Connect with us

Mengapa Islam Eksklusif Dapat Berkembang di Kampus?

SUARA

Mengapa Islam Eksklusif Dapat Berkembang di Kampus?

Oleh: Muhammad Nurul Huda, M.Si. *)

Secara Umum dapat dikatakan bahwa penyebab munculnya “Islam eksklusif” di kampus adalah ”pandangan dunia keislaman tertentu” yang diilhami oleh ide-ide pemahaman Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT) dan aliran Wahhabisme atau yang serupa yang dianut oleh insan kampus, khususnya kalangan mahasiswa. Pandangan dunia itu bertendensi membuat pengikutnya, atau mereka yang terpengaruh olehnya, untuk bersikap eksklusif atau bertindak intoleran.

Penjelasan itu lebih memadai ketimbang anggapan bahwa “identitas keagamaan yang kuat” atau “lemahnya literasi dalam bermedia” adalah penyebab dari ekslusivisme atau intoleransi muslim. Penjelasan yang terakhir ini sangat lemah dan tidak menghasilkan generalisasi teoritik. Terutama bila ia dihadapkan pada fakta bahwa anggota atau kader organisasi atau gerakan dakwah yang lain seperti KMNU, IMM, PMII, HMI atau MATAN (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah) memiliki identitas keagamaan yang kuat pula, namun itu tidak dengan sendirinya membuat mereka bersikap eksklusif atau intoleran. Selain itu, banyak para aktifis Gerakan Tarbiyah yang memiliki tingkat literasi tinggi dan tak sedikit pula aktifis Gema Pembebasan dan Salafi-Wahabi yang berpendidikan tinggi, namun mereka justeru bersikap eksklusif dan intoleran dalam kondisi-kondisi transfaktual.

Banyak hal di dunia ini yang bisa membuat seseorang atau kelompok orang bersikap eksklusif atau intoleran. Tapi keliru bila “identitas keagamaan yang kuat” atau “lemahnya literasi dalam bermedia” dianggap menjadi penyebab seorang muslim bersikap eksklusif atau bertindak intoleran. Sikap eksklusif atau intoleran yang bersifat “keislaman” (Islam eksklusif) mestilah berasal dari mekanisme generatif yang bersifat intrinsik dalam “pandangan dunia atau kepercayaan keislaman tertentu” seperti dikemukakan atau yang serupa yang dianut, diikuti, diyakini seorang muslim atau kelompok muslim. Namun pertanyaan penting yang harus dijawab adalah, mengapa gerakan Islam eksklusif dapat berkembang di kampus?

Pertanyaan tersebut juga dijawab oleh temuan riset LPPM. Untuk menjelaskan secara baik mengenai “kondisi-kondisi yang memungkinkan pandangan dunia keislaman ala HTI, IM, dan Salafi-Wahabisme bisa berkembang pesat di kampus”, riset ini berupaya menemukan moda kombinasi atau interartikulasi yang memproduksi perkembangan pandangan dunia keislaman tersebut dalam sejumlah konjungtur yang spesifik berdasarkan mekanisme generatif institusional yang sudah diketahui.

Itu berarti periset harus mengidentifikasi kondisi-kondisi kontekstual determinan yang melahirkan mekanisme-mekanisme produksi perkembangan tiga gerakan dakwah Islam kampus (disingkat GDK) di PT-PT yang diteliti, yakni Tarbiyah yang terafiliasi dengan IM, Salafi-Wahabi yang terafiliasi dengan Wahhabisme, dan Gema Pembebasan yang terafiliasi dengan Hizbut Tahrir.

Sebagai suatu organisasi atau gerakan, GDK merupakan konfigurasi terstruktur orang-orang yang meyakini ‘pandangan dunia keislaman tertentu’ sebagaimana telah dikemukakan, atau relasi-relasi peran antarorang-orang seperti itu, yang membentuk aktivitas-aktivitas atau konfigurasi aktivitas yang berbasis norma. Kekuatan kausal GDK terletak pada sistem organisasional dan unit-unitnya yang lebih dari sekadar individu-individu belaka. Oleh karena itu, para aktifis atau anggota GDK adalah “corporate agents” atau pelaku-pelaku dalam relasinya dengan konfigurasi struktural atau relasional tersebut. Tanpa semua itu, GDK tidak bisa mereproduksi dirinya sendiri atau bahkan untuk bertahan eksis. Keberadaannya, dengan demikian, tidak tergantung pada keputusan legal-yuridis formal yang bersifat eksternal. Bisa saja mereka dibatasi reproduksinya secara eksternal, tetapi konfigurasi struktural atau relasional gerakan itu sendiri tetap bisa eksis secara non-legal atau nama formal.

