinan personal seseorang, melainkan pada ekspresinya yang muncul di dalam ruang publik kampus. Dalam pertanyaan sederhana, “bagaimana seorang pejabat publik mahasiswa tidak merekognisi pluralitas agama di lingkungan kampus?”, “apabila seorang pejabat di lingkungan pemerintahan mahasiswa enggan mengucapkan selamat hari raya agama lain, bagaimana ketika ia nanti memimpin Indonesia yang beragam?”

Dus, dalam penelitiannya LPPM UNUSIA telah mencoba memetakan berbagai ragam pandangan-pandangan keagamaan, gerakan dakwah, serta proyeksi masing-masing gerakan tersebut. Salah satu poin penting dari penelitian tersebut adalah bahwa pandangan keislaman eksklusif yang diliputi oleh psikologi mayoritas tumbuh sangat kuat di dalam kampus. Pandangan eksklusif tersebut akan terus tumbuh dan menjadi kekuatan dominan satu-satunya yang, boleh jadi di masa yang akan datang, merepresentasi Islam kampus. Dalam konteks inilah, perhatian terhadap eksklusifisme beragama mesti menjadi perhatian seluruh pihak.

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in KABAR

To Top