Connect with us

Jihad yang Diterima

MARJA

Jihad yang Diterima

Tak selamanya “jihad”—dalam pengertian qitâl (perang)—itu ditolak dan tak selamanya diterima. Ada kalanya jihad didukung. Ada kalanya jihad ditolak. Dukungan pada jihad tidak hanya keluar dari pihak Muslim, tapi juga dari pihak non Muslim; sebagaimana penolakan terhadap jihad pun tak hanya muncul dari pihak non Muslim, tapi juga dari pihak Muslm.

Itu salah satu reflesi lebih lanjut atas kuliah yang diberikan oleh Dr. Suzanne Kaiser. Di hadapan para peserta program studi Life of Muslim in Germany 2018, pakar Islam di Jerman telah menyampaikan perkuliahan bertajuk “(Be-)comming Muslims” dan “Islamic Studies in Germany”. Di dua perkuliahan tersebut, jurnalis yang kerap menulis di Die Zeit dan Zenith itu menyebutkan nama Muhammad Amin Al-Husseini (1897-1974), mufti Yerussalem yang mengeluarkan fatwa yang dikenal sebagai “fatwa jihad dari Jerman”.

Al-Husseini, mufti Yerusalem

Saat memfatwakan kewajiban berjihad melawan Inggris, Al-Husseini tidak hanya didukung oleh pemerintahan Turki Utsmani, tapi juga didukung oleh pemerintahan Jerman yang menjadi aliansi Turki Utsmani di Perang Dunia. Jerman adalah negara Eropa yang dimayoritasi oleh non Muslim. Dukungan Jerman terhadap fatwa Al-Husseini tersebut menunjukkan bahwa negara Eropa dan non Muslim mungkin mendukung jihad, sebagaimana negara/kerajaan/orang Islam.

Saat itu, Inggris yang menguasai wilayah Yerusalem berkolaborasi dengan pihak Zionis untuk mulai menempatkan bani Israel di wilayah Palestina. Al-Husseini, yang notabene orang Palestina, dengan lantang mengfatwakan jihad melawan Inggris. Fatwa Jihad Al-Husseini tidak jauh berbeda dengan fatwa Jihad yang disampaikan KH. Hasyim Asy’ari, pemimpin besar Nahdlatul Ulama.

KH. Hasyim Asy’ari: pemimpin besar Nahdlatul Ulama’ dan pahlawan nasional

Ketika Belanda membonceng pasukan sekutu hendak menguasai Indonesia kembali secara umum dan Surabaya secara khusus, Kyai Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad, yang kemudian menggerakkan para santri dan arek-arek Suroboyo untuk bertempur habis-habisan di hari yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan, 10 November 1945. Resolusi jihad dari Hadratussyekh direspon positif oleh umat Islam, bahkan seluruh bangsa Indonesia, dan hasilnya pun jelas: Indonesia dapat mempertahankan kemerdekaannya dari penjajahan.

Di pihak lain, Osamah Ben Laden (ketua Al-Qaedah) dan Abu Bakar Al-Baghdadi (ketua ISIS [Islamic State of Iraq and Syiria]) juga mendengungkan jihad. Beberapa orang Islam menyambutnya dengan baik. Namun yang dilakukan simpatisan Al-Qaedah adalah bom bunuh diri, yang hanya menghasilkan kehancuran dan nama buruk bagi Islam dan umatnya. ISIS pun tak jauh berbeda dengan Al-Qaedah, merusak kawasan Iraq dan Syiria, serta mempraktekkan kembali segala kebiadaban ala Abad Pertengahan, seperti perbudakan. Tindakan Ben Laden dan Al-Baghdadi berikut para pengikut mereka berdua dikecam oleh mayoritas umat Islam dan negara-negara Eropa.

Dari kiri ke kanan: Al-Baghdadi (Pemimpin ISIS) dan Ben Laden (pemimpin Al-Qaeda)

Mengapa Resolusi Jihad Kyai Hasyim Asy’ari didukung seluruh bangsa Indonesia, bahkan fatwa Jihad Syekh Amin Al-Husseini didukung oleh Jerman, sementara fatwa jihad Ben Laden dan Al-Baghdadi tidak didukung oleh mayoritas umat Islam, apalagi oleh non Muslim dan negara Eropa seperti Jerman? Jawabannya antara lain adalah latar belakang dan hasil jihad yang disampaikan mereka.

Latar belakang Resolusi Jihad Kyai Hasyim Asy’ari adalah perlawanan terhadap upaya rekolonialisasi, yang kemudian menghasilkan kemerdekaan bangsa dan negara. Latar belakang Fatwa Jihad Syekh Amin Al-Husseini sama dengan latar belakang Resolusi Jihad Kyai Hasyim Asy’ari, meskipun hasilnya tidak sampai memerdekaan bangsa. Karena latar belakang (dan hasil) dari pernyataan kedua pemimpin spiritual Islam itu mulia, maka mayoritas umat Islam (di kawasan mereka), bahkan non Muslim (dalam hal fatwa jihad Syekh Al-Husseini) pun mendukungnya.

Di sisi lain, latar belakang kampanye jihad Ben Laden dan Al-Baghdadi adalah pandangan agama yang sempit dan  ingin menang sendiri, serta, pada titik tertentu, hanya menghasilkan kerusakan di muka bumi. Jika demikian halnya, layakkah kampanye jihad orang macam Ben Laden dan Al-Baghdadi itu  diterima dan dihidupkan kembali? []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in MARJA

To Top