Riset LPPM mengidentifikasi kondisi-kondisi atau mekanisme-mekanisme sosial seperti itu secara luas dan pengaruh-pengaruh kausal yang memungkinkan berkembangnya GDK di kampus-kampus yang diselidiki. Berdasarkan analisis terhadap setting kelembagaan kampus secara umum dan kasus-kasus kamparatif yang diselidiki, hasil riset ini menunjukkan pengaruh-pengaruh kausal antar-aneka potensi dan kekuatan kausal pada level berbeda yang saling berinteraksi. Dinamika-dinamika kausal yang terjadi merupakan dasar yang memungkinkan/melancarkan atau menghambat/menangkal perkembangan GDK di kampus-kampus.

Potensi dan kekuatan kausal yang dimaksud adalah: (a) rutinitas-rutinitas normatif dan konfigurasi organisasional dalam kelembagaan GDK secara internal; dan (b) norma-norma dan aturan-aturan ekstra-organisasional dan sistem organisasional kampus.

Rutinitas Normatif dan Konfigurasi Organisasional GDK

Potensi dan kekuatan normatif GDK terlihat dari pola-pola kegiatan para aktifisnya yang masih eksis, yang mengkonstitusi mekanisme-mekanisme kelembagaan masing-masing yang bersifat khas. Penelitian LPPM menunjukkan bahwa gerakan GDK di 8 kampus yang diteliti secara aktif dan  rutin melakukan aktivitas sosialisasi baik secara langsung maupun media sosial, rekrutmen terhadap mahasiswa baru, proses kaderisasi dan pelatihan-pelatihan, serta liqo’-liqo’ (pengajian) baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Selain itu, narasi-narasi maupun materi-materi yang mereka sajikan mencerminkan pandangan dunia keislaman yang mereka yakini. Khusus untuk Gerakan Tarbiyah, mekanisme-mekanisme kelembagaan ini berlangsung secara sistematis, terstruktur, dan masif yang memungkinnya untuk mereproduksi dirinya secara signifikan.

Selain norma-norma internal tersebut, relasi peran antar anggota GDK memiliki peranan penting yang membuat para aktifis atau anggotanya bekerjasama antar satu sama lain. Seperti mesin, ia memproduksi efek. GDK yang diselidiki dalam penelitian ini terstruktur secara organisasional yang terdiri dari ketua dan seterusnya serta unit-unit bidang yang dikepalai oleh orang-orang dengan peran-peran khusus serta para anggota, keberadaannya secara keseluruhan menggerakkan aktivitas-aktivitas atau mekanisme-mekanisme organisasional. Kekuatan kausal ini “memaksa” para anggota baru yang direkrut untuk menyetujui peran yang diterima dan pergantian peran dapat terjadi pada anggota tersebut berdasarkan relasi-relasi posisional.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa GDK memiliki kekuatan dan potensi yang berbeda-beda untuk mereproduksi dirinya. Kekuatan itu ditentukan oleh jumlah anggota dan penguasaannya terhadap lembaga-lembaga kemahasiswaan formal di kampus, seperti Lembaga Dakwah Kampus (LDK) atau Unit Kerohanian Islam dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Gerakan Tarbiyah menguasai sebagian besar lembaga-lembaga dakwah kampus di PT yang diteliti, bahkan para aktifisnya memimpin BEM. Penguasaan terhadap lembaga-lembaga formal kampus ini membuatnya punya kekuatan kausal yang lebih besar ketimbang gerakan Salafi atau Gema Pembebasan, baik untuk melakukan perekrutan atau mempengaruhi kebijakan-kebijakan kemahasiswaan yang menguntungkan organisasi dan gerakan mereka.

Norma dan Aturan Ekstra-organisasional dan Sistem-sistem Organisasional Kampus sebagai Penghambat/Pelancar GDK

Perkembangan GDK di kampus sangat ditentukan oleh norma dan aturan yang berjalan di PT. Setiap PT memiliki norma dan aturan yang menentukan cara bersikap dan bertindak para civitas akademikanya, termasuk mahasiswa, dan semua unit atau lembaga formal kampus. Mengingat semua mahasiswa, termasuk yang tergabung dalam GDK, adalah bagian dari civitas akademika, maka kerangka normatif dan aturan itu berlaku secara menyeluruh.  Ini berarti perkembangan GDK sangat ditentukan secara ekstra-organisasional oleh kerangka normatif kependidikan nasional dan aturan/kebijakan kelembagaan PT yang bersangkutan. Aturan maupun norma-norma ini memiliki peranan apakah membuka, memungkinkan, menjamin dan seterusnya, ataukah sebaliknya membatasi, menghambat, menangkal dan seterusnya terhadap perkembangan GDK.

Hasil penelitian LPPM menunjukkan bahwa norma-norma dan aturan PT belum tentu berjalan secara efektif. Umpamanya UU Sisdiknas menyatakan bahwa “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (pasal 1) dan ”pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3). Berkembangnya GDK di kampus itu sendiri menunjukkan bahwa norma-norma itu tidak berjalan; sementara penegakannya secara tegas oleh pejabat kampus dapat berkonflik dengan norma-norma yang lain, misalnya “kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan” (Pasal 24).

Dengan menyelidiki posisi-posisi kelembagaan yang dijabat oleh orang-orang dalam struktur organisasi yang bersifat hierarkis baik dalam PT secara internal (Rektor sebagai pimpinan tertinggi) maupun dalam sistem kelembagaan PTN (Menteri Ristekdiktik dan Menteri Agama sebagai pimpinan tertinggi), penelitian LPPM mengidentifikasi potensi-potensi dan kekuatan-kekuatan kausal dari keseluruhan sistem tersebut. PT sebagai institusi formal memiliki peranan bagi perkembangan GDK, apakah mau membiarkan, mendiamkan, memfasilitas, mendukung dan seterusnya, ataukan membatasi, meredam, menghambat, menangkal dan seterusnya terhadap perkembangan GDK. Mereka tidak bisa mengelak atau menghindar atas peranan yang dimainkan mengingat kekuatan kausal yang dimiliki oleh para pejabat kampus atau pejabat Kemenristekdikti dan Kemenag terkait berdasar posisi-posisi mereka.

Sejumlah pimpinan PT seperti UGM, UNY, UNDIP, UNNES, UNS, UNSOED dan IAIN Purwokerto menunjukkan bahwa mereka telah memperagakan kekuatan kausalnya melalui pembuatan kebijakan-kebijakan baru. Umpamanya UGM memberlakukan kebijakan yang menyasar mahasiwa, serta kebijakan yang berlaku umum untuk menghambat perkembangan GDK. Pimpinan UNDIP mengeluarkan Surat Edaran yang membatasi kehadiran penceramah-penceramah yang dianggap radikal dan pembentukan Tim Anti Radikalisme UNDIP (Timaru). Namun demikian, soal apakah kekuatan-kekuatan sistem ini bekerja efektif ataukah tidak, tergantung pada kapasitas operasionalnya (pengetahuan terhadap GDK, pelaksanaan aturan/norma, pengawasan atas pelaksanaan itu, sanksi, dll) dan dinamika yang terjadi dalam GDK itu sendiri.

Riset LPPM menunjukkan bahwa GDK beroperasi secara leluasa di masjid-masjid kampus dan lembaga-lembaga dakwah kampus tingkat fakultas, yang berarti menunjukkan lemahnya daya kapasitas penegakan norma dan aturan itu. Di pihak lain, para aktifis GDK juga bersiasat dengan memperluas jangkauan kekuatan kausal organisasionalnya dengan menyediakan kos-kos binaan dan pelatihan-pelatihan di masjid-masjid kampus atau luar kampus. Jaringan-jaringan relasional dengan senior-senior mereka yang sudah terbentuk lama baik di lembaga-lembaga politik maupun non-politik juga memungkinkan mereka memperoleh dukungan finansial.

Kesimpulan

Tulisan ini telah mengemukakan sejumlah temuan riset LPPM. Pertama, penyebab munculnya Islam eksklusif di kampus adalah ”pandangan dunia keislaman tertentu” yang diilhami oleh ide-ide pemahaman Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT) dan aliran Wahhabisme, atau yang serupa yang dianut oleh kalangan mahasiswa.

Kedua, perkembangan gerakan-gerakan dakwah Islam kampus disebabkan oleh kombinasi dari kekuatan-kekuatan kausal: (a) norma-norma dan konfigurasi kelembagaan GDK yang melalui aneka aktivitas para anggotanya secara rutin dan sistematis mereproduksi dirinya; dan (b) lemahnya realisasi norma-norma atau aturan-aturan kependidikan dan sistem kelembagaan PT. Kombinasi mekanisme-mekanisme generatif ini adalah pokok penjelas yang memungkinkan gerakan “Islam eksklusif” justeru berkembang di dalam kampus.

Kami percaya bahwa hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sebuah model untuk memberikan penjelasan yang lebih baik mengenai topik “perkembangan Islam eksklusif di kampus”. Eksplanasi kausalnya bisa ditransfer secara teoritis lintas kasus mengenai topik yang sama [].

*) Penulis adalah Ketua LPPM Unusia Jakarta

 

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top